Locavore – Makan Dari yang Terdekat (Oleh: Dr. Hayu S. Prabowo)

Oleh: Dr. Ir. H. Hayu S. Prabowo, Ketua Lembaga Pemuliaan Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam Majelis Ulama Indonesia (Lembaga PLH & SDA MUI)

Umar Ibnu Abi Salamah r.a. berkata, “Saya dulu adalah seorang bocah kecil yang ada dalam bimbingan (asuhan) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tangan saya (kalau makan) menjelajah semua bagian nampan. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam menegur saya, ‘Wahai bocah bacalah bismillah, makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah dari yang terdekat denganmu.’ Maka demikian seterusnya cara makan saya setelah itu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hikmah hadits tersebut dapat dimengerti lebih luas bahwa kita perlu memakan dari apa yang tersedia di sekitar kita. Karena perilaku ini akan meningkatkan Ketahanan Pangan masyarakat dengan memangkas jalur distribusi pangan. Dengan menghindari makanan impor dan memakan makanan lokal akan mengurangi dampak buruk sampah dari kerusakan pangan, packing dan re-packing serta dan penggunaan energi untuk penyimpanan dan berbagai moda transportasi untuk distribusi.

Istilah jaman now untuk mereka yang mengonsumsi bahan-bahan lokal dikenal dengan Locavore yang telah menjadi gerakan dunia. Istilah ini mengikuti istilah Carnivore adalah pemakan daging; herbivore adalah pemakan tumbuhan; omnivore adalah pemakan segala.

Locavore jika dikerjakan oleh banyak orang, akan menjadi gerakan pengurangan pemanasan global. Bagaimana bisa? Mengonsumsi makanan yang ditanam lokal akan menghemat bahan bakar dan memotong emisi gas rumah kaca yang berkontribusi terhadap pemanasan global dan perubahan iklim yang akan berdampak pada pengurangan produktivitas pertanian.

Memakan produk lokal juga tidak memerlukan banyak energi penyimpnanan serta mengurangi risiko kerusakan pangan untuk sampai ke piring kita. Sebagai contoh, memakan duren lokal akan memerlukan energi dan risiko busuk lebih kecil dibanding makan duren yang diimpor dari Thailand.

Secara umum, para pemilik lokasi percaya bahwa makanan yang ditanam secara lokal lebih segar, lebih enak, lebih bergizi, dan menyediakan makanan yang lebih sehat daripada makanan khas supermarket yang sering ditanam di pabrik peternakan, disiram dengan pupuk kimia dan pestisida, dan diangkut ratusan atau ribuan mil.

Dahulu kala, semua manusia adalah locavore, dan semua yang kita makan adalah pemberian dari Bumi. Memiliki sesuatu untuk dimakan adalah suatu berkah – jangan lupakan itu.(AK/R01/B05)

Mi’raj News Agency (MINA)