Madinah Lockdown Suatu Malam, Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam Penyelamat

Renungan Zanjabil #58

Oleh: Prof. Madya Dr. Abdurrahman HaqqiFakultas Syariah dan Hukum Universiti Islam Sultan Sharif Ali (UNISSA) Brunei Darussalam

 

PADA suatu malam ada kejadian yang membuat penduduk Kota Madinah berasa terkena rasa takut dengan suatu suara yang sangat dahsyat malam itu. Mereka kena lockdown oleh suara yang menggegarkan dan menggerunkan.

Para sahabat yang pemberani semuanya siap sedia mahu berdepan dengan kejadian menakutkan itu. Semua keluar dengan alat perang mereka masing-masing. Apa yang terjadi gerangan? Mari kita semak hadis berikut yang diriwayatkan oleh Imam Muslim.

Dari Anas bin Malik RA, dia berkata: Rasulullah SAW adalah orang yang paling berbudi tinggi, dermawan, dan pemberani. Pernah di suatu malam, penduduk Madinah dikejutkan oleh suara yang sangat dahsyat. Orang-orang kemudian pergi menuju ke arah suara tersebut.

Rasulullah SAW bertemu mereka saat hendak kembali pulang. Ternyata baginda telah mendahului mereka menuju ke arah suara tersebut. Waktu itu baginda naik kuda milik Abu Talhah, di lehernya terkalung sebuah pedang. Baginda bersabda, ‘Kalian tidak perlu takut, kalian tidak perlu takut’. Anas berkata, ‘Kami mendapatkan kuda tersebut cepat larinya padahal sebelumnya adalah kuda yang lambat berlari’.”

Keberanian Rasulullah SAW telah menyelamatkan Madinah dari kejadian yang mencekam malam itu. Ketika semua sahabat siap menuju tempat datangnya suara mereka mendapati baginda sudah pulang dari arah suara. Ertinya Rasulullah SAW telah mendahului para sahabat.

Keberanian Rasulullah SAW tidak diragui lagi. Sulit kita temukan seseorang yang begitu sempurna. Bersifat santun dan lemah lembut, namun juga memiliki keberanian. Pemaaf juga memiliki ketegasan. Sifat kasih sayang tapi juga seorang pejuang di medan perang. Sifat-sifat ini dimiliki Baginda Rasulullah SAW.

Keberanian baginda di medan perang sangatlah menyerlah. Ali bin Abi Talib ada berkata, “Aku perhatikan diri kami saat Perang Badar. Kami berlindung pada Rasulullah SAW. Baginda adalah orang yang terdekat dengan musuh dan orang yang terbanyak ditimpa kesulitan”. (HR Ahmad dan Ibnu Abi Syaibah)

Al-Bara’ bin Azib RA pernah ditanya, “Apakah kalian lari dari sisi Rasulullah SWW di Perang Hunain?” al-Bara’ menjawab, “(Ya) Akan tetapi Rasulullah SAW tidak berlari mundur, walaupun orang-orang Hawazin adalah pemanah handal. Ketika menghadapi mereka, awalnya kami berhasil memukul mundur mereka. Orang-orang pun berpaling menuju harta rampasan perang. Ternyata, mereka (suku Hawazin), dengan tiba-tiba menghujani kami dengan anak panah sehingga orang-orang (para sahabat) kalah. Aku menyaksikan Rasulullah bersama Abu Sufyan bin Harits yang memegang tali kendali keledai putih beliau. Beliau meneriakkan, “Aku seorang nabi tidak dusta. Aku putra Abdul Muththalib.” (Muttafaq Alaih)

Imam Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya mengulas, “Ini adalah puncak keberanian yang sempurna. Dalam keadaan perang sengit, pasukan tengah terpukul mundur, dan hanya dengan menunggangi keledai, haiwan yang tidak dapat berlari kencang, tidak mampu dipakai bergerak maju dan mundur untuk menyerang atau melarikan diri, baginda merempuh musuh sambil meneriakkan nama baginda. Hal itu, agar orang yang tidak mahu mengenal baginda sampai hari Kiamat sudah tahu tentang baginda.”

Ketika Rasulullah SAW melakukan tawaf di Ka’bah seorang diri dan diganggu oleh para pembesar Quraisy beberapa kali akhirnya baginda bersabda, “Dengarlah wahai orang-orang Quraisy, demi Zat yang jiwa Muhammad ada dalam genggamannya, sungguh aku datang untuk menyembelih kalian!!”

Maka kata-kata itu menjadikan para pembesar Quraisy kecut hati dan takut. Sehingga, tidak ada seorang pun dari mereka kecuali seakan-akan di atas kepalanya ada seekor burung yang hinggap”. (HR. Ahmad)

Seorang pemimpin hendaknya bersikap tenang dalam situasi mencemaskan bahkan berbahaya sekalipun. Ketika pemimpin kalut, maka rakyat pun semakin bingung dan takut.

Wallahu a’lam.

Bandar Seri Begawan, 16/05/2020. (A/AH/RS2)

Mi’raj News Agency (MINA)