Mahasiswa IPB University Raih Penghargaan Santripreneur Indonesia

(Foto: IPB University)

Bogor, MINA – Nama Dihqon Nadamist kembali menggelora di kancah nasional. Mahasiswa Pascasarjana IPB University ini mendapat penghargaan Santripreneur Award untuk kategori industri, jasa dan perdagangan.

Santripreneur Award adalah penghargaan dari Santripreneur Indonesia kepada para santri yang mendedikasikan diri di bidang bisnis dan wirausaha. Terdapat tiga kategori yang diberikan penghargaan, yaitu industri, jasa dan perdagangan; boga serta industri kreatif.

Anugerah tersebut diberikan atas dedikasi Dihqon dalam mengembangkan usahanya yang bernama Cleansheet. Sejak didirikan pada tahun 2019, Cleansheet saat ini sudah memiliki karyawan dan mitra sebanyak 56 orang, demikian keterangan pers IPB University yang diterima MINA, Selasa (5/1).

“Jumlah ini akan terus bertambah lagi. Sekarang sudah ada dua cabang yaitu di Citra Indah City Jonggol dan di Tangerang Selatan,” terang Dihqon, mahasiswa Magister Ekonomi Sumberdaya dan Lingkungan ini.

Pada Januari ini, lanjut Dihqon, akan dibuka cabang yang berlokasi di Jakarta dan Bekasi. Melalui usahanya tersebut, Dihqon berusaha membantu dan memberikan manfaat bagi anak-anak muda untuk berkembang dan mendapatkan penghasilan.

“Dengan nilai dan semangat yang dibawa Cleansheet, kami berusaha memberikan manfaat bagi yang lainnya. Kami yakin prospek ke depannya juga bagus,” terang Dihqon.

Ia pun mengajak generasi muda untuk ikut berkontribusi bagi yang lainnya. “Tetap semangat dan jangan pantang menyerah. Kita pasti bisa. Cleansheet juga masih terus berbenah dan belajar untuk terus semakin maju,” pungkasnya.

Berdayakan Masyarakat Putus Sekolah

Bermula dari pengalaman pribadinya menjadi mahasiswa penerima beasiswa Bidikmisi di IPB University dan kesulitan mencari penghasilan tambahan di sela-sela kesibukannya sehari-hari, Dihqon Nadaamist ingin membantu sesama mahasiswa Bidikmisi yang mengalami permasalahan yang sama agar tetap bisa berprestasi tapi juga bisa mandiri dengan adanya penghasilan tambahan.

Cleansheet merupakan start up yang bergerak di bidang kebersihan modern berbasis sociotechnopreneur yang memberdayakan mahasiswa Bidikmisi dan masyarakat yang putus sekolah.

Dihqon menjelaskan, untuk mahasiswa Bidikmisi, pekerjaannya masih part time sehingga tidak menganggu aktivitas kuliahnya. Sedangkan untuk masyarakat yang putus sekolah bekerja penuh waktu atau full time.

“Jam operasional start up kami dari jam 08.00 pagi sampai jam 17.00, tapi kalau sedang mendesak, bisa sampai jam 22.00,” ungkap Dihqon. Working space Cleansheet ada di Babakan Tengah, Dramaga, Bogor.

Pengguna jasa Cleansheet, lanjut Dihqon, sangat bervariasi, tapi memang target pasarnya adalah perusahaan, instansi, dosen, mahasiswa, pekerja kantoran dan perumahan modern.

Terkait harga, Cleansheet mematok harga dari 60 sampai 300 ribu rupiah. Harga ini sangat ditentukan oleh luas area atau lokasi yang akan dibersihkan.

“Harganya bermacam-macam, tergantung luas dan layanan yang akan digunakan. Itupun juga tergantung tenaga kerja yang terjun ke lapangan, kalau mahasiswa yang turun, biasanya dikerjakan ramai-ramai jadi banyak tenaga. Tapi harganya masih tergolong normal untuk layanan seperti ini,” tambah Dihqon.

Untuk menggunakan layanan Cleansheet, pengguna jasa dapat melakukan booking melalui website atau akun media sosial Cleansheet. Saat ini Cleansheet sedang mengembangkan layanan yang berbasis aplikasi sehingga masyarakat dapat menggunakan layanan tersebut.

“Selain jasa bersih-bersih, kami juga memiliki jasa laundry sepatu, tas dan helm. Kami juga menjual alat-alat kebersihan di working space kami,” pungkas Dihqon.(R/R1/P2)

Mi’raj News Agency (MINA)