Mahasiswa Kanada Kecam Trump Sebagai Pemicu Kekerasan

(The Guardian)

Ottawa, MINA – Sebuah kelompok mahasiswa di Kanada mengecam Presiden AS Donald Trump sebagai pemicu kekerasan dengan ucapan-ucapannya yang menyudutkan kelompok Muslim.

“Trump telah mencoba mengajukan larangan bepergian ke negara-negara Muslim dan telah menyudutkan Islam dan imigran Muslim,” bunyi pernyataan bersama persatuan mahasiswa Universitas Dalhousie di Halifax, Nova Scotia, dan Nova Scotia Public Interest Research Group pada Selasa (28/11) waktu setempat.

Menurut mereka, retorika seperti yang terjadi di Gedung Putih terbukti memicu kekerasan dan kefanatikan secara fisik.

Di antaranya adanya serangan fisik terhadap wanita Muslim berjilbab, Anadolu Agency melaporkan.

Sebagai bentuk empatinya, kelompok mahasiswa tersebut membuat program untuk menyediakan seperangkat jilbab pengganti untuk wanita Muslim yang diserang dan penutup kepala mereka dirobek.

“Kami perlu mengatasinya dengan respon fisik dan terarah,” kata pernyataan tersebut.

Dalam pernyataannya, kedua kelompok tersebut mengatakan bahwa gagasannya muncul dari diskusi mengenai serangan terhadap sebuah masjid di Kota Quebec pada bulan Januari.

Ketika itu enam orang Muslim saat shalat ditembak mati oleh seorang mahasiswa dari Universitas Laval.

Serikat mahasiswa Dalhousie dan kelompok peneliti mengatakan bahwa banyak mahasiswa yang menyatakan kekhawatirannya atas keselamatan mereka setelah serangan tersebut.

Presiden Serikat Mahasiswa Dalhousie Amina Abawajy berharap, program mereka dapat meningkatkan kesadaran masyarakat untuk menghindari kekerasan terhadap sesama.

“Kami juga memberikan dorongan terhadap umat Islam untuk merasa lebih nyaman dan melaporkan setiap kejahatan yang dialaminya,” ujarnya.

Pernyataan bersama yang juga diunggah di situs web mereka menyebutkan, selain kain kerudung dan pin, juga disertakan nomor penting untuk melaporkan kejahatan.

Ini mengingat ada kasus insiden penyerangan terhadap gadis berjilbab, tapi korban enggan untuk melaporkan kepada petugas keamanan berwenang. (T/RS2/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)