Mahathir: Kekuatan China Cegah Negara Muslim Kritik Soal Uyghur

Kuala Lumpur, MINA – Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad berterusterang mengatakan, kekuatan ekonomi dan militer China mungkin telah mencegah negara-negara Muslim termasuk Malaysia untuk mengkritik penindasan negara itu terhadap etnis minoritas Uyghur.

“Dalam kaitan kekuatan China, negara-negara Asia Tenggara juga mempertanyakan tindakan Beijing yang semakin tegas di Laut China Selatan,” lanjutnya dalam wawancara dengan BenarNews, Jumat (27/9).

Kepada layanan berita daring yang berafiliasi dengan RFA itu, Mahathir, 94 tahun,  mengindikasikan China kemungkinan besar akan mengabaikan negara-negara yang mengkritiknya.”Akibatnya sejumlah besar negara bersikap lebih baik bersikap tidak memusuhi raksasa Asia tersebut agar tidak menghadapi konsekuensi negatif,” kata Mahathir berterusterang.

Beijing dituduh menahan lebih dari 1,5 juta warga Uyghur dan minoritas Muslim lainnya di kamp-kamp interniran sejak April 2017.

 Sementara itu Mahathir sendiri yang selama ini paling vocal mendukung Islam di berbagai belahan dunia,   relatif diam mengenai penindasan Beijing di Xinjiang.

Ditanya tentang kontradiksi yang tampak dan keengganan dunia Muslim untuk mengkritik Beijing atas masalah Uyghur, Mahathir mengutip apa yang ia gambarkan sebagai kekuatan yang dimiliki oleh Tiongkok.

“Karena China adalah negara yang sangat kuat,” kata pemimpin Malaysia itu kepada BenarNews. “Anda tidak hanya mencoba dan melakukan sesuatu yang toh akan gagal, jadi lebih baik untuk menemukan beberapa cara lain yang tidak terlalu keras agar tidak terlalu memusuhi China, karena China bermanfaat bagi kita”.

“Tentu saja mereka adalah mitra dagang besar kami, dan Anda tidak ingin melakukan sesuatu yang akan gagal, dan dalam prosesnya, kami juga akan menderita,” kata Mahathir, yang tidak pernah menahan kritiknya terhadap Amerika Serikat dan kekuatan Barat lainnya atas berbagai masalah.

Kelompok-kelompok hak asasi manusia telah mengkritik Mahathir dan Organisasi Kerjasama Islam (OKI) yang beranggotakan 57 negara karena tidak tidak vokal dalam masalah Uyghur ketika negara-negara seperti Amerika Serikat menggambarkan tindakan Beijing di Xinjiang sebagai “noda abad ini.”

“Ketika bahkan para pemimpin yang blak-blakan seperti Mahathir melipat lidah mereka alih-alih mengkritik, itu menggambarkan langkah luar biasa yang diambil Tiongkok untuk mengintimidasi para kritikus baik yang dekat maupun yang jauh,” kata Phil Robertson, wakil direktur HRW untuk Asia kepada BenarNews.

“Seperti negara OKI lainnya, Malaysia runtuh di bawah tekanan ketika tiba saatnya untuk mengatakan kebenaran tentang Uyghur kepada kekuatan yang ada di Beijing. Mahathir seharusnya melawan tren ini dan mengutuk pelanggaran hak dan kebebasan beragama yang diderita oleh Uyghur,” tandasnya. (T/R11/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)