Malaysia Kutuk Serangan Brutal Israel di Masjid Al-Aqsa

Kuala Lumpur, MINA – Pemerintah Malaysia mengutuk keras serangan brutal pasukan Israel terhadap umat Islam di Masjid Al-Aqsa, kiblat pertama umat Islam yang melukai lebih dari 200 orang jamaah shalat.

“Banyak jamaah shalat terluka di Masjid Al-Aqsa. Aksi brutal pasukan Israel dengan melepaskan bom asap dan bom berbahaya serta menyerang jamaah shalat dengan peluru karet,” kata Abdul Hadi Awang, Utusan Khusus Perdana Menteri Malaysia untuk Timur Tengah dalam keterangan persnya, Sabtu (8/5).

Ia mengatakan, pasukan Israel menggelar operasi penangkapan secara luas terhadap jamaah shalat di Al-Aqsa saat mereka melaksanakan shalat tarawih di malam 10 hari terakhir bulan Ramadhan.

“Ketegangan ini disebabkan oleh Israel yang mengancam dan mengusir warga Palestina dari rumah mereka di kampung Syekh Jarrah dan melakukan tindakan merusak terhadap kampung tersebut,” tegas Abdul Hadi.

Abdul Hadi menyerukan umat Islam berdoa kepada Allah untuk warga Palestina dan Al-Quds, agar umat Islam bersatu melanjutkan aksi protes sebagai bentuk solidaritas dengan warga Al-Quds. Isu Palestina ini bukan saja isu umat Islam namun isu kemanusiaan internasional.

Ia meminta Organisasi Kerjasama Islam (OKI) dan negara Arab- Islam seluruhnya mengambil langkah tegas dan mengutuk kekejaman Israel di AL-Quds selama bulan Ramadhan.

Seluruh area Masjid Al-Aqsa baik di dalam dan pelataran hingga musala-musala berubah menjadi ajang konfrontasi dengan pasukan Israel selama Jumat lalu, menyebabkan puluhan warga terluka.

Pasukan Israel menyerbu Masjid Al-Aqsa tanpa peduli dengan jamaah yang sedangan melaksanakan shalat terawih 10 hari terakhir Ramadhan. Israel melakukan kekerasan terhadap ribuan jamaah shalat di mushola-mushola di masjid Al-Aqsa dan pelatarannnya dengan brutal menggunakan bom suara dan peluru karet.

Konfrontasi berlangsung hingga beberapa jam dan menyebabkan sebanyak 205 orang Palestina terluka, menurut laporan Bulan Sabit Merah Palestina. (T/R4/RI-1)

 

Mi’raj News Agency (MINA)