MANAJEMEN WAKTU PARA ULAMA

Ilustrasi: fanpop.com
Oleh: Rana Setiawan*

”Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal sholih dan saling menasihati supaya menaati kebenaran dan saling menasihati supaya menetapi kesabaran” (QS. Al ‘Ashr [103]:1-3).

Dalam Tafsir Ibnu Katsir, Al-‘Ashr berarti masa yang di dalamnya berbagai aktivitas anak cucu Adam berlangsung, baik dalam wujud kebaikan maupun keburukan. Dengan demikian, Allah Ta’ala telah bersumpah dengan masa tersebut bahwa manusia itu benar-benar merugi dan binasa serta memberikan pengecualian dari kerugian itu bagi orang-orang yang beriman dengan hati mereka dan mengerjakan amal sholih melalui anggota tubuhnya.

Bahkan, untuk menjelaskan keagungan dan pentingnya waktu, selain dalam ayat Al-‘Ashr, Allah telah bersumpah dengan waktu di dalam ayat-ayat-Nya yang luhur dalam konteks yang berbeda-beda. Allah telah bersumpah dengan waktu malam, siang, fajar, subuh, saat terbenamnya matahari, dan waktu dhuha. Hal itu sebagai informasi dan peringatan tentang nilai urgensitas waktu.

Waktu adalah karunia agung dan anugerah yang begitu besar. Namun, orang yang mampu memanfaatkan waktu amatlah sedikit. Kebanyakan manusia justru lalai dan tertipu dalam memanfaatkannya. Sebagaimana Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

“Dua nikmat yang banyak manusia tertipu di dalam keduanya, yaitu nikmat sehat dan waktu luang.” (HR. Bukhari).

Untuk itu, Rasulullah dan para sahabatnya senantiasa memperhatikan persoalan waktu dalam hidupnya, serta mewujudkan semua bentuk ketaatan dan meninggalkan semua yang diharamkan dalam pelaksanaan setiap aktivitasnya sesuai waktu yang tersedia.

Begitu pun para ulama yang mengikuti jejak mereka, sangat berhati-hati dalam memanfaatkan salah satu dari pokok-pokok nikmat yang agung itu sebagaimana dikutip dalam kitab “Qimtuz Zaman ‘indal ‘Ulama” karya Syaikh Abdul Fattah, dan kitab terjemahannya berjudul “Sungguh Mengagumkan Manajemen Waktu Para Ulama” (Zamzam; 2008).

Imam Ibnul Qayyim pernah menjelaskan dalam kitabnya Madarijus Salikin (III:49), “Waktu bagi seorang ahli ibadah adalah beribadah dan melantunkan wirid. Untuk seorang yang taat, waktu adalah untuk berkonsentrasi kepada Allah, dan mencurahkan seluruh jiwanya karena Allah. Waktu baginya adalah sesuatu yang paling berharga. Ia akan merasa cemburu sekali bila waktu itu berlalu begitu saja!”

Banyak dari kalangan ulama salaf yang berlomba dengan waktu untuk meraih kemuliaan agung dari Allah Ta’ala. Bahkan, Dawud Ath-Tha’I selalu menelan potongan roti yang dicelupkan ke dalam sop untuk menghemat waktu, seraya berkata, “Antara sekali menelan dan mengunyah roti perbandingannya adalah bacaan lima puluh ayat.”

Seorang ulama generasi salafus sholih lainnya, Muhammad Ibnu Suhun, memiliki seorang budak wanita yang bernama Ummu Mudam. Suatu hari, ia bertandang ke rumahnya. Saat itu beliau sibuk menulis buku di malam hari. Datanglah santap malam. Budak itu meminta izin masuk kamarnya. “Saya sedang sibuk,” ujar Muhammad. Karena terlalu lama menuggu, maka sang budak menyuapkan makanan itu ke mulut beliau sampai beliau mengunyahnya. Hal itu berlangsung lama, dan beliau tetap dalam kondisi demikian, hingga datang waktu shalat subuh.

“Maaf, Aku sangat sibuk, sehingga melupakanmu tadi malam. Wahai Ummu Mudam! Tolong berikan makanan yang engkau tawarkan tadi malam!” “Tuanku, demi Allah, Aku sudah menyuapkannya ke mulutmu,” ujar budak itu heran.”Lho, kok Aku tidak merasakannya?,” Tanya Muhammad lebih heran lagi.

Bahkan, Tsa’lab –Ahmad bin Yahya Asy-Syaibani Al-Kufi Al-Baghdadi- seorang ulama ahli nahwu, bahasa Arab, dan sastra, juga ahli di bidang ilmu hadits dan qira’at tak pernah berpisah dengan buku yang dibacanya. Jika ada orang yang mengundangnya, maka beliau memberi syarat agar diberikan lokasi kecil selingkaran saja –yakni berbentuk sejenis tikar dari kulit- yang cukup untuk meletakkan buku, agar bisa dibacanya.

Lebih dahsyat lagi, Imam Ibnu Taimiyyah Al-Jadd Majduddin Abul Barakat Abdussalam bin Abdillah bin Taimiyyah menjaga urgensi waktunya dengan model yang langka dan sulit untuk digambarkan sebagaimana dikisahkan Syaikh Abu Abdillah bin Al-Qayyim melalui cerita saudaranya Syaikh Abdurrahman bin Abdul Halim bin Taimiyyah, yang mengatakan dari bapaknya: ”Bila Al-Jadd –Majduddin Abul Barakat- masuk toilet, maka beliau berpesan ‘Bacakan kitab ini dan keraskan suaramu, agar aku mendengarnya’.”

Al-Hafizh Ibnu Rajab mengomentari dalam kitab Dzailu Thabaqatil Hanabilah (II:249-252), “Hal itu menunjukkan akan kuatnya antusias beliau terhadap ilmu, sekaligus semangat beliau untuk menggapainya, dan juga penjagaan beliau terhadap waktunya.”  

Imam Abul Wafa’ bin Aqil Al-Hanbali Ali bin Aqil Baghdadi, salah satu ulama utama, termasuk manusia jenius sangat luas wawasannya dalam berbagai ilmu juga berkata, “Tidak boleh bagiku menyia-nyiakan sesaat pun dari umurku. Jika lisanku berhenti berdzikir dan berdiskusi, dan mataku tidak digunakan membaca, maka aku gunakan pikiranku saat sedang beristirahat sambil berbaring.”

Sungguh banyak para salafus sholih yang tidak disebutkan dalam tulisan ini sangat menjaga setiap detik dari waktu yang mereka miliki. Kisah-kisah para ulama tersebut mengajarkan kita sebagai seorang muslim dituntut untuk senantiasa memperhatikan permasalahan dan tidak boleh menyia-nyiakan waktu dalam hidupnya.  

Semoga Allah memberikan taufiq-Nya kepada kita semua, sehingga kita dapat menjaga waktu dan mengisinya dengan amal sholih dan ilmu yang bermanfaat.(T/P02/E02)

 

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)

*Penulis adalah wartawan Kantor Berita Islam Mi’raj (Mi’raj Islamic News Agency – MINA). Penulis dapat dihubungi via email: [email protected])

Comments: 0