Manfaatkan Tenaga Surya Mampu Produksi Garam dalam Jumlah Besar

Banda Aceh, MINA – Petani garam tradisional di Gampong Ujong Mesjid, Kemukiman Lampanah, Kecamatan Seulimum, Kabupaten Aceh Besar, mendapat pengarahan dari ketua Aceh Geothermal Forum (AGF) tentang produksi garam menggunakan tenaga surya. Sebuah energi terbarukan hasil penelitian Fakultas MIPA Universitas Syiah Kuala Banda Aceh.

Mesin ini terdiri dari pompa air, panel surya, dan selang penyemprot sepanjang tiga meter mengarah kelangit. Menurut Suhrawardi Dosen Fakultas MIPA Fisika Unsyiah, cara kerja alat ini sangat sederhana.

Untuk cara kerja, pompa air terlebih dahulu menarik air dari sumur yang berisi air asin, selanjutnya air asin dialiri dan disemprotkan melalui pipa yang mengarah kelangit.

Butiran air yang disemprotkan dinamakan microdroplet, selanjutnya secara alami akan terpapar sinar matahari yang menghasilkan butiran garam.

“Dengan metode seperti ini, dalam sehari kita bisa menghasilkan 200 kilogram garam, jauh lebih banyak jika menggunakan cara tradisional,” kata Suhrawardi, Selasa (27/8).

Menurut Suhrawardi, ini merupakan metode ramah lingkungan. Dimana pihaknya memanfaatkan tanaga surya sebagai penggerak pompa air melalui panel surya, selanjutnya panas matahari juga dimanfaatkan sebagai penguapan air.

Selama ini, garam di Aceh bukan produksi utama, padahal Aceh memiliki garis pantai yang sangat luas, melainkan hanya sebagai mengisi kekosongan waktu warga di pesisir pantai.

Namun belakangan, mulai ada kelompok petani garam, yang menjadikan aktifitas ini sebagai mata pencaharian. Melihat hal tersebut, pihaknya menilai cara petani garam yang masih sangat tradisional tidak efesien.

Cara petani yang mengumpulkan tanah kemudian diendapkan lalu dimasak untuk menghasilkan garam membutuhkan waktu yang sangat lama dengan hasil yang sedikit.

Di pemukiman Lampanah misalnya, terdapat lebih dari 70 petani garam. Dalam sebulan, mampu menghasilkan 40 Ton garam. Namun dengan satu teknologi seperti ini, setiap petani bisa menghasilan 10 hingga 12 Ton, sehingga dengan 70 petani akan besar jumlahnya.

Hanya saja, cara yang disosialisasikan kepada petani masih sangat bergantung dengaan sinar matahari. Suhrawardi mengatakan, suhu rata-rata yang mampu menghsilkan garam dari semprotan air berkisar antara 32 hingga 36 derajat celcius.

Ketua Aceh Geotermal Forum (AGF) Fahmi menyebutkan, ini cara yang sangat efektif untuk meningkatkan volume produksi garam yang ada di pemukiman Lampanah. Selama ini, dalam satu tahun, petani hanya efektif menghasilkan garam lima bulan saja, sementara sisanya sudah memasuki musim hujan.

Namun dengan alat ini, petani bisa bekerja efektif selama tujuh bulan atau 200 hingga 210 hari dalam satu tahun. Sisa itu, petani bisa memanfaatkan terik matahari untuk tetap produksi garam.

“Kalau hujan di pagi hari, petani masih bisa produksi di siang hari, begitu juga sebaliknya,” kata Fahmi.

Hanya saja tambahnya, cara ini membutuhkan modal sebesar Rp 25 juta perpaket, namun sangat menguntungkan bagi petani baik dari segi waktu dan juga produksi garam yang besar. (L/AP/B05)

Mi’raj News Agency (MINA)