MANTAN PETINGGI INTELIJEN GEDUNG PUTIH AKUI KESALAHAN AS DALAM KONFLIK TIMTENG

Pesawat tanpa awak (drone) Amerika Serikat. (Foto: AA)
Pesawat tanpa awak (drone) Amerika Serikat. (Foto: AA)

Washington, 2 Syawal 1436/18 Juli 2015 (MINA) – Seorang mantan pejabat tinggi  intelijen militer di lingkungan Gedung Putih , telah melancarkan kritik pedas pada strategi kontra-terorisme Gedung Putih, mulai dari serangan AS pada Irak di masa Presiden Bush, sampai pada penanganan  ancaman ISIS di Irak dan Suriah, dan dalam penggunaan drone (pesawat tanpa awak) oleh militer AS di masa Presiden Obama.

Pensiunan Letnan Jenderal Michael Flynn, yang mengundurkan diri sebagai kepala Badan Intelijen Pertahanan Pentagon (DIA) pada Agustus 2014 lalu, mengatakan hal ini dalam sebuah wawancara dengan Al-Jazeera.

Berbicara tentang penggunaan pesawat drone, ia mengatakan, “harus ada pendekatan yang berbeda, tentunya” pada drone.Ketika Anda menjatuhkan bom dari sebuah drone, maka akan menyebabkan kerusakan lebih buruk ketimbang hasil yang baik,” kata Flynn, demikian IINA News melaporkan sebagaimana dikutip Mi’raj Islamic News Agency (MINA), Sabtu (18/7).

Flynn adalah seorang perwira intelijen senior yang dengan Komando Operasi Khusus Gabungan (JSOC), bertanggungjawab untuk program drone  dan program militer AS di negara-negara seperti Yaman dan Somalia.

Ditanyakan lebih lanjut oleh wartawan Al-Jazeera, Mehdi Hasan, masalah serangan pesawat tak berawak cenderung menciptakan lebih banyak teroris yang kemudian terbunuh. Flynn, yang pernah disebut sebuah media  sebagai “Bapak Sejati dari JSOC yang Modern”, menjawab: “Saya tidak setuju dengan itu, saya pikir sebagai strategi yang menyeluruh, itu adalah strategi yang gagal.”

Ia juga melancarkan kritik bahwa keikutsertaan AS dalam berbagai konfllik sering gagal. “Apa yang kita dapati adalah investasi berkelanjutan ini dalam konflik,” kata pensiunan jenderal. “Semakin banyak senjata kita beri, semakin banyak bom kita jatuhkan, baru saja … menjadi bahan bakar konflik. Beberapa yang harus dilakukan tetapi saya mencari solusi lain.”

Mengomentari munculnya ISIS di Irak, Flynn mengakui peran yang dimainkan invasi AS dan pendudukan Irak menjadi salah satu pemicu utamanya. “Kami pasti telah menempatkan bahan bakar pada sebuah api,” katanya kepada Hasan. “Benar-benar … tidak ada keraguan, sejarah tidak akan membawa kebaikan untuk keputusan yang dibuat untuk menyerang Irak pada tahun 2003 itu.”

“Pergi ke Irak, pasti itu adalah kesalahan strategis,” kata Flynn menegaskan. Perang itu dilancarjkan Presuden George Bush atas tuduhan bahwa Irak memiliki senjata pembunuh massal berdasarkan laporan intelijen, hal yang kemudian tak pernah terbukti.

Jenderal purnawirawan itu mengakui pula, sistem penjara AS di Irak pada periode pasca-perang, malahan tidak berhasil seperti yang diharapkan. “Benar-benar” membantu meradikalisasi ortang-orang Irak yang kemudian bergabung dengan Al-Qaeda di Irak (AQI) dan organisasi penggantinya, ISIS,” katanya.

Flynn juga menyerukan dituntut pertanggungjawaban lebih besar untuk tentara AS yang terlibat dalam pelanggaran terhadap tahanan Irak: “Kau tahu, saya berharap hal itu dilakukan, karena semakin banyak informasi lebih lanjut keluar tentang orang-orang yang bertanggung jawab … Sejarah tidak akan terlihat baik pada tindakan-tindakan seperi itu… dan kami akan dipenjara, kami harus dipenjara, bertanggung jawab selama bertahun-tahun yang akan datang,” katanya melankolis. (T/R05/P2)

 

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)