Mari Saling Berjabat Tangan

Oleh: Ali Farkhan Tsani, Redaktur Senior Kantor Berita Islam MINA

Dalam sebuah riwayat Ahmad dari Anas bin Malik, Nabi pernah memuji sifat orang-orang Yaman di hadapan para sahabatnya, dengan kalimat:

قَدْ جَاءَكُمْ أَهْلُ الْيَمَنِ وَهُمْ أَوَّلُ مَنْ جَاءَ بِالْمُصَافَحَةِ

Artinya: “Telah datang kepada kalian penduduk Yaman, dan merekalah orang yang pertama sekali yang melakukan berjabat tangan.” (HR Abu Daud dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘Anhu).

Dalam riwayat lain dari Anas bin Malik Radhiyallahu anhu disebutkan juga dalam redaksi lain:

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْدَمُ عَلَيْكُمْ غَدًا أَقْوَامٌ هُمْ أَرَقُّ قُلُوبًا لِلْإِسْلَامِ مِنْكُمْ قَالَ فَقَدِمَ الْأَشْعَرِيُّونَ فِيهِمْ أَبُو مُوسَى الْأَشْعَرِيُّ فَلَمَّا دَنَوْا مِنْ الْمَدِينَةِ جَعَلُوا يَرْتَجِزُونَ يَقُولُونَ : غَدًا نَلْقَى الْأَحــــِبَّهْ مُــحَمَّدًا وَحِـــزْبَهْ فَلَمَّا أَنْ قَدِمُوا تَصَافَحُوا فَكَانُوا هُمْ أَوَّلَ مَنْ أَحْدَثَ الْمُصَافَحَةَ

Artinya: “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, ‘Besok akan datang kepada kalian kaum yang hati mereka lebih lembut untuk (menerima) Islam dari pada kalian.’ Anas mengatakan, ‘Maka datanglah kabilah Asy’ariyyun, diantara mereka ada Abu Musa al-Asy’ari. Tatkala mereka telah mendekati kota Madinah, mereka melantunkan sebagian sya’irnya seraya berkata, “Besok kita akan berjumpa dengan para kekasih, Muhammad dan shahabatnya”. Tatkala mereka telah datang mereka berjabatan tangan, merekalah orang yang pertama sekali melakukan jabat tangan”. (HR Ahmad).

Kemudian setelah itu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menjadikan saling berjabat tangan ini (mushafahah) sebagai kebiasaan (sunnah) saat sesama kaum Muslim bertemu untuk berjabat tangan, di samping tentu memberi dan membalas salam.

Pada saat tertentu, seperti jika lama tak berjumpa atau pulang dari bepergian jauh, sesama kaum Muslimin pun saling berjabat tangan, bahkan berangkulan dengan akrab. Diiringi senyum ceria, sapaan hangat dan saling tertawa bahagia.

Tentang keutamaan berjabat tangan ini, disebutkan di dalam hadits:

مَا مِنْ مُسْلِمَيْنِ يَلْتَقِيَانِ فَيَتَصَافَحَانِ إِلاَّ غُفِرَ لَهُمَا قَبْلَ أَنْ يَفْتَرِقَا

Artinya: “Tidaklah dua muslim itu bertemu lantas berjabat tangan melainkan akan diampuni dosa di antara keduanya sebelum berpisah.” (HR Abu Dawud, Ibnu Majah dan At-Tirmidzi dari Al Bara’ bin ‘Azib).

Pada hadits lain disebutkan:

اِنَّ اْلمُسْلِمَ اِذَا لَقِيَ اَخَاهُ فَاَخَذَ بِيَدِهِ تَحَاتَّتْ عَنْهُمَا ذُنُوْبُهُمَا كَمَا تَتَحَاتُّ اْلوَرَقُ مِنَ الشَّجَرَةِ اْليَابِسَةِ فِى يَوْمٍ رِيْحٍ عَاصِفٍ وَ اِلاَّ غُفِرَ لَهُمَا وَلَوْ كَانَتْ ذُنُوْبُهُمَا مِثْلَ زَبَدِ اْلبَحْرِ. الطبرانى فى الكبير 6: 256، رقم: 6150، باسناد حسن

Artinya: “Sesungguhnya orang Islam itu apabila bertemu dengan saudaranya lalu memegang tangannya (berjabat tangan) maka dosa-dosa keduanya berguguran sebagaimana daun-daun pohon berguguran dari pohonnya yang kering pada waktu ditimpa angin yang kencang. Atau diampuni dosa-dosa keduanya meskipun dosa-dosa keduanya itu seperti buih di laut”. (HR Ath-Thabrani dari Salman Al-Farisiy Radhiyallahu ‘Anhu).

Apalagi, jika saling berjabat tangan itu diiringi dengan wajah yang berseri-seri, senyum merekah, ikhlas, jernih, memberi makna tiada tara bagi keduanya. Tercurahlah rasa kasih sayang, keakraban dan persaudaraan yang indah tak terperi. Hilang segala niat jelek, buruk sangka dan dendam kesumat. Berganti menjadi motivasi yang baik, positive thinking, dan rasa saling ridha.

Dan, ini bukan hal sepele, seperti dikatakan Imam An-Nawawi bahwa disunnahkan dalam berjabat tangan diiringi dengan wajah yang berseri-seri.

Di dalam hadits disebutkan:

كُلُّ مَعْرُوْفٍ صَدَقَةٌ، وَ اِنَّ مِنَ اْلمَعْرُوْفِ اَنْ تَلْقَى اَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلْقٍ، وَ اَنْ تُفْرِغَ مِنْ دَلْوِكَ فِى اِنَاءِ اَخِيْكَ

Artinya: “Setiap kebaikan adalah shadaqah, dan sesungguhnya termasuk kebaikan ialah kamu bertemu saudaramu dengan wajah yang berseri-seri, dan (termasuk kebaikan pula) kamu menuangkan air dari timbamu ke bejana saudaramu”. (HR At-Tirmidzi dari Jabir bin ‘Abdullah Radhiyallahu ‘Anhu).

لاَ يَحْقِرَنَّ اَحَدُكُمْ شَيْئًا مِنَ اْلمَعْرُوْفِ، وَ اِنْ لَمْ يَجِدْ فَلْيَلْقَ اَخَاهُ بِوَجْهٍ طَلِيْقٍ، وَ اِذَا اشْتَرَيْتَ لَحْمًا اَوْ طَبَخْتَ قِدْرًا فَاَكْثِرْ مَرَقَتَهُ وَ اغْرِفْ لِجَارِك مِنْهُ

Artinya: “Janganlah salah seorang di antara kalian meremehkan sesuatu dari kebaikan. Apabila ia tidak mendapatkan, maka hendaklah ia bertemu saudaranya dengan wajah yang berseri-seri. Dan apabila kamu membeli daging, atau memasak, maka perbanyaklah kuahnya, lalu ambilkan sebagian untuk tetanggamu”. (HR At-Tirmidzi dari Abu Dzar Radhiyallahu ‘Anhu).

Begitulah, dan memang dalam etika bergaul, secara etimologi disebutkan, berjabat tangan seperti anjuran Nabi itu, adalah dengan saling melengketkan telapak tangan dengan telapak tangan lainnya dan dengan wajah menghadap wajah, saling berhadapan. Tidak dikatakan dengan sambil lalu, asal menjabat tanpa ekspresi, apalagi sambil membuang muka.

Begitulah hikmah besar yang terkandung di dalam kegiatan berjabat tangan. Terkandung ajaran kepada umatnya untuk menghilangkan silang sengketa, saling berperkara, saling iri, dengki, benci dan dari memendam dendam.

Karena itu, alangkah indahnya manakala kita saling berjumpa naik motor dengan sesama Muslim, bukan hanya bermain klakson, apalagi dengan nada “telolet”. Namun dengan mengucapkan salam, berhenti sejenak dan saling berjabat tangan.

Demikian pula saat ayah akan berangkat kerja, ia menjabat tangan isterinya. Sang anak bila hendak berangkat sekolah, ia pun menjabat tangan ayah ibunya seraya menciumnya. Saat murid bertemu gurunya, saat bersua rekan kerja, saat berjumpa kerabatnya, dan seterusnya.

Mari saling berjabat tangan, pegang erat bukan hanya di tangan, tapi sampai ke dalam jiwa. Alhamdulillah. (RS2/R02)

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)