MASJID TERBESAR DI LAMPUNG, AN-NUBUWWAH ADOPSI KONSEP BACK TO NATURE

Para Insinyur sedang mengawasi proses penimbunan dan pemerataan tanah lantai Masjid An-Nubuwwah Muhajirun Lampung. Photo By : Hadis/MINA
Para Insinyur sedang mengawasi proses penimbunan dan pemerataan tanah lantai Masjid An-Nubuwwah Muhajirun Lampung. Photo By : Hadis/MINA
Para Insinyur sedang mengawasi proses penimbunan dan pemerataan tanah lantai Masjid An-Nubuwwah Muhajirun Lampung. Photo By : Hadis/MINA

Bandar Lampung, 30 Rabi’ul Awwal 1436/21 Januari 2015 (MINA) – Masjid terbesar di Lampung, An-Nubuwwah kini memasuki tahap penimbunan dan pemadatan tanah lantai. Konsep masjid back to nature itu disampaikan oleh Pimpinan Proyek (Pimpro), Ir. Dede Isnaini kepada Miraj Islamic News Agency (MINA) di lokasi pembangunan Komplek Pondok Pesantren Al-Fatah, Muhajirun, Negararatu, Natar, Lampung Selatan, Rabu, (21/1).

“Untuk proses arsitektur, akan menggunakan konsep back to nature, dimana nanti masjid ini tidak menggunakan Air Conditoner (AC), namun memaksimalkan fungsi keluar masuknya udara secara alami, sehingga masjid sejuk tanpa menggunakan AC,” katanya.

Menurutnya, menggunakan AC membuat sirkulasi udara tidak baik sehingga udara tidak sehat. “Banyak masjid menggunakan AC sehingga pintunya harus ditutup, ini membuat sirkulasi udara di ruangan tidak pernah berganti, dan ini tidak sehat,” tambahnya.

Ia mengharapkan, Masjid An-Nubuwwah ini tidak hanya menjadi tempat kaum muslimin menjalankan ibadah ritual semisal shalat saja. Tapi, masjid tersebut akan difungsikan sebagaimana fungsi masjid di masa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan para sahabatnya. “Saat ini, masjid ini sudah memasuki tahap penimbunan dan pemadatan tanah,” ungkapnya.

Isnaini menjelaskan, tahap awal pembangunan masjid tersebut antara lain proses sub stuktur, yang meliputi boredfile, filecup, kolom pedestal, sloop, dan sudah selesai. Sekarang masuk pada tahap penimbunan dan pemadatan tanah lantai.

Menurutnya dibutuhkan sekitar 5435 M³, atau sekitar 1812 mobil truck tanah untuk menimbun tanah lantai masjid ini.

“Baru 120 mobil yang masuk, kita gunakan eskavator untuk meratakan tanah, dan pakai wales (alat berat untuk memadatkan tanah) agar kepadatan tanahnya baik,” katanya.

Untuk target waktu penyelesaian penimbunan dan pemadatan tanah menurutnya masih terkendala hujan yang menyebabkan tanah di lokasi sulit untuk keluar masuk mobil angkutan tanah.

“Terkendala hujan sehingga mobil angkutan tanahnya sulit keluar masuk, tapi kami berharap proses ini tidak lama, karena setelah ini akan lanjut ke up structure (coran tiang sampai ke lantai tiga) ditarget selesai delapan bulan, baru masuk ke proses arsitektur.) coran dan lantai pertama,” kata nya.

Sekilas Masjid An-Nubuwwah

Masjid An-Nubuwwah terdiri dari dua lantai, dimana lantai dua akan difungsikan sebagai pusat pengetahuan dan kegiatan sosial keagamaan. Di lantai dua itu, ada 15 ruangan yang rencananya akan difungsikan untuk Kantor Berita Islami Mi’raj Islamic News Agency / MINA, kantor Lembaga Aqsa Working Group (AWG), Radio AL –Fatah, studio Shuffah ALQur’an Abdullah Bin Mas’ud (SQABM), dan sejumlah kantor lain dari majelis-majelis Jama’ah Muslimin (Hizbullah).

Selain untuk beberapa ruang kantor, masjid itu menyiapkan ruangan untuk melakukan seminar-seminar yang bersifat nasional maupun internasional. Selain menyediakan tempat seminar, masjid An-Nubuwwah juga menyediakan perpustakaan dengan menyediakan buku-buku bacaan keagamaan yang bermutu dalam bentuk fisik maupun software yang bias di akses di seluruh dunia.

Masjid An-Nubuwwah, dalam master plannya, diharapkan bisa menjadi tempat bukan hanya untuk ibadah tapi juga sebagai tempat melaksanakan berbagai aktivitas yang bersifat internasional seperti halnya seminar-seminar tentang Islam dan Palestina.

Seperti disebut sebelumnya, masjid An-Nubuwwah berlokasi di Ponpes Al-Fatah, tepatnya di Kampung Al Muhajirun selevel internasional. Disebut kampung Islam internsional karena memang di pesantren itu sudah ribuan alumni sumber daya manusia yang kini sudah mempunyai kontribusi besar di berbagai wilayah di Indonesia.

Kampung Al Muhajirun adalah kampung Islami sebab di kampong itu ada beberapa santri yang belajar di pesantren datang dari berbagai negara seperti Malaysia, Uganda, China, Italia, dan Maroko. Wali Al-Fatah yang pertama kali membidani lahirnya kampung itu sejak jauh hari sudah bermimpi agar kelak kampung Al-Muhajirun ini bisa menjadi pusat peradaban dunia, dimana seluruh umat manusia dari berbagai pelosok dunia akan mempelajari Islam di kampung ini.

Awal Berdiri Al-Fatah

Pada tahun 1994 dibangunlah Ma’had Shuffah Hizbullah dan Madrasah AL-Fatah sebagai sarana Tarbiyah/Pendidikan bagi umat Islam. Sampai sekarang banyak umat Islam Indonesia berdatangan untuk mempelajari ilmu agama di ma’had tersebut.

Alumni ma’had ini diterima di berbagai perguruan tinggi terkemuka di Indonesia. Selain itu juga diterima di perguruan tinggi luar negeri yaitu seperti di Sudan, Mesir, Saudi, Madinah, Yaman, Gaza Palestina. Alumni ma’had ini diharapkan bisa mendakwahkan Islam diseluruh dunia.

Ada beberapa program unggulan ma’had ini yakni dibidang Al-Qur’an, Halaqah Diniyyah, dan lembaga bahasa. Lembaga tahfizul Qur’an Ma’had Al-Fatah itu kini menghasilkan puluhan penghafal Al-Qur’an yang kini banyak yang sudah menjadi pengajar tahfidz di berbagai tempat di Indonesia termasuk negara tetangga yaitu Malaysia.

Sebagaimana yang diterapkan di Malaysia metode tahfidz Ma’had Al-Fatah ini bisa menghasilkan puluhan hufadz hanya dalam waktu tiga bulan. Dimana siswa dikonsentrasikan di satu tempat dengan metode tertentu sehingga bisa mencapai target hafalan dalm waktu yang relatif singkat.

Lembaga tahfidzul Qur’an ini bekerja sama dengan Fakultas Ilmu Al-Qur’an Universitas Gaza dan Darul Qur’an wa Sunnah Gaza yang sudah mempunyai sanad hafalan Al-Qur’an.

Di lingkungan ma’had itulah Masjid An–Nubuwwah berdiri dan pada tanggal 7 November 2014 lalu, peletakan batu pertama oleh H. Zulkifli Hasan, Ketua MPR RI. Masjid dengan kapasitas 6000 orang itu menurut target akan selesai dalam waktu dua tahun. Karena itu menurut Dede, untuk merampungkan masjid itu kira-kira membutuhkan dana yang tak sedikit. “Dana yang kita butuhkan itu sekitar 13 milyar,” katanya.

Ia menambahkan, bagi para dermawan yang berniat investasi amal jariyah dapat langsung ke lokasi pembangunan atau dapat juga melalui Rekening Bank BRI nomor 06600-1000-271-302, Bank Mandiri Nomor 11400-1075397-1, Bank BNI Nomor : 03558-74883, atas nama  Panitia Pembangunan Masjid An-Nubuwwah. (L/K08/R02)

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)

Comments: 0