Masjid Terbesar di Lampung Ini Sajikan Update Informasi Palestina

Al-Muhajirun, Lampung Selatan, MINA – “Sampai detik ini, sudah 200 orang dinyatakan syahid oleh Kementerian Kesehatan Palestina akibat bombardir tentara penjajah zionis israel di Gaza Palestina,” demikian dikatakan wartawan Kantor Berita Islam MINA Biro Sumatera, M. Habib Hizbullah, pada Senin (17/5) malam di hadapan jamaah masjid terbesar di Lampung, Masjid An-Nubuwwah, Komplek Kampung Islam Internasional Al-Muhajirun, Negararatu Natar Lampung Selatan.

MINA melaporkan, di masjid ini, sejak serangan tentara penjajah zionis Israel pada 10 Mei lalu, setiap bakda shalat maghrib atau isya dan shalat subuh, wartawan Kantor Berita Islam MINA, M. Habib Hizbullah dan terkadang juga Kepala Biro Sumatra, Nurhadis naik ke atas mimbar membacakan update informasi terkait kondisi yang menimpa saudara muslim di Gaza Palestina.

Kegiatan ini merupakan inisiasi DKM Masjid An-Nubuwwah bersama Kantor Berita Islam MINA Biro Sumatera, untuk memberikan informasi yang terang dan benar terkait perang yang bermula pada akhir Ramadhan lalu tersebut.

Masyarakat atau jamaah masjid memperhatikan dengan serius apa yang disampaikan oleh MINA. Tidak sedikit yang kemudian meneteskan air mata membayangkan apa yang terjadi di Gaza saat mendengarkan penjelasan-penjelasan yang dipaparkan secara lugas oleh wartawan MINA tersebut.

Kampung ini dikenal juga sebagai kampung yang masyarakatnya peduli terhadap Masjid Al-Aqsha dan Palestina. Bahkan ada beberapa hektare tanah wakaf yang ditanami pohon karet, yang kemudian hasil panennya diinfaqkan untuk perjuangan pembebasan Masjid Al-Aqsha.

Di kampung ini juga setiap tahun utamanya pada bulan Ramadhan kedatangan ulama-ulama Palestina, bahkan Imaam Masjid Al-Aqsha, namun sejak Pandemi Covid-19, para ulama Palestina belum bisa hadir kembali ke kampung ini.

Ponpes Shuffah Hizbullah dan Madrasah Al-Fatah dengan hampir 2.000 santrinya juga terletak di kampung ini. Sejak awal dibangun diniatkan oleh pendirinya sebagai pusat peradaban ilmu pengetahuan.

Itulah sebabnya sampai saat ini, tercatat ada beberapa orang bahkan muallaf dari berbagai negara pernah nyantri di sini, seperti Malaysia, Thailand, Filiphina, China, Maroko, Amerika Serikat, bahkan Italia.

Apa yang terjadi di Gaza Palestina memang patut dikabarkan kepada umat Islam di manapun berada. Hal ini sejalan dengan cita-cita pendiri kampung Al-Muhajirun ini, menyebarkan Islam yang rahmatan lil alamin, yang dirasakan rahmatnya bagi siapapun bahkan apapun.

Kepala Biro Sumatera Kantor Berita Islam MINA, Nurhadis mengatakan, kegiatan penyebaran informasi terkait Gaza Palestina ini merupakan upaya untuk memberikan keterangan informasi yang jelas dan terang benderang kepada masyarakat tentang apa yang terjadi di sana, sehingga muncul kesadaran bersama, bahwa seluruh elemen anak bangsa ini punya kewajiban membela Al-Aqsha dan Palestina.

“Membela Palestina juga merupakan amanah konstitusi, bahkan termaktub di dalam Undang-Undang Dasar 1945. bahkan lebih dari itu, Indonesia punya hutang budi di mana ulama Palestina menyerukan negara-negara Timur Tengah saat itu untuk mengakui kemerdekaan Indonesia tahun 1945,” paparnya.

Selain itu menurutnya, Presiden pertama Indonesia, Soekarno menyatakan dengan tegas bahwa Indonesia berdiri menentang penjajahan zionis Israel terhadap Palestina.

Karena itu pula Palestina diundang mengikuti Konperensi Asia-Afrika di Bandung pada tahun 1955 walau belum menjadi negara merdeka. (L/B03/P1)

Mi’raj News Agency (MINA).