Masyarakat Diimbau Waspadai Bencana di Masa Transisi Musim

Jakarta, MINA – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memperkirakan, awal musim penghujan tahun 2019-2020 di Indonesia mundur dan akan masuk pada bulan November-Desember. Puncaknya diprediksi pada Januari hingga Februari 2020.

Kepala Bidang Prediksi dan Peringatan Dini Cuaca BMKG, Miming Saepudin mengimbau masyarakat untuk mewaspadai adanya potensi ancaman bencana pada masa transisi musim atau pancaroba.

“Hal ini ditandai dengan ciri-ciri seperti angin kencang, angin puting beliung, perubahan suhu dan cuaca ekstrem, hujan es hingga gelombang tinggi di pesisir pantai dan ancaman bencana hidrometeorologi,” kata Miming dalam keterangannya yang diterima MINA di Jakarta, Senin (4/11).

Menurut perkiraan dia, wilayah Indonesia yang akan memasuki awal musim penghujan dimulai dari bagian utara seperti Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat hingga Papua bagian utara.

“Aceh dan Sumatera Utara harus siaga banjir dan tanah longsor. Puncak musim hujan diprediksi pada bulan Januari-Februari 2020. Oleh karena itu waspadai juga potensi cuaca ekstrem pada masa transisi musim (pancaroba) seperti puting beliung, hujan es, suhu ekstrem,” katanya.

Dalam satu pekan ke depan, potensi hujan diprediksi akan terjadi di sejumlah wilayah seperti provinsi seperti Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Selatan, sebagian besar Kalimantan, Sulawesi Tengah dan Papua.

Sedangkan gelombang tinggi akan terjadi di wilayah selatan dan barat daya Sumatera Selatan hingga wilayah selatan Jawa dengan perkiraan tinggi gelombang mencapai 2,5 meter. Kendati demikian BMKG masih memprediksi bahwa kondisi tersebut masih aman untuk penyeberangan laut.

Sementara itu, Kapusdatin dan Humas BNPB Agus Wibowo mengungkapkan, lembaganya telah menganggarkan dana sisa tahunan dengan total nilai Rp 850 miliar. Dana tersebut sebagai upaya dalam menghadapi bencana pada masa transisi musim dan bencana hidrometeorologi tersebut

“Dana tersebut merupakan Dana Siap Pakai (DSP) yang bisa digunakan untuk penanggulangan bencana di seluruh Indonesia hingga akhir tahun ini. Tidak hanya untuk bencana hidrometeorologi atau masa transisi musim saja, DSP ini juga berlaku untuk segala jenis bencana yang mungkin saja bisa terjadi hingga akhir tahun ini,” katanya. (T/R06/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)