Maulid Nabi, Cinta Nabi, Ikuti Nabi

Oleh : Ali Farkhan Tsani, Redaktur Senior Kantor Berita MINA (Mi’raj News Agency)

Cinta kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam merupakan konsekwensi logis dari seseorang yang ingin bersama Nabi yang dicintainya itu, sampai kelak di surga-Nya.

Seperti disebutkan dalam sebuah riwayat, tentang bagaimana ketika seorang laki-laki datang menemui Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Lalu bertanya: “Kapankah tiba hari kiamat?” Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam balik bertanya, ”Apakah yang engkau persiapkan untuk hari kiamat?” Laki-laki itu menjawab, ”Cinta kepada Allah dan Rasul-Nya.” Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pun berkata, ”Engkau akan bersama orang yang engkau cintai.” (HR Bukhari).

Cuplikan hadits di atas berbicara tentang cinta terhadap seseorang. Namun bukan sembarang cinta, bukan cinta biasa, dan bukan pula cinta kepada orang biasa. Akan tetapi cinta yang mulia kepada orang yang paling mulia di dunia dan di akhirat, yakni baginda Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Itulah cinta, yang dalam Bahasa Arab bisa disebut dengan ‘mahabbah’.

Syaikh Abdullah Nashih Ulwan menyebut Mahabbah  sebagai “Perasaan jiwa dan gejolak hati yang mendorong seseorang menyukaiai orang lain dengan penuh kasih sayang. Di antara tanda-tandanya adalah adanya rasa kagum, berharap, rela dan selalu ingat. Adapun refleksinya  adalah menurut dari apa yang diinginkan dari orang yang dicintainya itu, dan menjauhkan diri dari yang tidak disukai olehnya”.

Sastrawan Kahlil Ghibran mengatakan Mahabbah merupakan, “Kecocokan jiwa satu dengan yang lain walaupun baru sebentar. Kecocokan jiwa timbul bukan karena keakraban yang lama atau pendekatan yang tekun. Karena jika tidak ada kecocokan jiwa, cinta itu tak kan pernah tercipta walau dalam hitungan tahun bahkan abad sekalipun”.

Kalau demikian, maka menjadi relevan apabila seseorang akan dikumpulkan dengan orang yang dicintainya. Karena itu, tidaklah heran kalau kita melihat ada ribuan suporter sebuah klub kesebelasan atau fans group band ternama, yang rela berdesak-desakan di kerumunan massa, di hingar bingar suara, sampai pun di tengah guyuran hujan menerpa.Bahkan harus merogoh kocek uangnya untuk membeli tiket tanda masuk.

Tetapi karena demi cintanya kepada kesebelasan  atau band yang dicintainya itu, mereka pun rela mengorbankan apa yang dimilikinya demi cintanya.

Adapun prioritas cinta kita kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wasallam tentu selayaknya melebihi cinta kita kepada suami atau isteri, anak-anak atau orang tua, bahkan dengan yang lainnya. Termasuk dengan diri kita sendiri

Allah terangkan  dalam firman-Nya :

قُلۡ إِن كَانَ ءَابَآؤُكُمۡ وَأَبۡنَآؤُڪُمۡ وَإِخۡوَٲنُكُمۡ وَأَزۡوَٲجُكُمۡ وَعَشِيرَتُكُمۡ وَأَمۡوَٲلٌ ٱقۡتَرَفۡتُمُوهَا وَتِجَـٰرَةٌ۬ تَخۡشَوۡنَ كَسَادَهَا وَمَسَـٰكِنُ تَرۡضَوۡنَهَآ أَحَبَّ إِلَيۡڪُم مِّنَ ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ وَجِهَادٍ۬ فِى سَبِيلِهِۦ فَتَرَبَّصُواْ حَتَّىٰ يَأۡتِىَ ٱللَّهُ بِأَمۡرِهِۦ‌ۗ وَٱللَّهُ لَا يَہۡدِى ٱلۡقَوۡمَ ٱلۡفَـٰسِقِينَ

Artinya: “Katakanlah : “Jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.” (QS At-Taubah [9] : 24)

Kecocokan jiwa sebagai bara api cinta kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Karena memang beliau merupakan orang yang paling mulia akhlaknya.

Allah menyebutkan  dalam ayat:

وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ۬

Artinya: “Dan sesungguhnya kamu benar-benar berakhlak yang agung.” (QS Al-Qalam [68] : 4).

Pada ayat lain disebutkan:

لَّقَدۡ كَانَ لَكُمۡ فِى رَسُولِ ٱللَّهِ أُسۡوَةٌ حَسَنَةٌ۬ لِّمَن كَانَ يَرۡجُواْ ٱللَّهَ وَٱلۡيَوۡمَ ٱلۡأَخِرَ وَذَكَرَ ٱللَّهَ كَثِيرً۬ا

Artinya: “Sesungguhnya telah ada pada [diri] Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu [yaitu] bagi orang yang mengharap [rahmat] Allah dan [kedatangan] hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS Al-Ahzab [33] : 21)

Oleh karena itu, Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam juga adalah ikutan dalam segala kebaikan yang dapat mendapatkan rahmat dan kesejahteraan.

Allah menyebutnya di dalam ayat:

قُلۡ إِن كُنتُمۡ تُحِبُّونَ ٱللَّهَ فَٱتَّبِعُونِى يُحۡبِبۡكُمُ ٱللَّهُ وَيَغۡفِرۡ لَكُمۡ ذُنُوبَكُمۡ‌ۗ وَٱللَّهُ غَفُورٌ۬ رَّحِيمٌ۬

Artinya: Katakanlah: “Jika kamu [benar-benar] mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Ali Imran [3] : 132).

Walaupun secara fisik kita tidak pernah berjumpa dengan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Namun, kecocokan jiwa itulah yang membuat jiwa kita bertemu dengan beliau. Tumbuh cinta sejati yang melahirkan berbagai amal kebajikan, akhlak terpuji, siap selalu membela agamanya serta rela berkorban demi menghidupkan sunnahnya.

Seluruh hidup Nabi adalah untuk perjuangan menegakkan kalimatullah, tauhidullah, menyempurnakan akhlak manusia, menegakkan keadilan dan kebenaran, beramar ma’ruf nahi mungkar, mempersatukan dan mempersaudarakan umat Islam, serta menyebarkan nilai-nilai Islam yang rahmaan lil ‘alamin.

Seyogyanyalah bukti cinta kita kepada Nabi, yang antara lain diingatkan melalui peistiwa Maulid Nabi, kita wujudkan dalam keikutsertaan, ketaatan, dan pembelaan terhadap ajaran Islam yang beliau perjuangkan. Aamiin. (A/RS2/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)