Maulid Nabi, Cinta Nabi

Oleh: Ali Farkhan Tsani, Redaktur Kantor Berita MINA (Mi’raj News Agency) 

Maulid Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam atau sering disebut dengan Mauludan, adalah peringatan hari lahir Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, yang di Indonesia perayaannya jatuh pada setiap tanggal 12 Rabiul Awwal dalam Kalender Hijriyah.

Penulis tidak hendak membahas dari sisi hukum fiqhiyah dan syair-syair Al-Barzanji itu. Namun lebih ke arah pada cinta Nabi, seperti yang hendak dicapai oleh Ulama pemenang lomba syair kala itu, Ja’far Al-Barzanji Al-Madani.

Hingga dengan perayaan itu dimaksudkan sebagai wujud cinta Nabi, ittiba’ (mengikuti) Nabi, memperjuangankan ajaran Nabi, meneruskan semangat perjuangan Nabi. Seperti juga dikehendakan oleh sang penggagas musabaqah syair saat itu, Shalahuddin Al-Ayyubi.

Makna Cinta Nabi

Ya, cinta Nabi menjadi konsekwensi logis dari seseorang yang ingin bersama Nabi yang dicintainya itu, sampai kelak di surga-Nya.

Seperti disebutkan dalam sebuah riwayat, tentang bagaimana ketika seorang laki-laki datang menemui Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Lalu bertanya: “Kapankah tiba hari kiamat?” Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam balik bertanya, ”Apakah yang engkau persiapkan untuk hari kiamat?” Laki-laki itu menjawab, ”Cinta kepada Allah dan Rasul-Nya.” Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pun berkata, ”Engkau akan bersama orang yang engkau cintai.” (HR Bukhari).

Cuplikan hadits di atas berbicara tentang cinta terhadap seseorang. Namun bukan sembarang cinta, bukan cinta biasa, dan bukan pula cinta kepada orang biasa. Akan tetapi cinta yang mulia kepada orang yang paling mulia di dunia dan di akhirat, yakni baginda Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Cinta, dalam Bahasa Arab bisa disebut dengan disebut ‘mahabbah’. 

Syaikh Abdullah Nashih Ulwan menyebutnya sebagai “Perasaan jiwa dan gejolak hati yang mendorong seseorang menyukaiai orang lain dengan penuh kasih sayang. Di antara tanda-tandanya adalah adanya rasa kagum, berharap, rela dan selalu ingat. Adapun refleksinya  adalah menurut dari apa yang diinginkan dari orang yang dicintainya itu, dan menjauhkan diri dari yang tidak disukai olehnya”.

Sastrawan Kahlil Ghibran mengatakannya sebagai “Kecocokan jiwa satu dengan yang lain walaupun baru sebentar. Kecocokan jiwa timbul bukan karena keakraban yang lama atau pendekatan yang tekun. Karena jika tidak ada kecocokan jiwa, cinta itu tak kan pernah tercipta walau dalam hitungan tahun bahkan abad sekalipun”.

Kalau demikian, maka menjadi relevan apabila seseorang akan dikumpulkan dengan orang yang dicintainya. Karena itu, tidaklah heran kalau kita melihat ada ribuan suporter sebuah klub kesebelasan atau fans group band ternama, yang rela berdesak-desakkan di tengah guyuran hujan.

Bahkan harus merogoh kocek uangnya untuk membeli tiket tanda masuk. Tetapi karena demi cintanya kepada kesebelasan  atau band yang dicintainya itu, mereka pun rela mengorbankan apa yang dimilikinya demi cintanya.

Mestinya lebih dari cinta suporter kepada klub idolanya atau fans terhadap group bandnya, begitulah cinta kita sebagai umat Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Prioritas cinta kita kepada beliau selayaknya melebihi cinta kita kepada suami atau isteri, anak-anak atau orang tua, bahkan dengan yang lainnya.

Allah terangkan di dalam firman-Nya :

قُلۡ إِن كَانَ ءَابَآؤُكُمۡ وَأَبۡنَآؤُڪُمۡ وَإِخۡوَٲنُكُمۡ وَأَزۡوَٲجُكُمۡ وَعَشِيرَتُكُمۡ وَأَمۡوَٲلٌ ٱقۡتَرَفۡتُمُوهَا وَتِجَـٰرَةٌ۬ تَخۡشَوۡنَ كَسَادَهَا وَمَسَـٰكِنُ تَرۡضَوۡنَهَآ أَحَبَّ إِلَيۡڪُم مِّنَ ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ وَجِهَادٍ۬ فِى سَبِيلِهِۦ فَتَرَبَّصُواْ حَتَّىٰ يَأۡتِىَ ٱللَّهُ بِأَمۡرِهِۦ‌ۗ وَٱللَّهُ لَا يَہۡدِى ٱلۡقَوۡمَ ٱلۡفَـٰسِقِينَ

Artinya: “Katakanlah : “Jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.” (QS At-Taubah [9] : 24)

Kecocokan jiwa sebagai bara api cinta kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Karena memang beliau merupakan orang yang paling mulia akkhlaknya.

Allah menyebutnya di dalam ayat:

وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ۬

Artinya: “Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (QS Al-Qalam [68] : 4).

Pada ayat lain disebutkan:

لَّقَدۡ كَانَ لَكُمۡ فِى رَسُولِ ٱللَّهِ أُسۡوَةٌ حَسَنَةٌ۬ لِّمَن كَانَ يَرۡجُواْ ٱللَّهَ وَٱلۡيَوۡمَ ٱلۡأَخِرَ وَذَكَرَ ٱللَّهَ كَثِيرً۬ا

Artinya: “Sesungguhnya telah ada pada [diri] Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu [yaitu] bagi orang yang mengharap [rahmat] Allah dan [kedatangan] hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS Al-Ahzab [33] : 21)

Oleh karena itu, Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam juga adalah ikutan dalam segala kebaikan yang dapat mendapatkan rahmat dan kesejahteraan.

Allah menyebutnya di dalam ayat:

قُلۡ إِن كُنتُمۡ تُحِبُّونَ ٱللَّهَ فَٱتَّبِعُونِى يُحۡبِبۡكُمُ ٱللَّهُ وَيَغۡفِرۡ لَكُمۡ ذُنُوبَكُمۡ‌ۗ وَٱللَّهُ غَفُورٌ۬ رَّحِيمٌ۬

Artinya: Katakanlah: “Jika kamu [benar-benar] mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Ali Imran [3] : 132).

Walaupun secara fisik kita belum pernah berjumpa dengan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Namun, kecocokan jiwa itulah yang membuat jiwa kita bertemu dengan beliau. Tumbuh cinta sejati yang melahirkan berbagai amal kebajikan, akhlak terpuji, siap selalu membela agamanya serta rela berkorban demi menghidupkan sunnahnya.

Sekali lagi, Penulis tidak sedang mempermasalahkan Maulid Nabi. Namun lebih mempermasalahkan Cinta Nabi.

Apakah seiring dengan waktu berlalu, semakin tambah cinta kita kepada Nabi? Cinta dalam arti seluas-luasnya, setinggi-tingginya dan sedalam-dalamnya. Semoga ! (A/RS2/R01)

Mi’raj News Agency (MINA)