Melanjutkan Fastabiqul Khairat Ramadhan dengan Puasa Syawal (Oleh: Rudi Hendrik)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,

ﻭَﻟِﻜُﻞٍّ ﻭِﺟْﻬَﺔٌ ﻫُﻮَ ﻣُﻮَﻟِّﻴﻬَﺎ ﻓَﺎﺳْﺘَﺒِﻘُﻮﺍْ ﺍﻟْﺨَﻴْﺮَﺍﺕِ ﺃَﻳْﻦَ ﻣَﺎ ﺗَﻜُﻮﻧُﻮﺍْ ﻳَﺄْﺕِ ﺑِﻜُﻢُ ﺍﻟﻠّﻪُ ﺟَﻤِﻴﻌﺎً ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠّﻪَ ﻋَﻠَﻰ ﻛُﻞِّ ﺷَﻲْﺀٍ ﻗَﺪِﻳﺮٌ

Artinya, “Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah kamu (dalam berbuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada Hari Kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al-Baqarah [2] ayat 148)

Meski Ramadhan telah pergi dan Hari Raya Idul Fitri pun telah dirayakan, tetapi semangat fastabiqul khairat (berlomba-lomba dalam kebaikan) harus terus dilanjutkan.

Ketika di bulan suci Ramadhan seluruh orang beriman berlomba-lomba untuk mencapai derajat “orang paling bertakwa”, maka semangat itu harus terus dinyalakan pada sebelas bulan berikutnya, hingga rantai semangat itu tidak putus ketika Ramadhan berikutnya kembali datang.

Setelah melaksanakan ibadah berbuka, shalat Id di pagi Hari Raya, besilaturahmi dan saling maaf-memaafkan, maka ibadah utama selanjutnya yang patut diamalkan adalah puasa sunnah puasa Syawal enam hari.

Meski berstatus ibadah sunnah, tetapi ganjaran pahala yang dijanjikan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala sangat menggiurkan. Setidaknya ada lima manfaat yang bisa diraih dengan melaksanakan puasa sunnah Syawal ini.

 

Pertama, mendapat pahala seperti puasa selama setahun penuh.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

Artinya, “Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia berpuasa seperti setahun penuh.” (HR. Muslim no. 1164, dari Abu Ayyub Al Anshori)

Para ulama menghitungnya dengan dasar karena setiap kebaikan semisal dengan sepuluh kebaikan yang semisal.

Bulan Ramadhan (puasa sebulan penuh, -pen) sama dengan (berpuasa) selama sepuluh bulan (30 x 10 = 300 hari = 10 bulan) dan puasa enam hari di bulan Syawal sama dengan (berpuasa) selama dua bulan (6 x 10 = 60 hari = 2 bulan). Hal ini menurut Syarh Muslim, 4/186, Mawqi’ Al Islam, Asy Syamilah.

Jadi seolah-olah jika seseorang melaksanakan puasa Syawal dan sebelumnya berpuasa sebulan penuh di bulan Ramadhan, maka dia seperti melaksanakan puasa setahun penuh. Hal ini dikuatkan oleh sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam,

مَنْ صَامَ سِتَّةَ أَيَّامٍ بَعْدَ الْفِطْرِ كَانَ تَمَامَ السَّنَةِ

Artinya, “Barangsiapa berpuasa enam hari setelah Idul Fitri, maka dia seperti berpuasa setahun penuh.” (HR. Ibnu Majah, Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban, dari Tsauban –bekas budak Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam)

Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Lihat Shahih At Targhib wa At Tarhib no. 1007.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala juga berfirman,

مَن جَآءَ بِٱلۡحَسَنَةِ فَلَهُ ۥ عَشۡرُ أَمۡثَالِهَا‌ۖ وَمَن جَآءَ بِٱلسَّيِّئَةِ فَلَا يُجۡزَىٰٓ إِلَّا مِثۡلَهَا وَهُمۡ لَا يُظۡلَمُونَ

Artinya, “Barangsiapa membawa amal yang baik maka baginya [pahala] sepuluh kali lipat amalnya; dan barangsiapa yang membawa perbuatan yang jahat maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya [dirugikan].” (QS. Al-An’am [6] ayat 160)

 

Kedua, menyempurnakan kekurangan ibadah wajib.

Yang dimaksudkan di sini bahwa puasa Syawal akan menyempurnakan kekurangan-kekurangan yang ada pada puasa wajib di bulan Ramadhan, sebagaimana shalat sunnah rawatib yang menyempurnakan ibadah wajib.

Amalan sunnah seperti puasa Syawal nantinya akan menyempurnakan puasa Ramadhan yang sering kali ada kekurangan di sana-sini. Inilah yang dialami setiap orang dalam puasa Ramadhan, pasti ada kekurangan yang mesti disempurnakan dengan amalan sunnah.

 

Ketiga, puasa Syawal merupakan tanda diterimanya puasa Ramadhan.

Jika Allah Subhanahu Wa Ta’ala menerima amalan seorang hamba, maka Dia akan menunjuki pada amalan salih selanjutnya. Jika Allah menerima amalan puasa Ramadhan, maka Dia akan tunjuki untuk melakukan amalan salih lainnya, di antaranya puasa enam hari di bulan Syawal.

Ibnu Rajab menjelaskan hal di atas dengan perkataan salaf lainnya, “Balasan dari amalan kebaikan adalah amalan kebaikan selanjutnya. Barangsiapa melaksanakan kebaikan lalu dia melanjutkan dengan kebaikan lainnya, maka itu adalah tanda diterimanya amalan yang pertama. Begitu pula barangsiapa yang melaksanakan kebaikan lalu malah dilanjutkan dengan amalan kejelekan, maka ini adalah tanda tertolaknya atau tidak diterimanya amalan kebaikan yang telah dilakukan.”

Al Lajnah Ad Da-imah Lil Buhuts ’Ilmiyyah wal Ifta’ (Komisi Fatwa Arab Saudi) mengatakan, “Adapun orang yang melakukan puasa Ramadhan dan mengerjakan shalat hanya di bulan Ramadhan saja, maka orang seperti ini berarti telah melecehkan agama Allah. Oleh karena itu, tidak sah puasa seseorang yang tidak melaksanakan shalat di luar bulan Ramadhan. Bahkan orang seperti ini (yang meninggalkan shalat) dinilai kafir dan telah melakukan kufur akbar, walaupun orang ini tidak menentang kewajiban shalat. Orang seperti ini tetap dianggap kafir menurut pendapat ulama yang paling kuat.”

 

Keempat, sebagai wujud syukur kepada Allah.

Ibnu Rajab mengatakan, “Tidak ada nikmat yang lebih besar dari pengampunan dosa yang Allah anugerahkan.”

Sampai-sampai Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pun yang telah diampuni dosa-dosanya yang telah lalu dan yang akan datang, banyak melakukan shalat malam. Ini semua beliau lakukan dalam rangka bersyukur atas nikmat pengampunan dosa yang Allah berikan.

 

Kelima, bukti ibadahnya bukan musiman.

Amalan yang seseorang lakukan di bulan Ramadhan tidaklah berhenti setelah Ramadhan itu berakhir. Amalan tersebut seharusnya berlangsung terus selama seorang hamba masih menarik nafas kehidupan. Ibadah bukan hanya di bulan Ramadhan, Rajab atau Sya’ban saja.

Asy Syibliy pernah ditanya, ”Bulan manakah yang lebih utama, Rajab ataukah Sya’ban?” Beliau pun menjawab, ”Jadilah Rabbaniyyin dan janganlah menjadi Sya’baniyyin.”

Maksudnya adalah jadilah hamba Rabbaniy yang rajin ibadah di setiap bulan sepanjang tahun dan bukan hanya di bulan Sya’ban saja. Jadilah Rabbaniyyin dan janganlah menjadi Romadhoniyyin.

’Alqomah pernah bertanya pada Ummul Mukminin ’Aisyah mengenai amalan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, ”Apakah beliau mengkhususkan hari-hari tertentu untuk beramal?”

Aisyah menjawab,

لاَ. كَانَ عَمَلُهُ دِيمَةً

”Tidak. Amalan beliau adalah amalan yang kontinyu.” (HR. Bukhari no. 1987 dan Muslim no. 783)

Amalan seorang mukmin barulah berakhir ketika ajal menjemput.

Al Hasan Al Bashri mengatakan, ”Sesungguhnya Allah Ta’ala tidaklah menjadikan ajal (waktu akhir) bagi amalan seorang mukmin selain kematian.” Lalu Al Hasan membaca firman Allah,

وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ

Artinya, ”Dan sembahlah Rabbmu sampai datang kepadamu al yaqin (yakni ajal).” (QS. Al Hijr [15] ayat 99)

Wallahu a’lam bish shawabi. (A/RI-1/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)