Melihat Masjid Layur Kampung Melayu, Semarang

Oleh Widi Kusandi, wartawan MINA

Berbicara soal Kota Semarang, tidak hanya kuliner saja yang pantas dinikmati, tetapi juga obyek wisatanya yang sangat layak dikunjungi.  Jika kita berkunjung ke Kota Lama Semarang, sebenarnya tak hanya sebatas soal gedung-gedung tua peninggalan Belanda saja. Ada beberapa bagian kota tua lain yang ada di Kota Semarang, yang masuk dalam bagian kawasan Kota Lama secara menyeluruh.

Masih dalam Kawasan Kota Lama, ada sebuah Kawasan yang disebut Kampung Layur. Disebut Kampung Layur karena selain dekat dengan pesisir pantai utara, wilayah itu dulunya sebagai tempat berlabuhnya kapal pencari ikan dan perdagangan lainnya.

Kampung Layur masuk dalam kawasan Kampung Melayu, Semarang.  Di sana terdapat satu tempat yang menyimpan berbagai peninggalan-peninggalan zaman dahulu.

Salah satunya adalah bangunan kuno seperti Masjid Layur. Masjid ini merupakan salah-satu masjid kuno di Semarang yang terletak di Jalan Layur, Kelurahan Dadapsari, Semarang Utara.

Area itu dulu sering disebut dengan perkampungan “Arabische Kamp” karena banyaknya warga pendatang keturunan Arab yang mayoritas berasal dari Hadramut, Yaman yang tinggal di sekitar masjid.

Berpengaruhnya orang Arab di situ diperkuat oleh catatan Liem (1930) yang menyebutkan bahwa usaha pendirian klenteng oleh masyarakat Cina yang tidak begitu banyak jumlahnya di kampung tersebut, ditentang habis-habisan oleh penduduk keturunan Arab pada tahun 1900.

Sampai sekarang masjid ini masih terus dirawat oleh yayasan masjid setempat, sebagai upaya pelestarian sejarah dan sebagai masjid tua kebanggaan Kota Semarang.

Penambahan menara pada bagian depan masjid menyebabkan masjid juga terkenal dengan nama Masjid Menara.

Masjid Layur dibangun pada tahun 1802 masehi. Masjid ini dibangun oleh sejumlah saudagar dari Yaman yang bermukim di Semarang. Masjid Layur dikenal pula dengan nama Masjid Menara Kampung Melayu. Dinamakan Kampung Melayu karena sudah merupakan tempat hunian sejak 1743 yang sebagian besar orang yang mendiami kawasan tersebut adalah orang suku Melayu.

Bangunan Masjid

Secara menyeluruh Masjid Layur masih asli seperti pertama kali dibuat, hanya ada sedikit perbaikan seperti penggantian genteng dari sebelumnya berupa ijuk, dan penambahan ruang untuk pengelola pada sisi kanan kompleks masjid.

Masjid Layur memiliki menara yang menjulang tinggi di depan.  Bangunan masjid mempunyai luas lahan sekitar 270 m².

Mari kita lihat bangunan masjid lebh seksama. Bangunan kuno yang masih asli dengan daun pintu cat hijau itu nampak estetik. Ornamen dinding menghiasi berbagai sudut terlihat unik dengan perpaduan budaya etnis Jawa, Melayu dan Arab.

Hal ini menjadi bukti bahwa antara ketiga etnis tersebut sudah terpadu Kerjasama dan sinergi yang baik. Mereka mampu Bersatu, tanpa harus melebihkan keunggulan dan merendahkan kekurangan satu dengan lainnya.

Mengenai fungsi Menara, selain sebagai azan yang utama, bangunan itu juga sebagai mercusuar, penanda Pelabuhan, sekaligus mengawasi kapal-kapal dagang yang belalu-lalang datang silih berganti ke pelabuhan itu.

Mengenai bentuk atapnya, masjid itu tidak seperti masjid lain yang menggunakan kubah. Para pendirinya memilih membangun atap dengan tumpang susun, terdiri dari tiga lapis dengan bangunan ciri khas Jawa. Bentuk itu juga sama dengan masjid Agung Demak yang dibangun oleh para Wali Songo, pada masa kerajaan Islam abad 15 silam.

Perpaduan nuansa bangunan Arab dan Timur Tengah terlihat dari jendela, pintu, mimbar imam, ukiran di tiang penyangga masjid, hingga pada bentuk menaranya. Masjid yang telah menjadi bagian dari cagar budaya ini, memiliki jumlah tiang penyangga bangunan berjumlah empat dengan ukiran khas Timur Tengah.

Warna putih di hampir semua dinding masjid bersatu padu dengan warna hijau muda yang berada di jendela dan cungkup atap masjid. Hal ini menjadikan identitas tersendiri bagi masjid yang terkenal dengan sebutan Masjid Menara. Gapura yang berada di dekat menara memiliki warna hijau, dengan sebuah kubah berukuran sedang.

Seiring perkembangan zaman, banjir rob berdampak pada bangunan masjid. Tinggi bangunan berkurang dari awalnya setinggi panggung besar. Akibat banjir air laut pasang itu pula, lantai masjid yang sebelumnya dibangun menggunakan kayu jati kini diganti menggunakan keramik.

Selain itu, bangunan yang sebelumnya satu lantai kini dibangun dua lantai.  Kondisi sungai yang berada tepat di samping timur masjid kondisinya sudah tidak seperti dulu. Kali tersebut sudah tidak memungkinkan lagi untuk transportasi air yang pernah berjaya di masa kolonial.

Sejarah Singkat

Bedirinya Masjid Layur tak lepas dari Kota Semarang sebagai bagian komoditas jalur perdagangan internasional melalui Pantai Utara Jawa. Hal ini menjadikan para saudagar serta pedagang dari Timur Tengah, Kashmir, Pakistan, Gujarat, India dan wilayah lain yang bersandar, dan tak lupa menyebarkan agama Islam di kota yang terkenal dengan sebutan Kota Atlas.

Tidak diketahui secara pasti siapa tokoh yang menginisiasi berdirinya masjid itu. Namun yang masti, kehadiran para saudagar Timur Tengah itu menjadi motis masjid didirikan. Dari beberapa penutur, pendiri masjid itu adalah komunitas orang-orang Hadramaut, Yaman.

Kampung sekitar masjid lokasinya yang strategis di tepi sungai besar dan bisa dimasuki kapal, mengundang banyak orang untuk datang. Adanya masjid ini tak lepas dari posisi daerah ini yang berada di tepi sungai, yang pada waktu itu juga jadi pelabuhan kecil. Sehingga banyak saudagar termasuk dari Yaman yang datang untuk berdagang dan akhirnya menetap dan membangun masjid.

Lokasi Masjid Layur mudah dijangkau karena berada di antara dua tempat strategis yaitu Pasar Johar dan stasiun kereta api.  Pada bulan Ramadhan, ada tradisi minum kopi Arab di Masjid Layur yaitu kopi yang dicampur dengan aneka macam rempah-rempah. (A/P2/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)