Memaknai Taqwa dalam Syariat Puasa

oleh Widi Kusnadi, Da’i Pondok Pesantren Al-Fatah, Bogor

Puasa merupakan syariat Allah yang diturunkan kepada manusia, tidak hanya kepada ummat Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa salam, tetapi juga ummat-ummat sebelum kita. Bahkan tidak hanya manusia, makhluk hidup yang lain seperti binatang pun juga memiliki sunnatullah puasa.

Kita bisa lihat proses metamorfosis ulat menjadi kupu-kupu,  lebah, semut dan lainnya. Mereka menjalani puasa untuk dapat berubah menjadi makhluk dengan bentuk baru yang lebih indah.

Tujuan utama puasa, sebagaimana disebut dalam akhir ayat surah Al-Baqarah [2] ayat 183 adalah untuk membentuk manusia menjadi pribadi yang bertaqwa. Lantas taqwa seperti apakah yang dimaksudkan dalam syariat puasa itu?. Bagaimana kita memaknai taqwa dalam konteks ibadah puasa Ramadhan?

Dalam bulan Ramadhan, tidak hanya ibadah puasa saja yang bisa kita lakukan. Ibadah lain seperti membaca Al-Quran, sedekah, shalat malam dan lainnya juga menjadi prioritas untuk dilaksanakan. Kesemua ibadah itu akan menuntun kita menjadi pribadi yang bertaqwa. Nah, untuk dapat mencapai derajat taqwa itu, tentu kita tidak hanya sekadar menjalani ritual (syariat)nya saja, akan tetapi kita perlu menghayati makna dari ibadah yang kita jalankan.

Menghayati yang dimaksud di sini adalah, menjalankan nilai-nilai yang terkandung di dalam ibadah tersebut untuk kita terapkan dalam kehidupan kita sehingga dengan nilai-nilai itu kita dapat menjadi pribadi yang shaleh dan bertaqwa.

Puasa misalnya, syariatnya adalah menahan makan, minum dan “berkumpul” dengan suami/istri kita di siang hari, dari terbit fajar hingga terbenam matahari. Maka, nilai spiritual yang terkandung dalam puasa itu adalah supaya kita bisa menahan nafsu untuk senantiasa taat dan tunduk pada aturan dan menjauhi larangan Allah. Meskipun asalnya halal untuk bisa dinikmati, namun jika memang hal itu sudah menjadi larangan Allah, maka kita taati dengan sepenuh hati, maka itulah ketundukan yang sebenarnya.

Bukankah Iblis mendapat murka Allah, dilaknat menjadi bahan bakar api neraka Jahannam selama-lamanya karena ia menolak mentaati dengan perintah Allah. Maka dengan puasa itu, menahan nafsu sebagai bentuk ketaatan dan ketundukan kepada aturan dan syariat Allah menjadi hal penting untuk kita hayati dalam kehidupan kita sehari-hari.

Kalau kita tidak atau belum mampu menghayati nilai-nilai puasa, maka otomatis kita hanya sekadar mendapat lapar dan dahaga saja. Sungguh merugi orang-orang yang hanya sebatas melaksanakan ritual saja, tanpa menghayati makna spiritual (puasa) di dalamnya.

Demikian juga untuk ibadah lainnya, misalnya qiyamul lail (shalat tarawih atau tahajud). Nilai spiritual dari ibadah tersebut salah satunya adalah terjaganya diri kita dari perbuatan-perbuatan buruk berupa kekeji an dan kemunkaran.

Demikian pula dalam syariat sujud, kening kita sejajar dengan jari kaki kita, itu menandakan betapa manusia adalah makhluk yang hina, lemah dan badoh. Hanya dengan rahmat Allah saja, manusia dapat menjadi makhluk yang mulia. Maka sangat tidak layak bagi manusia untuk berlaku sombong, congkak, angkuh dan membanggakan kehebatan dan prestasi yang telah didapatnya.

Sementara untuk syariat sedekah, bukan hanya sekadar memberi dan membagi apa yang kita punya kepada orang lain, tetapi hakikatnya adalah kesadaran bahwa segala rizki yang kita miliki adalah dari Allah. Sebagian dari kita khawatir jika terkena PHK atau musibah yang menimpa diri dan keluarga kita, khawatir tidak mampu menafkahi keluarga, khawatir tidak bisa makan, minum dan berkehidupan seperti biasanya, tapi kita harus yakin bahwa Allah Maha Pemberi Rizki (Ar-Razak). Allahlah yang meluaskan dan menyempitkan rizki kepada siapa saja yanga Dia kehendaki.

Bisa jadi dengan seseorang di PHK dari pekerjaannya, atau musibah yang menimpa dirinya menjadi sarana pelebur dosa-dosa baginya, menjadi tonggak kehidupan baru yang mandiri, berdikari, memiliki waktu lebih banyak untuk beribadah, beramal shaleh, dan untuk keluarganya.

Janji Allah bagi Orang Bertaqwa

Selanjutnya, untuk lebih menyemangati kita dalam menjalani puasa dan menghayati nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, kita mesti mengetahui keistimewaan yang Allah subhanahu wa ta’ala berikan kepada orang-orang yang bertaqwa.

Allah menjanjikan bahwasannya bagi siapa saja yang bertaqwa kepada-Nya, maka Dia pasti akan memberikan jalan keluar dari segala permasalahan yang dihadapinya. Allah juga akan memberi rizki kepadanya dari jalan yang tidak ia sangka-sangka. Segala urusannya akan dimudahkan dengan takdir dan kehendak-Nya.

Tidak hanya itu, Allah juga menjanjikan ampunan atas segenap kesalahan yang diperbuat sebelumnya dan akan memberikan pahala yang besar. Begitu besar kasih dan sayang Allah kepada mereka yang bertakwa, Dia memaafkan setiap salahnya, dan Allah ganti keburukan itu dengan limpahan pahala dan rahmat yang tiada batas.

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya”. 

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا

“Dan barang -siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya”.

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يُكَفِّرْ عَنْهُ سَيِّئَاتِهِ وَيُعْظِمْ لَهُ أَجْرًا

“Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan akan melipat gandakan pahala baginya”.

Semoga di bulan Ramadhan yang penuh berkah, rahmat dan ampunan ini, kita semua dapat meraih derajat taqwa,  Allah beri kita solusi dari setiap permasalahan, Allah limpahkan rizki kita, menghapus segala salah dan khilaf kita serta menggantinya dengan ampunan, pahala dan rahmat-Nya yang tanpa batas. Aamin Ya Rabbal Alamin. (A/P2/RS2)

Mi’raj News Agency (MINA)