Membangun Sinergi dan Persatuan Umat di tengah Perbedaan Madzhab

*Catatan perjalanan safari dakwah tim Jama’ah Muslimin (Hizbullah) ke Malaysia.

Masyarakat Melayu (Indonesia, Malaysia, Brunei, Philipina dan Thailand Selatan) merupakan komunitas Muslim terbesar di dunia dengan jumlah pemeluk tidak kurang dari 250 juta jiwa. Mendengar kata Melayu memang identik dengan Islam karena hampir semua orang Melayu adalah Muslim. Meskipun ada beberapa yang memeluk selain Islam, namun jumlah mereka tidak signifikan.

Dari besarnya jumlah Muslim Melayu itu, tidak bisa dipungkiri adanya keberagaman dalam menjalankan cabang-cabang syariat Islam (fikih). Mayoritas Muslim Melayu menganut madzhab Syafi’i, namun beberapa komunitas menganut madzhab Hanafi, Hambali dan Maliki.

Dari “rahim” bangsa Melayu, lahirnya tokoh-tokoh ulama yang menjadi panutan dalam masyarakatnya. Mereka banyak menimba ilmu dari negeri-negeri Timur Tengah seperti Mesir, Saudi, Maroko dan lainnya yang sekembalinya ke tanah air menjadi mubaligh yang gigih berjuang mengajarkan nilai-nilai Islam kepada masyarakat setempat.

Lantas, bagaimana menjadikan Muslim Melayu agar mereka dapat menjadi role model bagi kehidupan beragama di dunia mengingat jumlahnya yang fantastis, ditambah lagi dengan sumber daya alam (SDA) yang mereka miliki?. Inilah tantangan sekaligus peluang bagi Muslim Melayu ke depan sebagai komunitas Muslim terbesar di dunia.

Jama’ah Muslimin (Hizbullah) sebagai wadah kesatuan umat dengan ciri khasnya yang non-politik (murni wahyu Allah) dalam melaksanakan syariat Islam, secara konsisten berdakwah membangun sinergi dan mempersatukan kaum Muslimin dalam satu kepemimpinan (jamaah). Keberadaannya di tengah-tengah komunitas Muslim Melayu menjadi tantangan tersendiri untuk mempersatukan mereka agar dapat menjadi kekuatan umat yang mampu menolong saudara-saudaranya yang teraniaya di berbagai negeri.

Dalam perjalanan tim safari dakwahnya ke Malaysia (11-16 Februari 2019), ada beberapa pelajaran dan hikmah yang bisa dipetik untuk selanjutnya menjadi pedoman dalam berdakwah, baik di negeri-negeri Melayu khususnya, dan umat Islam secara umum. Pelajaran itu antara lain:

Tasamuh dalam Menjalankan Syariat

Menurut pengertian dalam Bahasa Indonesia, tasamuh bisa diartikan tenggang rasa, sedangkan menurut istilah, tasamuh berarti menghargai sesama, bersikap menerima keadaan yang dihadapi dengan damai. Tasamuh adalah sikap dan akhlak terpuji dalam pergaulan, di dalamnya terdapat rasa saling menghargai antara sesama manusia dalam batas-batas yang digariskan oleh ajaran Islam.

Tidak bisa dipungkiri, dalam kehidupan sosialnya, masyarakat Muslim Melayu yang terdiri atas berbagai suku bangsa terjadi perbedaan sudut pandang, penafsiran, dan pengamalan syariat, khususnya dalam hal ritual ibadah. Dalam rangka menjaga keutuhan dan persatuan dalam masyarakat, maka diperlukan sikap saling menghormati dan saling menghargai, sehingga tercipta suasana kerukunan dan persatuan.

Prinsip dalam dakwah sebagaimana yang dicontohkan Nabi Muhammad Shallalahu alaihi wa salam dalam membangun persatuan umat adalah dengan memperbesar persamaan-persamaan dan menghindari membicarakan perbedaan.

Semangat dalam membangun hubungan ukhuwah dan persaudaraan antar sesama Muslim salah satunya bisa dibangun dengan tasamuh itu.

Jika tasamuh ini bisa diamalkan, khususnya sesama umat Islam yang berbeda madzhab, latar belakang pendidikan dan pola pikir, maka akan tercipta rasa keharmonisan dalam hidup bermasyarakat, tumbuh sikap saling menghormati dan tidak memaksakan kehendak antar sesama manusia.

Pada akhirnya, rasa cinta dan persatuan antar sesama umat beragama sebagaimana yang dicita-citakan kita semua akan dapat terwujud sehingga Islam menjadi sebuah kekuatan yang disegani lawan dan dihormati kawan.

Semangat Bersaudara

Pada hakikatnya, umat Islam ini adalah umat yang satu. Satu Tuhannya, Allah. Satu Nabi terakhirnya, Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Satu kitab sucinya, Al-Quran. Satu kiblat shalatnya, Baitullah.

Adapun perbedaan umumnya adalah pada soal pemahaman fiqih ibadah (mazhab), pemikiran (politik), dan persoalan teknis lainnya. Selama secara prinsip aqidah masih sama, berpedoman pada Al-Quran dan As-Sunnah, maka hakikatnya mereka adalah umat yang satu.

Tinggal keutuhan yang satu itu, diikat dengan kepemimpinan yang satu, yakni Imaam yang satu, yakni pemimpin umat Islam yang menggembala umat Islam di seluruh dunia tanpa sekat politik dan regional, yang bersifat rahmatan lil ‘alamin.

Dengan umat Islam mempraktekkan syariat berjama’ah, maka Allah akan mencurahkan  rahmat kepada mereka. Dengan berjama’ah pula, umat akan tergerak dan terarah untuk beribadah dan berjuang sehingga keridhaan dan pertolongan Allah akan menyertai mereka.

Islam adalah satu-satunya agama yang ajaranya mengajak pada persaudaraan dan terwujudnya persatuan dan kesatuan umat serta mengecam perpecahan dan perselisihan, karena Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sebagai pembawa risalah Islam selalu mengarahkan umatnya untuk menjaga kesatuan (Al-Jama’ah) dan menjauhi perselisihan dan perpecahan (Al-Firqah).

Mari, satukan kekuatan dalam ikatan ukhuwah Islamiyah kal jasadil wahid. Bergerak menuju naungan cinta, perdamaian, tolong-menolong, persaudaraan dan keharmonisan karena Allah semata. (A/P2/B05)

Mi’raj News Agency (MINA)