MEMPEROLEH KEBAIKAN DARI MENAHAN AMARAH

(Gambar: mimbarhadits)
(Gambar: mimbarhadits)

Oleh: Rendy Setiawan, Jurnalis Mi’raj Islamic News Agency (MINA)

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

لَيْسَ الشَّدِيْدُ بِالصُّرَعَةِ، إِنَّمَا الشَّدِيْدُ الَّذِيْ يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ 

Artinya: “Orang yang kuat bukanlah dengan bergulat, namun orang yang kuat itu adalah orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Marah adalah sesuatu yang amat manusiawi. Marah adalah tabiat manusia yang tidak akan pernah bisa dihilangkan. Lantas apa hikmah dari ucapan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam itu?

Ibnu Hajar al-Asqalany dalam kitabnya Fath al-Bari mengutip perkataan Imam al-Khaththabi, mengatakan, “Arti perkataan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam -jangan marah- adalah menjauhi sebab-sebab marah dan hendaknya menjauhi sesuatu yang mengarah kepadanya. Marah itu tidaklah terlarang, karena itu adalah tabiat yang tak akan hilang dalam diri manusia.”

Sementara mayoritas ulama salaf maupun ulama khalaf sepaham bahwa yang dimaksud dengan hadits di atas adalah marah yang dilakukan karena menuruti hawa nafsu bersifat keduniawian yang dapat menimbulkan kerusakan seperti memukul, melempar barang hingga pecah, menyiksa, menyakiti orang, dan mengeluarkan perkataan-perkataan yang diharamkan seperti menuduh, mencaci maki, berkata kotor, dan berbagai bentuk kezaliman serta permusuhan.

Bahkan bisa jadi, hanya dengan marah seseorang tega sampai membunuh, dan bisa jadi naik kepada tingkat kekufuran sebagaimana yang terjadi pada Jabalah bin Aiham, dan seperti sumpah-sumpah yang tidak boleh dipertahankan menurut syar’I, atau mencerai istri yang disusul dengan penyesalan. Itu hanya sebagian kecil dari kerugian marah dalam menuruti hawa nafsu.

Manfaat Menahan Amarah

Islam sebagai agama yang sempurna telah mengatur seluruh sendi-sendi kehidupan, termasuk marah. Bahkan, seseorang yang mampu menahan amarahnya, ia akan memperoleh banyak kebaikan-kebaikan. Untuk itulah Rasulullah mengajarkan umatnya untuk menahan amarahnya.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

ومن كظم غيظاً ، ولو شاء أن يمضيه أمضاه ، ملأ الله قلبه رضاً يوم القيامة

Artinya: “Barang siapa yang dapat menahan amarahnya, sementara ia dapat meluapkannya, maka Allah akan penuhi hatinya dengan keridhoan di hari Qiyamat.” (HR. Thabrani)

Dalam riwayat Ahmad disebutkan bahwa Allah akan mempersilahkan ia untuk memilihi bidadari yang disukainya. (HR. Ahmad)

Begitu istimewanya imbalan yang diberikan bagi orang yang dapat mengendalikan amarahnya, sampai Allah pun mempersilahkan ia untuk memilih bidadari syurga yang ia suka. Lalu, bagaimana caranya menahan amarah?

Tips Menahan Amarah

Sifat marah adalah tabiat bagi manusia, sifat ini tidak mungkin untuk dihilangkan sehingga Alloh pun tidak memerintahkan manusia untuk menghilangkannya akan tetapi Allah memerintahkan manusia untuk menahannya dan tidak menampakannya di hadapan kaum muslimin yang lain. Siapa saja yang bisa melakukan hal ini maka di dijanjikan masuk ke dalam surga dengan segala kesenangan yang ada di dalamnya.

Seseorang yang senantiasa menahan marah dari tingkah laku saudaranya maka orang itu akan terbiasa melakukan perbuatan terpuji yang lain sebagai konsekwensi dari usahanya menahan marah.

Berikut tips atau cara mengendalikan marah yang kami himpun menurut beberapa redaksi hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam:

  1. Jangan marah kecuali karena Allah Ta’ala

Rasulullah bersabda Shallallahu ‘Alaihi Wasallam:

إِنَّ أَوْثَقَ عُرَى الإِيمَانِ أَنْ تُحِبَّ فِي اللهِ ، وَتُبْغِضَ فِي اللَّهِ

Artinya: “Sesungguhnya tali Iman yang paling kokoh adalah engkau mencintai sesuatu karena Alloh dan membencinyapun karena Allah.” (HR. Ahmad)

Sesungguhnya semua kemarahan itu buruk, kecuali karena Allah Ta’ala. Marah karena Allah merupakan sesuatu yang disukai dan mendapatkan pahala, bahkan menjadi sebuah keharusan. Seorang Muslim yang marah karena hukum Allah diabaikan merupakan contoh marah karena Allah, misalnya marah ketika menyaksikan perbuatan haram, dan lainnya.

Abdul Azis bin Fathi as-Sayyid Nada mengingatkan, kemarahan kerap berujung pada pertikaian dan perselisihan yang dapat menjerumuskan manusia ke dalam dosa besar dan dapat pula memutuskan silaturahim.

  1. Mengingat keagungan Allah

Ketika mengingat kebesaran Allah Ta’ala, maka kemarahan bisa diredam. Bahkan, mungkin tak jadi marah sama sekali. Itulah adab paling bermanfaat yang dapat menolong seseorang untuk berlaku santun dan sabar.

  1. Berlindung kepada Allah

Dalam sebuah riwayat dijelaskan,

عن سليمان بن صرد قال : كنت جالساً مع النبي صلى الله عليه وسلم ، ورجلان يستبّان ، فأحدهما احمرّ وجهه واتفخت أوداجه ( عروق من العنق ) فقال النبي صلى الله عليه وسلم : إني لأعلم كلمة لو قالها ذهب عنه ما يجد ، لو قال أعوذ بالله من الشيطان ذهب عنه ما يجد

Artinya: Dari Sulaiman bin Sord berkata, ‘Saya pernah duduk bersama Nabi Shallallahu ’Alaihi Wasallam dan ada dua orang yang saling mengejek. Salah satunya memerah mukanya dan membesar urat di tenggorokannya.

Maka Nabi Shallallahu ’Alaihi Wasallam bersabda, “Sungguh saya telah mengetahui suatu perkataan kalau dia ucapkan akan hilang apa yang ada pada dirinya. Kalau sekiranya dia mengatakan ‘’Auzubillahi minasyathon (Saya berlindung kepada Allah dari syetan). Maka akan sembuh apa yang ada pada dirinya.” (HR. Bukhari)

  1. Diam

Terkadang orang yang sedang marah mengatakan sesuatu yang dapat merusak agamanya, menyalakan api perselisihan dan menambah kedengkian.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda (yang artinya), “Ajarilah, permudahlah, dan jangan menyusahkan. Apabila salah seorang dari kalian marah, hendaklah ia diam.” (HR Ahmad)

  1. Mengubah posisi

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam,

إذا غضب أحدكم وهو قائم فليجلس ، فإن ذهب عنه الغضب وإلا فليضطجع

Artinya: “Jika salah seorang di antara kalian marah ketika berdiri, maka hendaklah ia duduk. Apabila marahnya tidak hilang juga, maka hendaklah ia berbaring.” (HR Ahmad).

  1. Berwudhu

Menurut Syeikh Sayyid Nada, marah adalah api setan yang dapat mengakibatkan mendidihnya darah dan terbakarnya urat syaraf. Untuk itulah, wudhu menjadi salah satu alternative untuk menahan marah.

  1. Berdoa

Menurut syaikh Shaleh Al-Munajjid, ini adalah senjata orang beriman. Senantiasa memohon kepada Tuhannya agar terbebaskan dari kejelekan, penyimpangan dan akhlak rendahan. Berlindung kepada Allah terjerums ke jurang kekufuran atau kedholiman disebabkan kemarahan. Karena tiga hal yang menyelamatkan adalah berbuat adil dalam kondisi ridho maupun marah.

Diantara doa Rasulullah Shallallahu ’Alaihi Wasallam adalah:

 اللهم بعلمك الغيب وقدرتك على الخلق أحيني ما علمت الحياة خيراً لي ، وتوفني إذا علمت الوفاة خيراً لي ، اللهم وأسألك خشيتك في الغيب والشهادة ، وأسألك كلمة الإخلاص في الرضا والغضب ، وأسألك القصد في الفقر والغنى وأسألك نعيماً لا ينفد ، وقرة عين لا تنقطع ، وأسألك الرضا بعد القضاء ، وأسألك برد العيش بعد الموت ، أسألك لذة النظر إلى وجهك والشوق إلى لقائك ، في غير ضراء مضرّ ة ولا فتنة مضلّة الله زينا بزينة الإيمان واجعلنا هداة مهتدين .

“Ya Allah, dengan Ilmu-Mu yang ghoib, dan kekuasan-Mu terhadap makhluk, hidupkanlah diriku apa yang Engkau ketahui bahwa kehidupan itu baik bagi diriku. Dan wafatkanlah dikala kematian itu baik untuk diriku. Ya Allah, saya memohon kepada-Mu takut kepada-Mu dalam kondisi tersembunyi maupun nampak. Saya memohon kepada-Mu keiklasan dalam kondisi ridlo dan marah. Saya memohon kepada-Mu hemat dalam kondisi fakir maupun kaya. Saya memohon kepada-Mu kenikmatan yang tiada henti, hiasan mata tanpa terputus. Saya memohon kepada-Mu keridloan setelah qodo’. Saya memohon kepada-Mu kenikmatan hidup setelah meninggal. Saya memohon kepada-Mu kenikmatan melihat wajah-Mu dan rindu bertemu dengan-Mu tanpa ada kesusahan yang menyusahkan, tidak fitnah yang menyesatkan. Ya Allah hiasilah kami dengan hiasan keimanan dan jadikanlah kami penyeruh kebaikan yang menunjukkan jalan hidayah. Dan segala pujian hanya milik Allah Tuhan seluruh alam.”

Itulah beberapa cara yang bisa kita lakukan untuk meredam kemarahan. Terlihat sulit tapi percayalah, jika kita berniat merubah diri kita untuk menjadi lebih baik, beberapa cara meredam kemarahan seperti yang disebutkan diatas patut dicoba. Insya Allah kita dapat termasuk ke dalam golongan seperti yang disebutkan dalam hadits riwayat Imam Ahmad, yakni mendapat imbalan indah bertemu dengan bidadari surga dan dimuliakan-Nya. Wallahul Musta’an. (P011/P4)

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)