Menag Ungkap Tiga Alasan Indonesia Konsisten Dukung Palestina

Taher Hamad bersama Menteri Agama RI Lukman Hakim Saifuddin. (Foto: MINA)

Jakarta, MINA – Indonesia sangat bisa merasakan pahitnya menjadi negara jajahan. Selain itu, sebagai bangsa yang religius Indonesia juga menolak adanya aksi pelanggaran HAM, dan yang terakhir, adalah posisi Palestina-Yerusalem sebagai kota tiga agama besar dunia, menjadi tiga alasan utama alasan konsistensi dukungan Indonesia terhadap Palestina.

Demikian disampaikan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin dalam Forum Merdeka Barat 9 (FMB9) dengan tema “Indonesia Bersama Palestina” yang berlangsung di Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo), Jakarta, Jumat (15/12).

“Sebenarnya mengapa Indonesia memberikan perhatian yang begitu besar kepada Palestina dan apa sebenarnya yang membuat bangsa Indonesia dalam sejarahnya sejak negara ini lahir, hingga hari ini Indonesia tetap konsisten bersama bangsa Palestina untuk mendapatkan kemerdekaan, setidaknya ada tiga hal utama,” katanya.

Pertama, Menag menjelaskan, sebagai sebuah bangsa, Indonesia sangat bisa merasakan betapa pahit dan sulitnya dijajah oleh bangsa lain. “Kita sudah merasakan lebih dari 3,5 abad dijajah. Bangsa Indonesia merasakan betul pahitnya dan sulinya dijajah oleh negara lain,” katanya.

Itulah sebabnya, Menag menambahkan, dalam Pembukaan UUD 1945 kemudian ada pernyataan ‘kemerdekaan adalah hak segala bangsa’. Indonesia, sambung dia, meyakini bahwa sekarang bukan eranya lagi untuk terjadi penjajahan.

“Ini merupakan era di mana orang saling bersinergi. Terlebih dii era globalisasi, tidak lagi ada batasan administratif, yang memisahkan antarumat manusia. Sudah tidak ada lagi sekat-sekat itu secara kaku membatasi kita. Sehingga, semangat bersinergilah yang terus dikedepankan. Bukan saling merendahkan,” katanya.

Alasan lain, Menag mengingatan, bangsa Indonesia dikenal sebagai bangsa yang religius dan agamis. Oleh karena itu, sambung dia, pasti ada muncul rasa penolakan yang sangat besar ketika ada pelangaran HAM terhaadap suatu bangsa.

“Semua agama tidak membenarkan penjajahan. Dan itu bertentnag secara substansial dan esensial dari inti ajaran agama. Semua agama menolak penjajah. Itu merupakan pengingkaran terhadap kemerdekaan,” tuturnya.

Sedangkan alasan berikutnya, menurut Menag, adalah tidak bisa dipungkiri bahwa Yerusalem merupakan kota tiga agama. Yakni, sambung dia, Yahudi, Kristen, dan Islam.

Masjid Al-Aqsa merupakan masjid pertama yang menjadi kiblat umat Islam saat mengerjakan shalat. Awalnya lebih dari sepuluh tahun umat islam menghadap Baitul Maqdis. Kedudukannya hampir sama dnegan Majdiil Haram dan Nabawi. Itulah yang kemudian yang punya daya ikat keterkaitan yang luar biasa.

“Itulah sebabnya sejak awal kemerdekaan hingga hari ini Indonesia tetap konsisten bersama dengan Palestina dalam mencapai kemerdekaannya,” katanya. (L/R06/B05)

Mi’raj News Agency (MINA)