Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

MENAG USULKAN TV ISLAM INTERNASIONAL

Admin - Selasa, 3 Desember 2013 - 10:49 WIB

Selasa, 3 Desember 2013 - 10:49 WIB

500 Views ㅤ

Foto: Kemenag

Jakarta, 29 Muharram 1435 /3 Desember 2013 (MINA) – Menteri Agama (Menag) Indonesia, Suryadharma Ali merekomendasikan usulan terbentuknya sebuah media televisi Islam Internasional yang berada dalam naungan Rabithah Alam Islami (Liga Islam Dunia). 

Usulan dibentuknya Media Islam Internasional itu disampaikan Menag Suryadharma Ali saat konferensi pers usai Pembukaan Konferensi Internasional Media Islam di Jakarta, Selasa, (3/12). 

“Kita usulkan hasil dari konferensi ini perlu sebuah Media Islam Internasional yang kuat dibawah naungan Rabithah Alam Islami,” ujar Menag sebagaimana laman resmi yang dikutip MINA (Mi’raj News Agency) melaporkan.

Kehadiran sebuah Media Islam Internasional itu, menurut Menag sangat penting. Sebagai penyeimbang pemberitaan tentang Islam yang selalu terdiskriminasi di dunia internasional. 

Baca Juga: Tumbangnya Rezim Asaad, Afta: Rakyat Ingin Perubahan

“Media Islam Internasional itu bertujuan menjelaskan Islam sesungguhnya yang menyampaikan pesan damai dan toleransi,“ujar Menag.

Selama ini, beberapa media barat dinilai Menag sudah tidak memiliki objektifitas memberitakan Islam. Secara pemberitaan beberapa kasus konflik horizontal di dalam dan luar negeri pun dianggap seringkali memprovokasi dengan isi pemberitaan yang kurang berimbang. 

Dengan kondisi Indonesia yang lebih stabil, Indonesia pun diusulkan sebagai negara yang paling cocok mendirikan Media Islam Internasional. Indonesia, kata Menag, memiliki kelebihan menghadirkan sebuah media televisi Islam internasional. 

Dari sisi Sumber Daya Manusia (SDM), Indonesia memiliki perguruan tinggi Islam yang dapat mendukung hadirnya sebuah media Islam. Dari perundang-undangan, Indonesia juga memiliki kelebihan kebebasan pers yang lebih baik dibanding negara Islam yang lain. 

Baca Juga: Resmikan Terowongan Silaturahim, Prabowo: Simbol Kerukunan Antarumat Beragama

Usulan itu disambut baik Sekjen Rabithah Alam Islami, Abdullah Abdul Muhsin At Turki. Menurut dia, pemberitaan tentang Islam di dunia internasional yang cenderung dideskreditkan, telah membuat Islam selalu diadu domba. Media Islam yang ada pun dinilai kurang strategi untuk mengimbangi pemberitaan negatif dari media barat.

Karenanya memang dibutuhkan sebuah saluran media televisi Islam yang bisa mencakup secara Internasional. Selama ini peran Rabithah dinilai masih belum terasa menghadirkan sebuah media Islam internasional, karena Rabithah baru bekerjasama dalam saluran pemberitaan.

Abdullah berharap dalam Konferensi Media Internasional Islam ini bisa merealisasikan usulan dibentuknya sebuah media televisi Islam Internasional tadi. Sehingga harapan besar umat Islam dunia Internasional dengan hadirnya sebuah media penyeimbang dengan strategi dan kemampuan teknologi informasi yang mumpuni bisa terwujud.

Rekomendasi Utama Konferensi

Baca Juga: Konflik Suriah, Presidium AWG: Jangan Buru-Buru Berpihak  

Sekjen Kementerian Agama Bahrul Hayat mengungkapkan, usulan pembentukan sebuah Media Islam Internasional itu, bisa jadi salah satu usulan dari Indonesia dalam konferensi ini.

Rekomendasi-rekomendasi dalam konferensi pun akan dibahas antar negara Islam agar menjadi langkah konkrit hasil dari konferensi mendatang. 

“Kami memandang ketika usulan itu disampaikan ke Rabithah sambutan dari Sekjen Rabithah sangat baik. Dan kita berharap kerjasama peluang ini bisa menjadi rekomendasi utama dari Konferensi ini,” ujar Sekjen.

Konferensi Media Islam diselenggarakan Kemenag bekerja sama dengan Rabithah Alam Islami di Hotel Shangri-La Jakarta mulai 3-5 Desember 2013 sengan mengambil tema “Media and Social Responsibility” dan menghadirkan sejumlah nara sumber dari berbagai negara Islam.

Baca Juga: Krisis Suriah, Rifa Berliana: Al-Julani tidak Bicarakan Palestina

Konferensi itu merupakan konferensi yang ketiga. Konferensi pertama berlangsung di Jakarta pada 1981 dan kedua pada 2011 juga di Jakarta.

Kegiatan itu digelar dengan dilatarbelakangi adanya peristiwa baru yang fenomenal di dunia Islam, terutama beberapa negara dengan mayoritas penduduk muslim di Timur Tengah, sejak 2011.  (T/P03/P02)

 

Mi’raj News Agency (MINA)

Baca Juga: AWG Selenggarakan Webinar “Krisis Suriah dan Dampaknya bagi Palestina”

Rekomendasi untuk Anda