Menangis Karena Cinta, Duka atau Sebab Dosa?

Oleh: Ali Farkhan Tsani, Da’i Pesantren Al-Fatah Cileungsi, Bogor, Redaktur MINA

Jangankan perempuan, kaum pria pun ternyata bisa menangis karena ditinggal pergi, entah pergi selamanya karena meninggal, atau pergi seterusnya karena ada pilihan lain. Hatinya sempit, nafasnya sesak, lemah lunglai kehilangan orang yang sangat dicintia dan dirinduinya.

Lalu, tak terasa menangislah ia, menetes air mata jernihnya, membasahi kedua pipinya.

Menangis, sebagai salah satu fitrah alami manusia, juga bisa terjadi sebab kerinduan mendalam atau yang terpendam.

Rasa rindu yang membara, sekian lama tak berjumpa, hingga dengan mudahnya seseorang boleh meneteskan air matanya. Rindu anak terhadap orang tuanya, rindu orang tua terhadap anaknya yang sudah berumah tangga, rindu antarpasangan juga.

Diputuskan secara sepihak, terlebih jika sudah mendekati masa pernikahan, maka dapat dipastikan baik pria apalagi wanita, dapat menangis sejadi-jadinya. Bak anak kecil kehilangan mainan, bagai bocah yang makanannya jatuh ke tanah.

Begitulah, mata memang tak berpintu kuat. Sehingga sesensitif itu, meledaklah bah air mata melalui celah-celah kelopak matanya yang lembut….. karena sebab cinta anak manusia…..

Tangisan lainnya, yang lebih bersih adalah tangisan karena duka yang diterimanya. Seorang ibu ditinggal mati puteri kesayangannya. Seorang anak ditinggal wafat ayahandanya. Suami ditinggal isterinya atau sebaliknya. Seseorang kehilangan barang kesayangannya, harta bendanya, semua bisa membuatnya menangis kehilangan….

Ya, tangis duka yang Nabi sendiri mengalaminya. Ketika berlinang air matanya kehilangan puteranya, Ibrahim, yang meninggal di pangkuannya. Dan itu adalah fitrah manusia…

Dan, yang paling utama, tinggi dan suci adalah menangis karena Allah, menangis karena menyesali dosa-dosa..

Ini seperti ketika “Rasulullah di akhir hayat beliau, ketika tengah sakit, memintakan Abu Bakar untuk  menggantikan mengimami shalat berjama’ah. “Pergilah Abu Bakar (sebagai Imaam)! Dan shalatlah bersama orang-orang (berjama’ah).” Aisyah, istri nabi sekaligus anak Abu Bakar menjawab, “Wahai Rasul, sesungguhnya beliau (Abu Bakar) adalah orang yang hatinya lembut. Apabila dia membaca Al Quran, dia menangis sehingga orang–orang tidak dapat mendengar bacaannya…”.

Juga disebutkan dari Ibnu Mas’ud, “Suatu ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepadaku, “Bacakanlah al-Qur’an kepadaku.” Maka kukatakan kepada beliau, “Wahai Rasulullah, apakah saya bacakan al-Qur’an kepada anda sementara al-Qur’an itu diturunkan kepada anda?”. Maka beliau menjawab, “Sesungguhnya aku senang mendengarnya dibaca oleh selain diriku.” Maka akupun mulai membacakan kepadanya surat an-Nisaa’. Sampai akhirnya ketika aku telah sampai ayat ini (yang artinya),

جِئْنا مِنْ كُلِّ أُمَّة بِشَهيد وِجئْنا بِكَ عَلى هَؤلاءِ شَهِيداً

Artinya: “Lalu bagaimanakah ketika Kami datangkan saksi bagi setiap umat dan Kami jadikan engkau sebagai saksi atas mereka.” (QS. an-Nisaa’ : 40).

Maka beliau berkata, “Cukup, sampai di sini saja.” Lalu aku pun menoleh kepada beliau dan ternyata kedua mata beliau mengalirkan air mata.” (HR Bukhari dan Muslim).

Lalu, kapan giliran kita…… kita lebih sering menangisi apa dan siapa…? Apa kita lebih banyak bercanda, bersenda gurau, tenggelam dalam kehidupan dunia, lupa dosa…. hingga air mata telah kering hanya untuk sekedar mohon ampun kepada Sang Pencipta.

“Ada dua buah mata yang tidak akan tersentuh api neraka; mata yang menangis karena merasa takut kepada Allah, dan mata yang berjaga-jaga di malam hari karena menjaga pertahanan kaum muslimin dalam [jihad] di jalan Allah.” (H.R. At-Tirmidzi).

“Ya Allah berilah kemudahan air mata ini mengalir karena cinta kepada-Mu, menyesali dosa-dosa dan karena firman-firman-Mu…..”. Aamiin…  (RS02/P1)

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)