Menanti Ramadhan Bulan Pembakaran Dosa-Dosa

Oleh Ali Farkhan Tsani, Da’i Pesantren Al-Fatah Cileungsi Bogor, Alumni Mu’assasah al-Quds ad-Dauly Sana’a, Yaman

 

Saat ini kita sudah melewati pertengahan bulan Sya’ban (nisfu Sya’ban). Ini berarti, beberapa hari lagi, kita akan berjumpa dengan bulan agung nan mulia, Ramadhan.

Di tengah wabah virus Corona yang tengah melanda dunia saat ini. Kita harus tetap optimis dan penuh harap kepada Allah, “Semoga kita dapat berjumpa dengan hari-hari bulan Ramadhan, dan dapat menjalankan ibadah penuh berkah di dalamnya.”

Harapan ini begitu menggelora, karena salah satu keutamaan bulan Ramadhan disebut sebagai bulan pembakaran dosa-dosa.

Ramadhan, sesuai asal katanya dari bahasa Arab : رَمَضَ – يتَرَْمُضُ – رَمَضَانَ yang artinya : panas membakar.

Panas membakar bisa berasal dari sinar matahari yang menyengat ke bumi. Sejarahnya, orang-orang Arab dahulu ketika memindahkan nama-nama bulan dari bahasa lama ke bahasa Arab, mereka namakan bulan-bulan itu menurut masa yang dilaluinya.

Datangnya bulan Ramadhan masa itu bertepatan dengan masa panas akibat sengatan terik matahari. Apalagi bagi pejalan kaki di atas padang pasir. Maka dinamakan bulan Ramadhan.

Ramadhan bermakna panas membakar juga didasarkan karena perut orang-orang yang berpuasa seolah tengah terbakar pada bulan itu akibat menahan makan dan minum seharian. Apalagi yang belum terbiasa berpuasa.

Panas membakar bulan Ramadhan bisa juga berarti karena bulan Ramadhan memberikan hikmah untuk membakar dosa-dosa yang dilakukan manusia.

Oleh karena itu, pada bulan Ramadhan yang mulia ini ruhiyah dan jasmaniyah umat Islam dibakar, ditempa, serta digembleng dengan berbagai amaliyah Ramadhan. Ini semu agar hawa nafsu syahwat dan nafsu keduniaan, tertundukkan dan terkendalikan, dan lumuran dosa-dosanya terkikis habis.

Sebagaimana dijanjikan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam :

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Artinya: “Barangsiapa yang puasa Ramadhan karena iman dan mengharapkan pahala, akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah Radhiyallahu ’Anhu).

Hingga seusai Ramadhan tercapailah derajat taqwa di sisi Allah Subhanahu Wa Ta’ala, sesuai dengan jani Allah, “La’allakum tattaquun,” (QS Al-Baqarah 183).

Walau mungkin kondisi masih dalam masa pencegahan, dan pembatasan pergerakan warga, serta bekerja di rumah, pada bulan Ramadhan nanti. Masih banyak ibadah yang dapat dilakukan di rumah.

Bahkan saat ini, kita akan dapat menyelesaikan program one day one juz, satu hari satu juz. Kapan lagi? Membuka medsos bisa berjam-jam dalam sehari-semalam. Tentu membuka Al-Quran lebih berhak.

Selain itu, shalat tarawih pun dapat dilakukan berjamaah. Sang ayah bertindak sebagai imam, sementara isteri dan anak-anak menjadi makmumnya. Si kakak yang adzan dan qamat. Lalu ditutup dengan doa bersama.

Kajian keislaman pun bisa dilakukan di rumah. Jika memungkinkan, bisa sama-sama menyimak kajian-kajian online yang sekarang pun banyak dilakukan oleh para ulama, asatidz dan penceramah. Dan sebagainya.

Harapan terbesarnya, Allah berkenan manghapusan dosa-dosa kita, melipatgandakan amal ibadah kita, dan memasukkan kita ke surga-Nya melalui pintu puasa Ar-Rayyaan. Aamiin. (A/RS2/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)