Mencari Pemimpin Amanah

Oleh Bahron Ansori, wartawan MINA

Seperti diketahui, jauh sebelum pilpres atau pilkada dimulai, para calon pemimpin yang turut bertarung dalam ajang pemilihan ‘kursi panas’ kepemimpinan sudah mulai  menebar pesona.

Banyak di antara mereka (calon pemimpin itu) menjual janji-janji kepada rakyat. Janji yang muluk-muluk itulah akan menjadi pemanis sukses tidaknya mereka dalam merebut kursi kekuasaan.

Seolah tak berdosa, tebar janji bukanlah hal asing di negeri mayoritas berpenduduk Muslim ini. Namun sayang, setelah para petarung kekuasaan itu memenangkan ajang ‘rebut’ kekuasaan itu, mereka lupa dengan janji-janji muluknya. Yang ada dihadapan mereka saat ini bukan lagi pesan-pesan rakyat agar segera dipenuhi.

Bukan juga janji-janji muluk tadi yang harus segera diwujudkan. Tetapi sebaliknya setelah berkuasa justeru bagaimana bisa memenuhi perutnya dengan berbagai jenis makanan nikmat. Tak perduli bagaimana cara mendapatkannya; halal haram hantam (H3).

Mereka lupa bahwa kepemimpinan adalah amanah. Sedikit saja menyelewengkan amanah maka kelak akan mendapat azab di sisi Allah Swt. Pemipin yang suka menebar janji dan tidak melaksanakan amanahnya kepada rakyat (umat) adalah para pemimpin jahil dan zalim.

Benar seperti yang disampaikan Rasulullah saw bahwa kekuasaan bisa jadi ambisi setiap orang. Namun ujungnya selalu ada penyesalan. Nabi saw bersabda,

إِنَّكُمْ سَتَحْرِصُونَ عَلَى الإِمَارَةِ ، وَسَتَكُونُ نَدَامَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ ، فَنِعْمَ الْمُرْضِعَةُ وَبِئْسَتِ الْفَاطِمَةُ

“Sesungguhnya kalian nanti akan sangat berambisi terhadap kepemimpinan, ujungnya hanya penyesalan pada hari kiamat. Di dunia ia mendapatkan kesenangan, namun setelah kematian sungguh penuh derita.” (HR. Bukhari no. 7148).

Ibnu Hajar Al Asqolani rahimahullah berkata bahwa ucapan Nabi saw di atas menceritakan tentang sesuatu sebelum terjadinya dan ternyata benar terjadi.

Hadis di atas semakin jelas jika dilihat dari riwayat lain yang dikeluarkan oleh Al Bazzar, Ath Thobroni dengan sanad yang shahih dari ‘Auf bin Malik dengan lafazh,

أَوَّلهَا مَلَامَة ؛ وَثَانِيهَا نَدَامَة ، وَثَالِثهَا عَذَاب يَوْمَ الْقِيَامَة ، إِلَّا مَنْ عَدَلَ

“Awal (dari ambisi terhadap kekuasaan) adalah rasa sakit, lalu kedua diikuti dengan penyesalan, setelah itu ketiga diikuti dengan siksa pada hari kiamat, kecuali bagi yang mampu berbuat adil.”

Dan disebutkan oleh Thobroni dari hadits Zaid bin Tsabit yang marfu’,

نِعْمَ الشَّيْء الْإِمَارَة لِمَنْ أَخَذَهَا بِحَقِّهَا وَحِلِّهَا ، وَبِئْسَ الشَّيْء الْإِمَارَة لِمَنْ أَخَذَهَا بِغَيْرِ حَقّهَا تَكُون عَلَيْهِ حَسْرَة يَوْم الْقِيَامَة

“Sebaik-baik perkara adalah kepemimpinan bagi yang menunaikannya dengan cara yang benar. Sejelek-jelek perkara adalah kepemimpinan bagi yang tidak menunaikannya dengan baik dan kelak ia akan merugi pada hari kiamat.”

Terdapat pula dalam riwayat Muslim dari hadis Abu Dzar,

قُلْت يَا رَسُول اللَّه أَلَا تَسْتَعْمِلُنِي ؟ قَالَ : إِنَّك ضَعِيف ، وَإِنَّهَا أَمَانَة ، وَإِنَّهَا يَوْم الْقِيَامَة خِزْي وَنَدَامَة إِلَّا مَنْ أَخَذَهَا بِحَقِّهَا وَأَدَّى الَّذِي عَلَيْهِ فِيهَا

“Aku berkata, “Wahai Rasulullah, kenapa engkau enggan mengangkatku (jadi pemimpin)?” Rasulullah saw menjawab, “Engkau itu lemah. Kepemimpinan adalah amanat. Pada hari kiamat, ia akan menjadi hina dan penyesalan kecuali bagi yang mengambilnya dan menunaikannya dengan benar.”

Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Ini utama yang menunjukkan agar kita menjauhi kekuasaan, lebih-lebih bagi orang yang lemah. Orang lemah yang dimaksud adalah yang mencari kepemimpinan padahal ia bukan ahlinya dan tidak mampu berbuat adil. Orang seperti ini akan menyesal terhadap keluputan dia ketika ia dihadapkan pada siksa di hari kiamat.

Adapun orang yang ahli dan mampu berbuat adil dalam kepemimpinan, maka pahala besar akan dipetik sebagaimana didukung dalam berbagai hadis. Akan tetapi, masuk dalam kekuasaan itu perkara yang amat berbahaya. Oleh karenanya, para pembesar (orang berilmu) dilarang untuk masuk ke dalamnya.”

Bagi siapa saja yang menjadi pemimpin dan tidak amanah melaksanakan tugas kepemimpinannya, maka Allah Swt akan mengancam mereka.

فَنِعْمَ الْمُرْضِعَةُ وَبِئْسَتِ الْفَاطِمَةُ

“Di dunia ia mendapatkan kesenangan, namun setelah kematian sungguh penuh derita”.

Ad Dawudi berkata mengenai maksud kalimat tersebut adalah kepemimpinan bisa berbuah kenikmatan di dunia, namun bisa jadi penghidupan buruk setelah kematian karena kepemimpinan akan dihisab dan ia bagaikan bayi yang disapih sebelum ia merasa cukup lalu akan membuatnya sengsara.

Ulama lain berkata mengenai maksud hadis, kekuasaan memang akan menghasilkan kenikmatan berupa kedudukan, harta, tenar, kenikmatan duniawi yang bisa dirasa, namun kekuasaan bisa bernasib jelek di akhirat. [Fathul Bari karya Ibnu Hajar Al Asqolani, 13: 125-126].

Semoga saja rakyat di negeri +62 ini makin cerdas sehingga bisa memilih para calon pemimpin yang amanah. Pemimpin amanah yang tidak banyak mengumbar janji, tidak mudah baper (terbawa perasaan) jika mendapatkan kritik dari rakyat demi kebaikan.(A/RS3/P1)

 

Mi’raj News Agency (MINA)