Mencintai Kaum Lemah (Oleh: Bahron Ansori)

Oleh Bahron Ansori, wartawan MINA

Di sudut pasar Madinah Al-Munawarah, ada seorang pengemis Yahudi buta. Hari demi hari bila ada orang yang mendekatinya ia selalu berkata, “Wahai saudaraku jangan dekati Muhammad, dia itu orang gila, dia itu pembohong, dia tukang sihir, apabila kalian mendekatinya kalian akan dipengaruhinya.”

Namun demikian, setiap pagi juga Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa sallam mendatanginya dengan membawa makanan. Tanpa berkata sepatah kata pun Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa sallam menyuapi makanan yang dibawanya kepada pengemis itu walaupun pengemis itu selalu berpesan agar tidak mendekati orang yang bernama Muhammad.

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa sallam melakukannya setiap hari hingga menjelang wafat. Setelah kewafatan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa sallam, tidak ada lagi orang yang membawakan makanan setiap pagi kepada pengemis Yahudi buta itu.

Suatu hari Abu Bakar r.a berkunjung ke rumah anaknya Aisyah r.a. Beliau bertanya kepada anaknya, “Anakku adakah sunnah kekasihku yang belum aku kerjakan.” Aisyah ra menjawab pertanyaan ayahnya, “Wahai ayahanda engkau adalah seorang ahli sunnah, hampir tidak ada satu sunnah pun yang belum ayahanda lakukan kecuali satu sunnah saja.”

“Apakah Itu?,” tanya Abu Bakar r.a.

 “Setiap pagi Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa sallam selalu pergi ke ujung pasar dengan membawakan makanan untuk seorang pengemis Yahudi buta yang berada di sana,” kata Aisyah ra.

Keesokan harinya Abu Bakar r.a. pergi ke pasar dengan membawa makanan untuk diberikan-nya kepada pengemis itu. Abu Bakar r.a mendatangi pengemis itu dan memberikan makanan itu kepadanya.

Ketika Abu Bakar ra mulai menyuapinya, si pengemis marah sambil berteriak, “Siapakah kamu?” Abu Bakar r.a menjawab, “Aku orang yang biasa.” “Bukan! Engkau bukan orang yang biasa mendatangiku”, jawab si pengemis buta itu.

“Apabila ia datang kepadaku tidak susah tangan ini memegang dan tidak susah mulut ini me-ngunyah. Orang yang biasa mendatangiku itu selalu menyuapiku, tapi terlebih dahulu dihaluskannya makanan tersebut dengan mulutnya, setelah itu ia berikan padaku dengan mulutnya sendiri,” pengemis itu melanjutkan perkataan-nya.

Abu Bakar r.a. tidak dapat menahan air mata-nya. Ia menangis sambil berkata kepada pengemis itu, : “Aku memang bukan orang yang biasa datang padamu, aku adalah salah seorang dari sahabatnya, orang yang mulia itu telah tiada. Ia adalah Muhammad Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa sallam.”

Setelah pengemis itu mendengar cerita Abu Bakar ra. ia pun menangis dan kemudian berkata,: “Benarkah demikian? Selama ini aku selalu menghinanya, memfitnahnya, ia tidak pernah memarahiku sedikitpun, ia mendatangiku dengan membawa makanan setiap pagi, ia begitu mulia.”

Pengemis Yahudi buta tersebut akhirnya bersyahadat di hadapan Abu Bakar r.a.

Lalu, bagaimana dengan kita? Sudahkah kita menyantuni orang yang lemah, yang ada di sekitar kita?(A/RS3/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)