Mencintai Nabi SAW

Oleh Bahron Ansori, wartawan MINA

Mencintai Nabi SAW adalah sebuah keharusan, bahkan melebihi rasa cinta kepada yang lain termasuk dirinya sendiri. Dalam kenyataannya, tidak semua muslim mampu mengekspresikan rasa cintanya kepada Nabi SAW. Ada juga yang salah kaprah mewujudkan rasa cinta itu dengan amalan-amalan yang jauh dari sunnah.

Mencintai Nabi SAW harus disesuaikan dengan aturan syariat dan melebihi rasa cinta kepada dirinya sendiri. Hal ini disebutkan dalam sabda Nabi. Dari Anas radhiallahu ‘anhu, dari Nabi SAW,
beliau bersabda, “Tidaklah (sempurna) iman salah seorang di antara kalian sehingga aku lebih dicintainya daripada orangtuanya, anaknya dan segenap umat manusia.” (Muttafaq Alaih).

Dengan mengacu pada hadits shahih di atas, dapat disimpulkan: Kewajiban cinta kepada Rasul SAW, kenapa harus cinta Rasul SAW? Apa tanda-tanda cinta Rasul SAW?

Pertama, Kewajiban Cinta Rasul SAW

Hadits shahih di atas adalah dalil tentang wajibnya mencintai Nabi SAW dengan kualitas cinta tertinggi.v
Dalam Shahih Al-Bukhari diriwayatkan, Umar bin Khathab radhiallahu ‘anhu berkata kepada Nabi, “Sesungguhnya engkau wahai Rasulullah, adalah orang yang paling aku cintai daripada segala sesuatu selain diriku sendiri.”

Nabi SAW bersabda, ‘Tidak, demi Dzat yang jiwaku ada di TanganNya, sehingga aku lebih engkau cintai dari dirimu sendiri’. Maka Umar berkata kepada beliau, ‘Sekarang ini engkau lebih aku cintai daripada diriku sendiri.’ Maka Nabi SAW bersabda, “Sekarang (telah sempurna kecintaanmu (imanmu) padaku) wahai Umar.”

Karena itu, barangsiapa yang kecintaannya kepada Nabi SAW belum sampai pada tingkat ini maka belumlah sempurna imannya, dan ia belum bisa merasakan manisnya iman hakiki sebagaimana disebutkan dalam hadits shahih yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari Anas radhiallahu ‘anhu, dari Nabi SAW , beliau bersabda, “Ada tiga perkara yang bila seseorang memilikinya, niscaya akan merasakan manisnya iman, ‘yaitu, kecintaannya pada Allah dan Rasul-Nya lebih dari cintanya kepada selain keduanya……”

Kedua, Mengapa harus cinta Rasul SAW

Tidak akan mencapai derajat kecintaan kepada Rasul SAW secara sempurna kecuali orang yang mengagungkan urusan din (agama)nya, yang keinginan utamanya adalah merealisasikan tujuan hidup, yakni beribadah kepada Allah Ta’ala. Dan selalu mengutamakan akhirat daripada dunia dan perhiasannya.

Cinta Rasul SAW inilah dengan izin Allah menjadi sebab bagi kita mendapatkan hidayah (petunjuk) kepada agama yang lurus. Karena cinta Rasul pula, Allah menyelamatkan kita dari Neraka, serta dengan mengikuti beliau, kita akan mendapatkan keselamatan dan kemenangan di akhirat.

Adapun cinta keluarga, isteri dan anak-anak adalah jenis cinta duniawi. Sebab cinta itu lahir karena mereka memperoleh kasih sayang dan manfaat materi. Cinta itu akan sirna dengan sendirinya saat datangnya Hari Kiamat. Yakni hari di mana setiap orang berlari dari saudara, ibu, bapak, isteri dan anak-anaknya karena sibuk dengan urusannya sendiri.

Siapa lebih mengagungkan cinta dan hawa nafsunya kepada isteri, anak-anak dan harta benda duniawi maka cintanya ini bisa mengalahkan kecintaannya kepada para ahli agama, utamanya Rasul SAW. (A/RS3/RS1)

 

Mi’raj News Agency (MINA)