Mendag: Indonesia Berpeluang Jadi Pusat Produsen Halal Dunia

Jakarta, MINA – Menteri Perdagangan Agus Suparmanto menyebut Indonesia berpeluang menjadi pusat produsen halal dunia, tetapi untuk mencapai tujuan tersebut diperlukan kerjasama yang erat dari berbagai pihak.

“Industri halal memiliki peran yang cukup signifikan atas performa positif neraca perdagangan. Pada periode Januari hingga Agustus 2020 saja, kinerja neraca perdagangan Indonesia dengan negara-negara Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) menunjukan performa positif dengan mencatatkan surplus sebesar USD2,46 miliar,” kata Agus dalam keterangan tertulis di Jakarta, Selasa (3/11).

Pada periode tersebut Indonesia mampu membukukan ekspor ke negara anggota OKI sebesar USD12,43 miliar. Dari nilai ekspor tersebut, tiga produk yang tertinggi adalah minyak kelapa sawit dengan persentase 23,88% kemudian disusul batu bara 9,56% dan bagian kendaraan bermotor 3,95%.

Menurutnya, negara-negara OKI merupakan pasar yang luar biasa besar. Bagaimana tidak, ada 57 negara anggota dengan total populasi muslim sebesar 1,86 miliar jiwa atau sekitar 24,1% dari total populasi dunia.

Jumlah populasi ini belum termasuk pemeluk agama Islam di luar negara anggota OKI. Sebut saja seperti seperti India dengan jumlah muslim sebesar 195 juta jiwa dan Ethiopia dengan jumlah muslim sebesar 35,6 juta jiwa.

“Sebagian besar negara anggota OKI dengan mayoritas penduduknya beragama Islam memiliki tuntutan standar pemenuhan atas jaminan produk halal yang cukup tinggi. Hal ini menjadikan negara-negara OKI sebagai pasar dengan peluang yang besar,” ujarnya.

Ia melanjutkan, ekspor produk Indonesia ke negara berpenduduk mayoritas muslim tidak dapat dilepaskan dari peran produsen produk halal Indonesia, khususnya untuk produk makanan, kosmetik, dan obat-obatan. Ketiga produk ini berkontribusi sebesar total senilai sebesar 7,42% terhadap impor produk halal dunia.

“Tren impor produk halal negara OKI periode 2015 sampai 2019 cenderung meningkat 5,27%. Namun demikian, pangsa pasar ekspor produk halal Indonesia ke negara OKI masih harus dapat dimaksimalkan,” jelas Agus. (R/R4/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)