Menegakkan Kembali Nasionalisme Pangan, Oleh Shafril Ali Lubis

  • Penulis adalah Pemerhati dan Praktisi Ekonomi Kewirausahaan dan UKM

Pada peringatan 40 tahun organisasi PBB untuk pangan dan pertanian, FAO (Food and Agriculture Organization) tanggal 14 November 1985 di Roma, Italia, Presiden Suharto yang diundang menjadi pembicara tunggal mewakili negara-negara yang sedang berkembang, menerima penghormatan khusus dari Direktur Jenderal FAO, Dr. Edward Saoma atas keberhasilan Indonesia mencapai swasembada pangan.  Dalam kesempatan itu, Presiden Suharto juga menyerahkan 100.000 ton padi sumbangan para petani Indonesia untuk disampaikan melalui FAO kepada korban kelaparan di Afrika.

Dalam pidatonya, Presiden Suharto menjelaskan berbagai kebijakan pemerintah  untuk mencapai swasembada pangan tersebut dengan menyatakan: “Yang paling penting dan menentukan ialah kerja keras, cucuran keringat, semangat dan kegairahan berjuta-juta petani Indonesia sendiri, termasuk peranan wanita sangat besar, baik dalam usaha intensifikasi pertanian maupun dalam meningkatkan kesejahteraan keluarga pada umumnya dengan adanya Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) di setiap desa”.  (Dikutip dari buku “Jejak Langkah Pak Harto 16 Maret 1983 – 11 Maret 1988).

Untuk mendorong dan memotivasi berjuta-juta petani Indonesia tersebut, pemerintah mengulirkan berbagai program, termasuk Penyuluhan Pertanian dan Kelompencapir (Kelompok Pendengar, Pembaca, Pemirsa) di setiap desa.

Pola pengembangan pertanian padi Indonesia yang berhasil mempertahankan swasembada pangan dari 1984 hingga 1990, dijadikan rujukan oleh Vietnam dalam meningkatkan produksi pertanian pangan, sehingga saat ini negara itu menjadi salah satu dari 5 negara pengekspor beras bersama India, Thailand, Pakistan dan Ameria Serikat.

Sejak tahun 1990 Indonesia kembali menjadi negara pengimpor beras dalam jumlah yang bervariasi setiap tahun.

Ketersediaan pangan telah menjadi perhatian para ahli pertanian dunia.  Guru Besar Ilmu Partanian Universitas Hasanuddin (Unhas), Prof. Ambo Ala, dalam artikel “Krisis Pangan Global dan Alternatif Solusinya” menulis diperkirakan pada tahun 2030 kebutuhan pangan akan meningkat 60%, yang setara dengan peningkatan produksi pangan dunia sebesar 42%. Peningkatan kebutuhan pangan yang cukup tajam akan menyebabkan kenaikan harga semua jenis bahan pangan, sehingga jumlah penduduk miskin dan kelaparan meningkat.

Menghadapi kondisi tersebut tidak ada satu negara yang dapat menyatakan diri bebas dari krisis pangan. Dapat dilihat kegagalan yang dicapai dalam upaya mengurangi kemiskinan dan kelaparan yang dicanangkan oleh Millennium Development Goals (MGDs). *)

Kekawatiran lain yang timbul dalam beberapa bulan terakhir adalah menurunnya produktifitas di berbagai bidang, termasuk yang terkait dengan ketahanan pangan, sebagai dampak meluasnya virus corona.  Bloomberg Report 25/03/2020 **) menginformasikan beberapa negara produsen pangan mulai mengetatkan ekspor.

Kazakhstan, salah satu negara pemasok gandum terbesar, menghentikan ekspor berbarengan dengan produk pertanian lainnya. Rusia juga sedang bersiap-siap menutup pintu ekspor bahan makanan.  Pada sisi lain beberapa negara meningkatkan persediaan pangan mereka.  China yang disamping penghasil, sekaligus konsumen, beras terbesar, sedang memproses pembelian pangan berskala besar walaupun persediaan mereka cukup untuk konsumsi satu tahun.  Turki sedang membuka tender pembelian bahan makanan impor.  Demikian juga beberapa negara lain.

Banyak negara yang sedang memperkuat nasionalisme pangan mereka.

Dalam perspektif masyarakat umum, kita perlu berfikir bahwa apa yang bisa kita lakukan untuk menghadapi proyeksi kelangkaan pangan ini?  Serta turut berperan membangun nasionalisme pangan?

Mengambil pelajaran dari keberhasilan Indonesia mencapai swasembada pangan adalah membangun kesadaran untuk bekerja keras dan peran serta keluarga dalam memelihara gairah memproduksi hasil pertanian yang optimal.

Namun ketika kita berbicara tentang kerja keras dan gairah berproduksi optimal akan muncul berangkai-rangkai alasan yang menyatakan hal itu sesuatu yang musykil.  Tetapi bukankan para pendahulu kita, jutaan petani Indonesia, telah membuktikan bahwa mereka bisa?  Agar kita tidak patah samangat janganlah hiraukan argumentasi bahwa dulu mereka bisa karena begini-begitu.  Juga akan muncul pikiran untuk menggerus perlunya bekerja keras dengan menafikan kelangkaan pangan tersebut.  Bukankah kita akan panen raya pada bulan Juni?  Kalau masih kurang kita bisa impor beras, seperti selama ini?  Apakah masih yakin negara-negara yang selama ini memasok beras ke Indonesia masih mau menjual berasnya?

Marilah kita mulai bergerak membangun kesadaran untuk bekerja keras dan gigih memelihara gairah untuk bekerja optimal – dalam kelompok kecil.  Setiap kali Jepang akan menggulirkan program khusus mereka memulainya dalam kelompok kecil, Small Group Activity (SGA) yang merupakan bagian dari budaya Kaizen, yang mekanisme kerjanya terus diperbaiki sebelum diperluas.

Kelompok terkecil masyarakat adalah rumah tangga warga.  Kita bisa membangun budaya berbasis kepedulian dalam skala kecil dengan memanfaatkan pekarangan, walaupun hanya berupa tanaman dalam pot atau polybag.  Kalau yang kecil telah bisa kita optimalkan akan muncul gairah untuk memanfaatkan lahan yang lebih luas.  Ketika kecambah mulai tumbuh dipekarangan rumah kita sudah memulai langkah menumbuhkan semangat bertani.

Cikal bakal budaya mengoptimalkan lahan kecil untuk menanam bahan pangan boleh jadi menjadi awal perubahan bahwa kita bisa bekerja kerja.  Ketika kita peduli dan ingin meningkatkan hasil kerja kita maka pintu untuk mengoptimalkan hasil pertanian sudah terbuka.  Bukankan saat ini sudah ada petani kita yang mampu menghasilkan 13 ton gabah kering giling per hektar dari semula hanya 6 ton?  Atau ubi jalar 30 ton per hektar dengan masa panen 3 ½ bulan, yang juga bisa ditanam di polybag? Kita bisa mempelajari teknik pertanian produktif, semisal penggunaan pupuk organik hasil fermentasi dengan memanfaatkan bahan sisa di sekeliling kita.

Ketika kita sudah mau memikirkannya kita sedang melangkah membangun semangat nasionalisme pangan, asal saja dilanjutkan dengan perencanaan dan mengaktualisasikannya, menanam benih untuk hari esok, agar anak cucu kita tidak harus mengalami bencana kelaparan.

Kita bisa bekerja keras dengan semangat tinggi guna membangun nasionalisme pangan.

*) Tulisan yang sama juga dipaparkan Prof. Ambo Ala dalam dan “Kebijakan Ketahanan Pangan Menghadapi Krisis Pangan Global” – Professor Summit 2019 – ITS 4-6 April 2019.

**) MSN Report: “Countries are starting to hoard food, threatening global trade”.

(A/SL/P2)

 

Mi’raj News Agency (MINA)