Menejer Nasution: Ada Enam Faktor Tumbuhnya Terorisme

Jakarta, MINA – Direktur Pusat Studi dan Pendidikan HAM Universitas Muhammadiyah Prof Dr HAMKA (Pusdikham Uhamka) Menejer Nasution mengatakan, sedikitnya ada enam faktor yang mempengaruhi pertumbuhan paham radikal dan aksi teror di Indonesia.

“Pertama adalah faktor separatis di daerah konflik. Itu memungkinkan ada faktor ini,” kata Menejer saat diskusi bertajuk Quo Vadis Revisi UU Antiterorisme, di Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah, Jakarta, Rabu (23/5).

Hadir pada kesempatan itu sejumlah pembicara seperti Ketua PP Muhammadiyah Prof Bachtiar Effendy, Ketua PP Pemuda Muhammadiyah Dahnil Anzar Simanjuntak, Yono Reksoprodjo Ketua LHKP PPM, dan Bambang W. Umar Pengamat Kepolisian Universitas Indonesia (UI).

Faktor kedua, kata Menejer, adalah kemiskinan. Meski dalam beberapa kasus yang terjadi, ada beberapa pelaku teror yang disebut mapan atau berkecukupan. Misalnya seperti dr. Azhari dan pelaku teror di Surabaya yang menurut informasi berasal dari keluarga kaya.

“Tapi kalau dibandingkan dengan semua kasus sesungguhnya itu para pelakunya yang berangkat ke Syria dari data yang kita punya faktor kemiskinan. Jadi mereka dijanjikan dengan penghidupan yang luar biasa gitu ya yang di sini tidak tersedia. Itu juga faktor pemicu,” katanya.

Menejer melanjutkan, untuk faktor ketiga yaitu soal ketidakadilan. Ketika sebuah daerah dipimpin pemerintahan yang walaupun kita memilih sebagai negara demokrasi, tapi pola kepemimpinannya tidak demokratis misalnya. Dan di dunia ini negara yang otoriter, potensi timbul terorisme itu tinggi.

“Ini juga sangat memicu munculnya aksi teror,” katanya.

Menejer mengatakan bahwa soal dehumanisasi juga bisa menjadi faktor lain. Bagaimana  kita melihat negara kemudian tidak menghargai nilai-nilai kemanusiaan, memperlakukan warga negaranya secara tidak manusiawi, merendehkan martabat warga negara.

“Faktor keempat ini juga memunculkan sikap radikal yang kemudian memuncak dengan apa yang disebut terorisme itu,” ujarnya.

Yang kelima menurut Menejer adalah soal ada syndrom mayoritas ada tirani minoritas. Syndrom mayoritas yaitu kelompok mayoritas selama ini tidak terlalu melindungi kelompok minoritas. Tetapi pada saat bersamaan kelompok minoritas itu melakukan tirani terhadap kelompok mayoritas.

“Saya sebetulnya tidak senang dengan istilah ini. Tapi inilah temuan kami di lapangan. Saya sekali lagi tidak terlalu suka dengan istilah ini,” katanya.

Faktor keenam yaitu radikalisasi agama, ada motif agama.

“Di mana seseorang tidak memahami agama secara benar. Padahal saya kira tidak ada satupun agama yang membenarkan aksi terorisme,” katanya. (L/R06/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)

Comments: 0