Mengapa Diberi Nama Masjid Al-Aqsa?

Oleh : Ali Farkhan Tsani, Duta Al-Quds, Alumni Mu’assasah Al-Quds Ad-Dauly Shana’a, Yaman

Masjid Al-Aqsa di Palestina merupakan salah satu masjid terbesar di dunia, setelah Masjidil Haram di Makkah dan Masjid Nabawi di Madinah, dengan luas 144 dunum (14,4 hektar).

Al-Aqsa juga merupakan salah satu dari tiga masjid paling suci di kalangan umat Islam, setelah Masjidil Haram dan Masjid Nabawi.

Masjid yang terletak di dalam tembok kota tua Yerusalem ini, banyak menerima kunjungan jamaah dan wisatawan setiap hari. Terlebih pada ibadah shalat Jumat, shalat tarawih bulan suci Ramadhan, dan kini pada Subuh Jumat pagi (al-fajr al-‘adzim). Bisa mencapai hingga puluhan ribu jamaah.

Adapun nama Masjid Al-Aqsa yang disematkan pada masjid ini, adalah Allah sendiri yang memberinya nama, bersamaan dengan nama Masjidil Haram. Seperti tertuang dalam ayat :

سُبْحَٰنَ ٱلَّذِىٓ أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِۦ لَيْلًا مِّنَ ٱلْمَسْجِدِ ٱلْحَرَامِ إِلَى ٱلْمَسْجِدِ ٱلْأَقْصَا ٱلَّذِى بَٰرَكْنَا حَوْلَهُۥ لِنُرِيَهُۥ مِنْ ءَايَٰتِنَآ ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْبَصِيرُ 

Artinya : “Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS Al-Isra [17] : 1).

Secara bahasa, kata “Al-Aqsa” artinya “yang paling jauh”, karena Masjid Al-Aqsa adalah jarak masjid paling jauh dari Masjidil Haram.

Jarak antara Masjidil Haram di Mekkah dan Masjidil Aqsa di Palestina sekitar 1.500 km, yang memerlukan masa perjalanan naik unta atau kuda sekitar 40 hari lamanya.

Dr Amer Khaled, ulama asal Mesir yang berdakwah di Inggris, menambahkan, dikatakan terjauh karena ibadah di dalamnya juga dapat menjauhkan dari kotoran dan dosa.

Masjid Al-Aqsa al-Qibli. (Dok. Pinterest)

Keutamaan Masjid Al-Aqsa

Makna Al-Aqsa, sejalan dengan keutamaan shalat di dalamnya, seperti disebutkan dalam beberapa hadits, yang menyebutkan keutamaan pahala shalat di Masjid Al-Aqsa. Ada yang menyebutkan 1.000 kali, 500 kali, dan 250 kali lebih baik daripada shalat di masjid lain, selain di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi.

Hadits yang menyebutkan shalat di Masjid Al-Aqsa lebih utama 1.000 kali dibandingkan shalat di masjid lain, yaitu :

أَنَّ مَيْمُونَةَ مَوْلَاةَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَتْ يَا نَبِيَّ اللَّهِ أَفْتِنَا فِي بَيْتِ الْمَقْدِسِ فَقَالَ أَرْضُ الْمَنْشَرِ وَالْمَحْشَرِ ائْتُوهُ فَصَلُّوا فِيهِ فَإِنَّ صَلَاةً فِيهِ كَأَلْفِ صَلَاةٍ فِيمَا سِوَاهُ

Artinya : “Sesungguhnya Maimunah pembantu Nabi berkata, “Ya Nabiyallah, berilah kami fatwa tentang Baitul Maqdis”. Maka Rasulullah menjawab, “Bumi tempat bertebaran dan tempat berkumpul. Datangilah ia, maka shalatlah di dalamnya, karena sesungguhnya shalat di dalamnya seperti seribu kali shalat dari shalat di tempat lain”. (HR Ahmad).

Hadits yang menyebutkan bahwa shalat di Masjid Al-Aqsa lebih utama 500 kali dibandingkan shalat di masjid lain berasal dari Abu Dzar, yaitu :

الصلاة في المسجد الحرام بمائة ألف صلاة، والصلاة في مسجدي، بألف صلاة، والصلاة في بيت المقدس بخمس مائة صلاة

Artinya : ”Sholat di Masjidil Haram lebih utama seratus ribu kali lipat daripada sholat di masjid-masjid lainnya. Shalat di Masjid Nabawi lebih utama seribu kali lipat. Dan sholat di Masjidil Aqsa lebih utama lima ratus kali lipat.” (HR Ahmad dari Abu Darda).

Adapun hadits yang menyebutkan bahwa shalat di Masjid Al-Aqsha lebih utama 250 kali dibandingkan shalat di masjid lain, yaitu :

تَذَاكَرْنَا وَ نَحْنُ عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ: أَيُّهُمَا أَفْضَلُ, مَسْجِدُ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ أو مَسْجِدُ بَيْتِ الْمَقْدِسِ ؟ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ : صلاة في مَسْجِدِيْ هذا أَفْضَلُ مِنْ أَرْبَعِ صَلَوَاتٍ فِيْهِ وَ لَنِعْمَ الْمُصَلَّى وَ لَيُوُشِكَنَّ أَنْ لاَ يَكُوْنَ لِلَّرَجُلِ مِثْلُ شَطَنِ فَرَسِهِ مِنَ اْلأَرْضِ حَيْثُ يُرَى مِنْهُ بَيْتُ الْمَقْدِسِ خَيْرٌ لَهُ مِنَ الدُّنْيَا جَمِيْعًا أَوْ قَالَ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَ مَا فِيْهَا .

Artinya : “Kami saling bertukar pikiran tentang mana yang lebih utama, masjid Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam atau Baitul Maqdis, sedangkan di sisi kami ada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Lalu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Satu shalat di masjidku lebih utama dari empat shalat padanya, dan ia adalah tempat shalat yang baik. Dan hampir-hampir tiba masanya, seseorang memiliki tanah seukuran kekang kudanya dari tempat itu terlihat Baitul Maqdis lebih baik baginya dari dunia seluruhnya”, atau ,”lebih baik dari dunia seisinya”. (HR Ath-Thabrani dan Al-Hakim).

Kesemuanya tidaklah saling bertentangan tentunya. Namun saling melengkapi dan menandakan tingkatan kelebihan pahala shalat di Masjid Al-Aqsa

Nama Masjid Al-Aqsa juga disebutkan langsung oleh lisan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, seperti disebutkan dalam pertanyaan sahabat Nabi, Abu Dzar Al-Ghifari:

يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ مَسْجِدٍ وُضِعَ فِي الْأَرْضِ أَوَّلُ قَالَ الْمَسْجِدُ الْحَرَامُ قَالَ قُلْتُ ثُمَّ أَيُّ قَالَ ثُمَّ الْمَسْجِدُ الْأَقْصَى قَالَ أَبُو مُعَاوِيَةَ يَعْنِي بَيْتَ الْمَقْدِسِ قَالَ قُلْتُ كَمْ بَيْنَهُمَا قَالَ أَرْبَعُونَ سَنَةً

Artinya : “Wahai Rasulullah, masjid apakah yang pertama diletakkan oleh Allah di muka bumi?” Beliau bersabda, “Al-Masjid Al-Haram”. Abu Dzar bertanya lagi, “Kemudian apa?”. Beliau bersabda, “Kemudian Al-Masjid Al-Aqsha”. Berkata Abu Mu’awiyah “Yakni Baitul Maqdis” . Abu Dzar bertanya lagi, “Berapa lama antara keduanya?”. Beliau menjawab, “Empat puluh tahun”. (HR Ahmad dari Abu Dzar).

Pondasi Masjid Al-Aqsa diletakkan Allah  sejak jaman Nabi Adam ‘Alaihis Salam. Dalam kurun waktu sekian lama, bangunan itu rusak dan runtuh dimakan waktu. Areal tanah sekitar Masjid Al-Aqsa juga termasuk ke dalam kawasan masjid tersebut. Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam shalat di tanah itu, bagian Masjid Al-Aqsa.

Ibnul Qayyim Al-Jauzy menyebutkan, Masjid Al-Aqsa dibangun kembali di atas pondasinya oleh cucu Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam, yakni Nabi Ya`qub bin Ishaq bin Ibrahim ‘Alaihis Salam. Keturunan berikutnya, Nabi Daud bin Ya’qub ‘Alaihis Salam membangun ulang masjid itu. Bangunan Masjid Al-Aqsa diperbaharui oleh putera Nabi Dawud ‘Alaihis Salam, yakni Nabi Sulaiman ‘Alaihis Salam.

Mereka para Nabi utusan Allah membangun kembali Masjid Al-Aqsa adalah untuk tempat ibadah mendirikan shalat di dalamnya, bukan mendirikan kuil sinagog seperti seperti klaim Zionis Yahudi.

Begitulah nama Masjid Al-Aqsa merupakan nama yang agung, mulia lagi penuh berkah, yang dinamai langsung oleh Allah, dan disebutkan langsung juga oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Kita sebagai umat Islam, juga sangat dianjurkan untuk berziarah, berkunjung dan shalat di Masjid Al-Aqsa, seperti disebutkan dalam hadits:

لاَ تُشَدُّ الرِّحَالُ إِلاَّ إِلَى ثَلَاثَةِ مَسَاجِدَ مَسْجِدِ الْحَرَامِ وَمَسْجِدِي هَذَا وَالْمَسْجِدِ الْأَقْصَ

Artinya : “Tidak dikerahkan melakukan suatu perjalanan kecuali menuju tiga Masjid, yaitu Masjid Al-Haram (di Mekkah), dan Masjidku (Masjid An-Nabawi di Madinah), dan Masjid Al-Aqsa (di Palestina)”.  (H.R. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu).

Dengan dasar hadits ini, Masjid Al-Aqsa merupakan tempat kunjungan yang mulia. Maka sangat dianjurkan untuk berziarah ke sana, shalat di dalamnya, dan mengetahui secara mendalam tentangnya.

Begitu mulianya berziarah ke masjid Al-Aqsa tersebut, hampir seluruh sahabat utama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pernah berkunjung ke sana. Beberapa di antaranya yaitu Umar bin Khattab saat menjadi Khalifah, Abu Hurairah, Sa’ad bin Abi Waqqash, Abdullah bin Umar, Abdullah bin ‘Abbas, Abu Ubaidah bin Jarrah,Mu’az bin Jabbal, Bilal bin Rabbah, Khalid bin Walid, Abu Dzar Al-Ghiffari, Salman Al-Farisi, Abu Darda, Abu Mas’ud Al-Anshari, Amr bin ‘Ash, Abdullah bin Salam, Said bin Zaid, Murrah bin Ka’ab, Abdullah bim Amr bin Ash, Mu’awiyah bin Abu Sufyan, Auf bin Malik, Ubadah bin Shamit, Sa’id bin Al-Ash, dan Shafiyah isteri Rasulullah.

Demikian pula kalangan ‘ulama dari kalangan tabi’in dan tokoh-tokoh ahli fiqih terkenal pernah berziarah ke Masjid Al-Aqsa, di antaranya Imam Asy-Syafi’i.

Imam Syafi’i lahir di Jalur Gaza, beberapa puluh kilometer dari Baitul Maqdis (Al-Aqsha), pada bulan Rajab tahun 150 H (766 M.).

Ulama lainnya, Imam Al-Ghazali. Semasa hidupnya, pada tahun 489 H, Imam Al-Ghazali masuk kota Damaskus, Suriah, dan tinggal beberapa hari. Kemudian menziarahi Baitul Maqdis (Al-Aqsa) di Palestina untuk waktu beberapa lama.

Demikian pula, Syaikh Ibnu Hajar Al-Asqalani (773-852 H), penyusun Kitab Fathul Baari Syarah Shahih Bukhari dan Kitab Bulughul Maram min Adillatil Ahkam.

Ia lahir di Asqalani, sebuah kota yang masuk dalam wilayah Palestina, dekat Ghuzzah. Semasa hidupnya, Syaikh Ibnu Hajar di samping ke Baitul Maqdis (Al-Aqsa), juga bersilaturrahim ke banyak kota-kota di Palestina, seperti Nablus, Khalil, Ramlah dan Ghuzzah. Beliau bertemu dengan para ulama di tempat-tempat tersebut dan mengambil manfaat dari mereka.

Rabiah Al-Adawiyah yang dikenal sebagai wanita sufi, lahirkan di Basrah (Irak), bahkan saar wafatnya tahun 135 Hijriyah, pada usia 80 tahun, dimakamkan di Baitul Maqdis (Al-Aqsa).

Tentu ada Panglima Shalahuddin Al-Ayyubi, yang tidak mau tersenyum semasa hidupnya, sebelum Baitul Maqdis (Al-Aqsa) dibebaskannya.

Saat ini, banyak kaum Muslimin dari berbagai penjuru dunia, yang melaksanakan Umrah Plus Aqsha, yaitu melakukan perjalanan ibadah Umrah ke Baitullah di Makkah Al-Mukarramah, kemudian berziarah ke makam Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Lalun dilanjutkan berziarah ke Al-Aqsa. Atau ke Al-Aqsa dulu, baru kemudian ke Madinah dan Makkah.

Begitulah, sehingga para penjaga Al-Aqsa (murabithun), atau kalau di Indonesia bisa disebut marbot, dan warga Muslim sekitarnya merasa bahwa mereka tidak ditinggalkan oleh saudara-saudaranya.

Begitu pulalah, karena memang Masjid Al-Aqsa adalah hak kita semua umat Islam. Maka Masjid Al-Aqsa disebut juga dengan “Haqquna” alias “Al-Aqsa Haqquna”. (A/RS2/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)