Mengapa Harus Berziarah ke Masjid Al-Aqsha?

Oleh: Ali Farkhan Tsani, Duta Al-Quds, Redaktur Senior Kantor Berita MINA

Mengapa kita harus berziarah ke Masjid Al-Aqsha di Palestina? Ada apakah di sana dan sebegitu pentingkah? Bukankah masih banyak problem juga di negeri sendiri?

Kalau orang berbelanja itu bukan memperturutkan keinginan, ingin ini, ingin itu. Namun karena keperluan, memang perlu dibeli, dan harus dibeli.

Jadi, bukan semata ingin ke Al-Aqsha, tapi memang harus. Landasan utamanya, karena memang Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menekankan demikian. Seperti termaktub di dalam hadits:

لاَ تُشَدُّ الرِّحَالُ إِلاَّ إِلَى ثَلَاثَةِ مَسَاجِدَ مَسْجِدِ الْحَرَامِ وَمَسْجِدِي هَذَا وَالْمَسْجِدِ الْأَقْصَ

Artinya : “Tidak dikerahkan melakukan suatu perjalanan kecuali menuju tiga Masjid, yaitu Masjid Al-Haram (di Mekkah), dan Masjidku (Masjid An-Nabawi di Madinah), dan Masjid Al-Aqsha (di Palestina)”.  (H.R. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu).

Dengan dasar hadits ini, Masjid Al-Aqsha merupakan tempat kunjungan atau ziarah yang mulia. Maka sangat dianjurkan untuk berziarah ke sana, shalat di dalamnya, dan mengetahui secara mendalam tentangnya.

Begitu mulianya berziarah ke masjid Al-Aqsha tersebut, hampir seluruh sahabat utama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pernah berkunjung ke sana. Beberapa di antaranya yaitu Umar bin Khattab saat menjadi Khalifah, Abu Hurairah, Sa’ad bin Abi Waqqash, Abdullah bin Umar, Abdullah bin ‘Abbas, Abu Ubaidah bin Jarrah,Mu’az bin Jabbal, Bilal bin Rabbah, Khalid bin Walid, Abu Dzar Al-Ghiffari, Salman Al-Farisi, Abu Darda, Abu Mas’ud Al-Anshari, Amr bin ‘Ash, Abdullah bin Salam, Said bin Zaid, Murrah bin Ka’ab, Abdullah bim Amr bin Ash, Mu’awiyah bin Abu Sufyan, Auf bin Malik, Ubadah bin Shamit, Sa’id bin Al-Ash, dan Shafiyah isteri Rasulullah.

Demikian pula kalangan ‘ulama dari kalangan tabi’in dan tokoh-tokoh ahli fiqih terkenal pernah berziarah ke Masjid Al-Aqsha, di antaranya Imam Asy-Syafi’i.

Imam Syafi’i lahir di Jalur Gaza, beberapa puluh kilometer dari Baitul Maqdis (Al-Aqsha), pada bulan Rajab tahun 150 H (766 M.).

Ulama lainnya, Imam Al-Ghazali. Semasa hidupnya, pada tahun 489 H, Imam Al-Ghazali masuk kota Damaskus, Suriah, dan tinggal beberapa hari. Kemudian menziarahi Baitul Maqdis (Al-Aqsha) di Palestina untuk waktu beberapa lama.

Demikian pula, Syaikh Ibnu Hajar Al-Asqolani (773-852 H), penyusun Kitab Fathul Baari Syarh Shahih Bukhari dan Kitab Bulughul Marom min Adillatil Ahkam.

Ia lahir di Asqalani, sebuah kota yang masuk dalam wilayah Palestina, dekat Ghuzzah. Semasa hidupnya, Syaikh Ibnu Hajar di samping ke Baitul Maqdis (Al-Aqsha), juga bersilaturrahim ke banyak kota-kota di Palestina, seperti Nablus, Khalil, Ramlah dan Ghuzzah. Beliau bertemu dengan para ulama di tempat-tempat tersebut dan mengambil manfaat dari mereka.

Rabiah Al-Adawiyah yang dikenal sebagai wanita sufi, lahirkan di Basrah (Irak), bahkan saar wafatnya tahun 135 Hijriyah, pada usia 80 tahun, dimakamkan di Baitul Maqdis (Al-Aqsha).

Tentu ada Panglima Shalahuddin Al-Ayyubi, yang tidak mau tersenyum semasa hidupnya, sebelum Baitul Maqdis (Al-Aqsha) dibebaskannya.

Saat ini, banyak kaum Muslimin dari berbagai penjuru dunia, yang melaksanakan Umrah Plus Aqsha, yaitu melakukan perjalanan ibadah Umrah ke Baitullah di Makkah Al-Mukarramah, kemudian berziarah ke makam Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Lalu dilanjutkan berziarah ke Al-Aqsha. Atau ke Al-Aqsha dulu, baru kemudian ke Madinah dan Makkah.

Banyak jamaah dari Indonesia, Malaysia, Turki dan sebagainya melakukan traveling ke Al-Aqsha, Yerusalem Timur tersebut.

Dorongan lainnya adalah keutamaan pahala jika kita umat Islam shalat di Masjid Al-Aqsha. Ada yang menyebutkan 1.000 kali, 500 kali, dan 250 kali lebih baik daripada shalat di masjid lain, selain Masjidil Haram dan Masjid Nabawi.

Hadits yang menyebutkan shalat di Masjid Al-Aqsha lebih utama 1.000 kali dibandingkan shalat di masjid lain, yaitu :

أَنَّ مَيْمُونَةَ مَوْلَاةَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَتْ يَا نَبِيَّ اللَّهِ أَفْتِنَا فِي بَيْتِ الْمَقْدِسِ فَقَالَ أَرْضُ الْمَنْشَرِ وَالْمَحْشَرِ ائْتُوهُ فَصَلُّوا فِيهِ فَإِنَّ صَلَاةً فِيهِ كَأَلْفِ صَلَاةٍ فِيمَا سِوَاهُ

Artinya : “Sesunggunya Maimunah pembantu Nabi berkata, “Ya Nabiyallah, berilah kami fatwa tentang Baitul Maqdis”. Maka Rasulullah menjawab, “Bumi tempat bertebaran dan tempat berkumpul. Datangilah ia, maka shalatlah di dalamnya, karena sesungguhnya shalat di dalamnya seperti seribu kali shalat dari shalat di tempat lain”. (HR Ahmad).

Di samping itu, juga upaya napak tilas menghayati mukjizat Isra’ Mi’raj Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Begitulah, jika kita berziarah ke kawasan Al-Aqsha, berarti kita telah memuliakan para nabi utusan Allah, yang banyak diturunkan di kawasan Masjid Al-Aqsha Palestina dan sekitarnya. Jejak-jejak langkah kaki para Nabi utusan dalam berdakwah mengesakan Allah, mengajak manusia menyembah dan memperibadati Allah, terukir abadi di negeri para Nabi, Al-Aqsha Palestina.

Bahkan pada waktu Isra Mi’raj, Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mengimami shalat jama’ah bersama para nabi di kawasan Masjid Al-Aqsha. Sehingga siapapun yang berkunjung ke Masjid Al-Aqsha, maka di situlah jejak para Nabi pernah shalat dan bersujud kepada Allah.

Peziarah dapat pula menyaksikan bukti-bukti sejarah peninggalan sejarah Islam di sana, seperti dengan adanya makam-makam para Nabi utusan Allah. Sebut saja makam Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam, makam Nabi Syu’aib ‘Alaihis Salam, makam Nabi Musa ‘Alaihis Salam, makam Nasebi Dawud ‘Alaihis Salam, makam Nabi Yunus ‘Alaihis Salam, dan makam Nabi Sulaiman ‘Alaihis Salam.

Semoga Allah memberikan kesempatan kepada kita untuk dapat berziarah dan shalat di Masjidil Aqsha, negeri penuh berkah, negeri para Nabi utusan Allah. Aamiin. (A/RS2/RI-1)

Mi’raj News Agency (MINA)