Mengapa Israel Cegah Renovasi Al-Aqsa?

Yerusalem, MINA – Untuk ketiga kalinya dalam waktu yang singkat, Israel mencegah renovasi Masjid Al-Aqsa. Terakhir adalah pencegahan pekerjaan pemeliharaan Kubah Sakhrah, sehubungan dengan penutupan kawasan.

Tindakan Israel terhadap kompleks Al-Aqsa terus berlanjut. Dewan Wakaf Yerusalem baru-baru ini mengungkapkan bahwa timi Israel telah melakukan pengukuran area dan bangunan di dalam kompleks Al-Aqsa.

Sebelumnya dilaporkan adanya penyitaan rumah dari tokoh-tokoh terkenal Yerusalem, dalam konteks penghapusan semua situs Arab dan Islam, serta upaya mengubah identitas tempat dan komposisi sosial penduduknya.

Ini bukan pertama kalinya Israel bertindak ilegal terhadap kompleks Al-Aqsa dan mencoba memaksakan kedaulatannya di atasnya.

Seiring dengan konflik yang semakin dan ancaman terus-menerus Israel dari kelompok ekstremis, Israel menginginkan kendali penuh atas semua daerah Bukit Suci.

Polisi Israel pun selalu mengawal ektsremis Yahudi melalui operasi penyerbuan, mengancam jamaah, mengendalikan gerbang, dan mencegah jamaah kaum Muslimin dengan dalih pencegahan penyebaran virus Covid-19.

Pada saat otoritas Israel mencegah operasi renovasi di dalam Masjid Al-Aqsa, penggalian justru terus berlanjut di bawah dan di sekitar Masjid Al-Aqsa.

“Ini berarti bahwa pelarangan di sini terutama bersifat politis, dalam konteks pengendalian situasi di dalam Masjid Al-Aqsa,” ujar Maher Abu Thir, seperti disebutkan Al-Ghad, pada Selasa (26/1).

“Jelas konteks ini mengarah ke tahap yang lebih berbahaya pada periode mendatang. Tidak sedikit di antaranya adalah pembongkaran salah satu dari dua masjid di kawasan Al-Aqsa, yaitu Al-Qibli dan Kubah Sakhrah,” lanjutnya.

Adanya pembagian waktu dan tempat, merupakan skenario Israel  selama beberapa dekade terakhir.

Krisis di Kota Tua Yerusalem bukan hanya krisis agama, tetapi lebih merupakan krisis politik, karena proyek Israel ingin menghapus identitas kota, mengubahnya, dan memaksakannya sepenuhnya di bawah kontrol penuh mereka.

Otoritas pendudukan atas nama nama kedaulatan dan kemampuannya, berusaha menghalangi kedatangan jamaah warga Muslim sekitar untuk memasuki Al-Aqsa untuk beribadah atau melakukan pekerjaan pemeliharaan biasa.

Fakta menunjukkan rencana Israel itu semakin intensif setelah AS menyatakan pengakuan pemerintah atas Yerusalem sebagai ibu kota Israel, yang memberikan lampu hijau untuk Israel melanjutkan proyeknya.

Sebenarnya, upaya renovasi Masjid Al-Aqsa sudah sangat mendesak mengingat berdasarkan laporan yang memastikan bahwa terdapat masalah pada kohesi dan keawetan bangunan akibat faktor waktu, usia, kondisi cuaca, dan keusangan. Dan juga akibat penggalian di bawah fondasi Masjid Al-Aqsa dan penggalian terowongan memanjang keluar kawasan.

Tindakan Israel memang telah membuat seluruh bangunan di kawasan Al-Aqsa terancam, yang mungkin menyebabkan runtuhnya beberapa bangunan atau tembok. Ini seperti beberapa kali dilaporkan jamaah dan menurut kesaksian para ahli jamaah, yang mendokumentasikan kejadian-kejadian ini.

Dunia Islam dan masyarakat internasional perlu bertindak, mengingat Masjid Al-Aqsa merupakan hak milik umat Islam dan menjadi situs keagamaan yang wajib dilindungi bersama.

Lebih dari itu, Al-Aqsa bukanlah sekedar situs arkeologi, melainkan situs keagamaan dan kepentingan politik dan sosial.

Agar Israel segera menghentikan praktik sewenang-wenang mereka terhadap tanah yang didudukinya. (A/RS2/P1)

Sumber: Al-Ghad

Mi’raj News Agency (MINA)