ALLAH Subhanahu wa Ta’ala menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. “Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” (QS. At-Tin: 4)
Allah menciptakan manusia dari jasad dan ruh serta menyediakan makanan bagi keduanya. Jasad memperoleh makanannya dari sumber fisik seperti makanan dan minuman, yang harus diusahakan melalui pertanian, berburu, atau cara lainnya.
Allah mempermudah manusia dalam memperoleh makanan dengan mendekatkannya kepada mereka. Manusia hanya perlu menanam benih dan merawatnya, lalu tumbuhan akan tumbuh dengan izin Allah. Jika Allah mencabut kemampuan tumbuhan untuk tumbuh, manusia tentu tidak akan mampu menumbuhkannya sendiri.
“Kamukah yang menumbuhkan pohon itu, ataukah Kami yang menumbuhkannya?” (QS. Al-Waqi’ah: 72)
Baca Juga: Self-Love Dalam Islam: Antara Qana’ah dan Syukur
Demikian pula dengan air, Allah mendekatkannya kepada manusia agar lebih mudah diakses. Jika air tenggelam terlalu dalam ke dalam bumi, manusia tidak akan mampu mengeluarkannya.
“Katakanlah, ‘Terangkanlah kepadaku jika air kalian hilang ke dalam bumi, maka siapakah yang dapat mendatangkan air yang mengalir bagi kalian?'” (QS. Al-Mulk: 30)
Adapun ruh, yang hakikatnya sulit diketahui, Allah telah membimbingnya dengan mendekatkan makanan ruhani serta mengutus para rasul untuk memberikan petunjuk. Allah juga menganugerahkan akal kepada manusia agar mereka dapat beriman.
Jika suatu kaum menyimpang dari jalan yang lurus, Allah mengutus seorang rasul dari kalangan mereka sendiri untuk mengembalikan mereka ke jalan yang benar. Allah mendukung para rasul-Nya dengan mukjizat sebagai bukti kebenaran mereka dan sebagai hujjah atas umat mereka.
Baca Juga: Peluang Indonesia di Forum Ekonomi Internasional Rusia-Dunia Islam 2025
Sunnatullah dalam mukjizat adalah bahwa mukjizat yang diberikan kepada setiap nabi sesuai dengan keahlian kaumnya. Dengan demikian, mukjizat tersebut menjadi bukti yang lebih kuat dan dalil yang lebih jelas.
Tantangan akan lebih bermakna jika disampaikan dalam bidang yang dikuasai oleh lawan. Jika seorang pemuda menantang seorang pria tua dalam perlombaan lari, sementara pria tua itu hanya bisa berjalan dengan tongkat, tantangan tersebut hanya akan menjadi bahan ejekan. Namun, jika tantangan itu ditujukan kepada seseorang yang dikenal karena kecepatan larinya, maka itu akan lebih dihargai.
Demikian pula mukjizat para nabi. Allah menampakkannya dalam bidang yang dikuasai oleh kaum mereka, bahkan melampaui batas kemampuan mereka.
Mukjizat Nabi Musa
Allah mengutus Nabi Musa a.s kepada suatu kaum yang sangat mahir dalam ilmu sihir. Namun, sihir memiliki batas yang tidak dapat dilampaui. Seorang penyihir tidak bisa mengubah selembar kertas menjadi uang sungguhan, melainkan hanya menciptakan ilusi. Jika ilusi itu menghilang, benda tersebut kembali ke wujud aslinya.
Para penyihir Firaun melemparkan tali dan tongkat mereka sehingga tampak seolah-olah bergerak:
Baca Juga: Zakat Produktif: Solusi Mandiri untuk Pengentasan Kemiskinan
“Terbayang oleh Musa seakan-akan tali-tali itu bergerak karena sihir mereka.” (QS. Thaha: 66)
Namun, ketika Musa a.s melemparkan tongkatnya, Allah berfirman:
“Maka tiba-tiba tongkat itu menjadi ular besar yang sebenarnya bergerak.” (QS. Thaha: 20)
Tongkat itu benar-benar berubah menjadi ular hidup, sesuatu yang mustahil dilakukan oleh sihir. Mukjizat Musa a.s terjadi dalam bidang yang dikuasai oleh kaumnya, yaitu mengubah sesuatu dari satu keadaan ke keadaan lain. Namun, perbedaannya terletak pada hakikat perubahan tersebut: sihir hanya mengubah kenyataan menjadi ilusi, sedangkan mukjizat Musa benar-benar mengubah sesuatu dari satu kenyataan ke kenyataan lainnya. Jika para penyihir saja tidak mampu menandingi mukjizat itu dalam bidang yang mereka kuasai, maka dalam hal lain yang berada di luar kemampuan mereka, tentu mereka lebih tidak berdaya lagi.
Baca Juga: Proyeksi Penerapan Hidup Berjamaah di Masa Depan
Karena itulah, orang pertama yang menyadari keajaiban mukjizat Musa a.s adalah para penyihir itu sendiri. Mereka langsung memahami bahwa mukjizat tersebut bukanlah sihir, karena sihir tidak mampu mencapai tingkat keajaiban seperti itu. Mereka juga menyadari bahwa mukjizat itu bukan berasal dari Musa sendiri, melainkan dari Tuhan Musa. Oleh sebab itu, tanpa ragu dan tanpa perlu berdiskusi dengan siapa pun, mereka segera beriman, karena apa yang mereka saksikan jauh lebih meyakinkan daripada sekadar perenungan dan pertimbangan.
Mukjizat Nabi Isa
Pada masa Nabi Isa a.s, ilmu kedokteran berkembang pesat. Namun, ilmu kedokteran hanya mampu mengobati tubuh selama ruh masih berada di dalamnya. Jika ruh telah keluar, dokter dan obat-obatan tidak lagi berdaya.
Mukjizat Nabi Isa a.s melampaui batas ilmu kedokteran. Beliau berkata:
“Aku datang kepada kalian dengan tanda dari Tuhan kalian: Aku membuat untuk kalian dari tanah berbentuk burung, lalu aku meniupnya, maka ia menjadi burung dengan izin Allah. Aku menyembuhkan orang buta sejak lahir dan penderita kusta, serta menghidupkan orang mati dengan izin Allah.” (QS. Ali Imran: 49)
Baca Juga: Pengaruh Shaum Dalam Membangun Kepribadian
Mukjizat ini berada dalam bidang yang dikuasai oleh kaumnya, yaitu ilmu pengobatan, tetapi dengan tingkatan yang jauh melampaui kemampuan mereka.
Mukjizat Nabi Shaleh
Kaum Nabi Shaleh a.s sangat ahli dalam seni pahat, bahkan mereka bisa memahat gunung menjadi rumah-rumah yang dihiasi dengan ukiran indah. Namun, seorang pemahat, seberapa pun hebatnya, hanya bisa membuat patung, tetapi tidak bisa menghidupkannya.
Maka, mukjizat Nabi Shaleh a.s adalah mengeluarkan seekor unta hidup dari batu yang mereka pahat—seekor unta yang bisa makan, minum, dan menghasilkan susu. Seorang pemahat mungkin bisa membuat patung unta, tetapi ia tidak akan pernah bisa menjadikannya hidup.
Mukjizat Nabi Muhammad ﷺ
Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus, bangsa Arab saat itu hidup dalam masyarakat jahiliyah yang terpuruk dalam aspek politik, ekonomi, dan sosial.
Baca Juga: Kaum Muslimin Saatnya Berperan Bukan Baperan
Kondisi Politik
Bangsa Arab dikelilingi oleh berbagai pemerintahan besar, seperti Kekaisaran Persia yang dipimpin Kisra, Kekaisaran Romawi dengan Qaisar-nya, Muqawqis di Mesir, serta Najasyi di Habasyah (Ethiopia). Namun, di Hijaz, tidak ada sistem pemerintahan yang kuat. Tidak ada raja, pemimpin, atau amir yang berkuasa secara menyeluruh. Hanya ada para pemuka kabilah yang justru lebih sering memicu perpecahan daripada menyatukan umat.
Akibatnya, bangsa Arab menjadi lemah dan diremehkan oleh bangsa lain. Para pemimpin mereka yang pergi ke Syam, misalnya, memasuki negeri itu seperti rakyat biasa, tanpa status istimewa. Berbeda dengan pemimpin Persia yang jika mengunjungi Romawi akan disambut dengan kehormatan besar. Sementara itu, para pemimpin Arab hanya berkunjung ke pasar untuk berdagang, tanpa ada yang mengenali atau menghormati mereka. Bagaimana mungkin kepemimpinan semacam ini bisa memiliki wibawa?
Kondisi Ekonomi
Perekonomian mereka bergantung pada tiga sektor utama: industri, pertanian, dan perdagangan. Namun, industri hampir tidak berkembang. Jika ada, pekerjanya biasanya orang asing, seperti tukang kayu dari Persia atau pandai besi dari Romawi.
Pertanian pun tidak maju karena tanah yang tandus, sumber air yang terbatas, dan kurangnya keahlian bertani. Satu-satunya tanaman yang bisa tumbuh dalam jumlah terbatas adalah kurma, yang dapat disimpan dan diperdagangkan. Tanaman lainnya sulit bertahan dalam kondisi cuaca yang keras.
Baca Juga: Pesan Tabligh Akbar 1446H, Sambut Ramadhan dengan Kesucian Hati
Sektor perdagangan juga terbatas, hanya mengandalkan dua perjalanan utama: perjalanan musim dingin ke Yaman dan musim panas ke Syam. Dengan keterbatasan sarana dan sumber daya, bagaimana mungkin perdagangan ini bisa menopang perekonomian bangsa? Jika kondisi industri, pertanian, dan perdagangan sudah lemah, maka bagaimana keadaan ekonomi mereka? Dan jika ekonomi mereka lemah, bagaimana kehidupan keseharian mereka?
Kondisi Sosial
Masyarakat Arab saat itu terdiri dari berbagai kabilah yang sering berperang hanya karena alasan sepele. Konflik dapat berlangsung bertahun-tahun tanpa ada penyelesaian.
Bahkan dalam lingkup keluarga, perpecahan juga tampak jelas. Perempuan diperlakukan sebagai barang dagangan—dijual, dihibahkan, disewakan, bahkan diwariskan seperti harta benda. Tidak mengherankan jika kasih sayang orang tua terhadap anak melemah. Seorang ayah bahkan tega membunuh anaknya karena takut miskin atau mengubur hidup-hidup anak perempuannya karena takut aib.
Dengan kondisi seperti ini, bangsa Arab tidak memiliki sistem politik yang menyatukan mereka, tidak ada ekonomi yang mempererat kepentingan bersama, dan tidak ada kedamaian dalam hubungan sosial mereka. Yang mereka warisi hanyalah permusuhan dan kebencian. Kebiasaan mereka adalah merampas dan menjarah, sementara sesembahan mereka hanyalah berhala dan patung.
Baca Juga: Peran Strategis Keluarga dalam Pengembangan Literasi Umat Menuju Masyarakat Madani
Kebiasaan Berbicara dan Sastra
Karena mereka tidak sibuk mengatur negara, tidak memiliki sistem ekonomi yang besar, dan tidak memiliki pertanian yang produktif, mereka memiliki banyak waktu luang. Waktu itu mereka habiskan dengan berkumpul di pasar atau tempat pertemuan, berbincang, dan berdebat. Oleh karena itu, mereka sangat mahir dalam berbicara, menikmati keindahan bahasa, dan mengagumi ungkapan yang fasih serta indah.
Mereka bahkan mengadakan pasar khusus untuk mempertunjukkan syair dan pidato. Setiap kabilah mengirim perwakilan untuk membanggakan keutamaan sukunya melalui syair. Orang-orang pun percaya pada kata-kata penyair, meskipun mereka tahu isinya sering kali berlebihan atau bahkan dusta.
Karena pengaruh besar kata-kata dalam budaya mereka, sebuah kabilah bisa menjadi rendah jika dihina dalam syair, meskipun isinya tidak benar. Sebaliknya, mereka akan bangga jika dipuji dalam syair. Semua ini menunjukkan betapa besar peran bahasa dan retorika dalam masyarakat Arab saat itu.
Mukjizat Al-Qur’an
Ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala menghendaki kebaikan bagi bangsa Arab dan mengutus Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, mukjizat yang diberikan kepada beliau pun sesuai dengan kondisi mereka: Al-Qur’an. Sebuah kitab yang dibacakan dan didengarkan, yang keindahan bahasanya melampaui kefasihan mereka dan keistimewaannya memukau akal mereka.
Baca Juga: Kejahatan Zionis di Era Digital
Namun, kaum Quraisy tetap menentang dakwah Rasulullah, bahkan berusaha menghentikannya dengan berbagai cara. Maka, Allah menantang mereka untuk mendatangkan kitab serupa Al-Qur’an. Jika tidak mampu, cukup sepuluh surah saja. Jika masih tak sanggup, cukup satu surah yang setara dengannya.
Tantangan ini justru lebih berat bagi mereka daripada peperangan. Mereka sadar sejak awal bahwa mereka tidak akan mampu menandinginya. Karena itu, mereka bahkan tidak berani mencoba. Sebab, jika mereka gagal, mereka akan menjadi bahan ejekan di hadapan kaumnya—seperti seseorang yang mencoba melompati gedung pencakar langit hanya dengan kakinya. Maka, mereka lebih memilih peperangan, meskipun lebih berat, daripada harus menandingi Al-Qur’an.
Jika ada yang bertanya: Jika mereka sadar akan keajaiban Al-Qur’an, mengapa mereka tidak tunduk kepadanya? Jawabannya adalah: mereka sebenarnya memahami kekuatan Al-Qur’an, tetapi mereka berusaha sekuat tenaga untuk menolaknya.
Mereka bahkan memperingatkan orang-orang agar tidak duduk bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam atau mendengarkan bacaannya. Jika beliau membacakan Al-Qur’an di tempat umum, mereka segera membuat kegaduhan agar suaranya tidak terdengar, sebagaimana firman Allah:
Baca Juga: Menjaga Kesehatan Saat Menghadiri Tabligh Akbar: Ini 7 Kiatnya
وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَا تَسْمَعُوا لِهَذَا الْقُرْاٰنِ وَالْغَوْا فِيهِ لَعَلَّكُمْ تَغْلِبُونَ
“Dan orang-orang kafir berkata: ‘Janganlah kamu mendengarkan Al-Qur’an ini dan buatlah kegaduhan terhadapnya agar kamu dapat mengalahkan.'” (QS. Fussilat: 26)
Mereka tahu bahwa hanya dengan mendengarkan Al-Qur’an saja, hati seseorang bisa luluh. Namun, keangkuhan dan kesombongan menghalangi mereka menerima kebenaran.
Sebaliknya, ketika tidak ada sikap keras kepala, kita melihat bagaimana pengaruh Al-Qur’an begitu kuat. Misalnya, ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus Mush’ab bin Umair dan Abdullah bin Ummi Maktum ke Madinah untuk mengajarkan Al-Qur’an, penduduk Madinah segera menerima Islam dengan hati terbuka.
Oleh karena itu, dikatakan “Negeri-negeri ditaklukkan dengan pedang, tetapi Madinah ditaklukkan dengan Al-Qur’an.”
Orang-orang yang mencari kebenaran, hatinya langsung terpikat oleh Al-Qur’an dan tunduk kepadanya. Para sahabat Rasulullah, yang merupakan orang Arab asli, memahami Al-Qur’an dengan fasih. Jika ada sesuatu yang belum mereka pahami, mereka bertanya kepada Rasulullah, lalu beliau menjelaskan.
Mereka terus membaca, merenungkan, dan mempelajari Al-Qur’an, hingga banyak di antara mereka yang menghafalnya serta memahami maknanya dengan baik. Maka, Al-Qur’an bukan hanya menjadi mukjizat dalam hal bahasa, tetapi juga menjadi pedoman hidup yang mengubah peradaban bangsa Arab selamanya. (Fatah Ramadhani)
Referensi: Dirosah fii Ulumul Quran karangan Syeikh Fahd Ar-Rumy