Mengenal Lebih Dekat Sosok Syaikh Ali Jaber

Syaikh Ali Jaber baru-baru ini menjadi perbincangan publik pascainsiden penusukan yang ia alami saat memberi ceramah di sebuah masjid di Bandar Lampung, Sabtu sore (13/9).

Lalu siapakah sosok Syaikh Ali Jaber itu?

Pemilik nama lengkap Syaikh Ali Saleh Muhammad Ali Jaber ini lahir di Madinah, 3 Februari 1976. Ia merupakan anak pertama dari 12 bersaudara dan menikah dengan Umi Nadia, wanita kelahiran Indonesia asal Lombok, Nusa Tenggara Barat. Pasangan ini dikaruniai anak bernama Hasan.

Sejak kecil Syaikh Ali Jaber dapat bimbingan agama oleh ayahnya. Ayahnya adalah penceramah agama yang mengharapkan anaknya menjadi seperti dirinya. Syaikh Ali Jaber sejak kecil belajar Al-Quran. Ia merasa punya beban dan tanggung jawab atas keinginan ayahnya. Apalagi dia anak pertama yang diharapkan meneruskan perjuangan ayahnya.

Oleh karena itu, dalam perjalanan hidupnya, Syaikh Ali Jaber menyadari akan kebutuhan sendiri untuk menghapal Al-Quran. Tak heran pada usia anak-anak, 10 tahun, Syaikh Ali Jaber sudah menghapal 30 juz Al-Quran. Bahkan sejak usia 13 tahun, ia diamanahkan menjadi imam masjid di salah satu masjid di Kota Madinah.

Syaikh Ali Jaber menyelesaikan pendidikan formal dari ibtidaiyah hingga aliyah di Madinah. Setelah lulus sekolah menengah, ia melanjutkan pendidikan khusus pendalaman Al-Quran pada tokoh dan ulama ternama di Madinah dan luar Madinah, Arab Saudi.

Para ulama yang menjadi girunya di antaranya Syaikh Muhammad Husein Al-Qari’ (Ketua Ulama Qira’at di Pakistan), Syaikh Said Adam (Ketua Pengurus Makam Rasulullah), Syaikh Khalilul Rahman (Ulama Alquran di Madinah dan Ahli Qiraat), Syaikh Khalil Abdurahman (seorang ulama ahlul Quran di Kota Madinah), Syaikh Abdul Bari’as Subaity (Imam Masjid Nabawi dan Masjidil Haram), Syaikh Prof. Dr. Abdul Azis Al-Qari’ (Ketua Majelis Ulama Percetakan Al-Qur’an Madinah dan Imam Masjid Quba), dan Syaikh Muhammad Ramadhan (Ketua Majelis Tahfidzul Qur’an di Masjid Nabawi).

Selama penggembelangan dirinya, ia juga rutin mengajar dan berdakwah khususnya di tempat tinggalnya, yakni masjid tempat ayahnya mensyiarkan Islam dan Ilmu Al-Quran. Selama di Madinah ini, ia juga aktif sebagai guru hapalan Al-Quran di Masjid Nabawi dan menjadi imam shalat di salah satu masjid Kota Madinah.

Berdakwah keliling Indonesia

Pada 2008, kala usia 32 tahun, Syaikh Ali Jabir terbang ke Indonesia. Ia menuju ke Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), asal istrinya tinggal. Di sini ia menjadi guru tahfidz (hapalan) Quran, imam shalat, khatib di Masjid Agung Al- Muttaqin Cakranegara Lombok, NTB, Indonesia.

Kariernya berlanjut saat ia diminta menjadi imam shalat tarawih di Masjid Sunda Kelapa, Menteng, Jakarta. Selain itu, ia juga menjadi pembimbing tadarus Al-Quran dan imam shalat ied di masjid tersebut.

Kehadiran Syaikh Ali Jaber ternyata mendapat sambutan yang sangat baik oleh masyarakat Indonesia. Dakwahnya yang menyejukkan, penyampaiannya sangat rinci, dan berisi dengan ayat-ayat Al-Quran dan hadits. Ia mulai sering dipanggil keliling Indonesia untuk syiar Islam.

Ketulusannya berdakwah, ia mendapat penghargaan dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Pada 2011, ia menjadi Warga Negara Republik Indonesia. Sejak itu ia rutin mengisi acara Damai Indonesiaku di TvOne dan menjadi juri Hafizh Indonesia di RCTI.

Untuk menyiarkan Islam lebih efektif dan melahirkan para penghapal Al-Quran di Indonesia, seperti ditulis dalam situsnya, ia mendirikan Yayasan Syaikh Ali Jaber berkantor di Jatinegara, Jakarta, dan ia sendiri tinggal di Pondok Bambu, Jakarta Timur.

Karier Syaikh Ali Jaber terus mengalir. Dia mulai tampil di berbagai program telivisi. Bahkan ia juga menjadi aktor dalam film Surga Menanti, pada 2016. Film berkisah tentang Dafa (Syakir Daulay) remaja yang bercita-cita menjadi seorang Hafizh Qur’an.

Popularitas Syaikh Jaber tak kalah dengan penceramah ternama Indonesia lainnya. Meski sudah tenar lewat media, ia tetap rendah hati. Ia masih berkeliling menjadi khatib Jumat di masjid-masjid kecil di pelosok kota dan daerah.

Selain itu, ternyata Syaikh Ali Jaber itu pendekar Tapak Suci Muhammadiyah. Beliau Pendekar Kehormatan bersama Ustaz Yusuf Mansur, Abi Makki, dan lainnya. (A/IK/R1/RI-1)

 

Mi’raj News Agency (MINA)