Mengenal Soleimani, Jenderal Iran yang dibunuh AS

Mayor Jenderal Qassem Soleimani merupakan perwira militer senior Iran yang tergabung dalam Pasukan Pengawal Revolusi Islam (IRGC). Pada tahun 1998, ia menjadi komandan Pasukan Quds, sebuah divisi yang bertanggung jawab untuk operasi ekstrateritorial Iran.

Pasukan Quds merupakan sayap militer Iran yang memberikan bantuan militer untuk Pasukan Sayap Hizbullah di Lebanon serta Organisasi Perlawanan Masyarakat Palestina, Hamas di Wilayah Gaza, Palestina.

Pengalaman Soleimani dalam bidang militer, selain merupakan merupakan seorang veteran perang Iran–Irak tahun 1980-1988, sampai akhir hayatnya, ia aktif terlibat dalam menangani berbagai konflik Timur Tengah, terutama yang terjadi di Irak dan Suriah.

Strategi yang ia gunakan dalam menangani konflik Timur Tengah adalah dengan menggabungkan antara penggunaan kekuatan militer dengan taktik diplomasi dan negosiasi.

Jenderal yang dikaruniai empat anak itu memiliki pengaruh politik dan militer cukup kuat di Irak melalui partai politik Syiah dan Kurdi.  Partai itu dikenal beberapa kali melakukan pemberontakan terhadap Presiden saat itu, Saddam Husein sejak tahun 1991.

Sebagai negara yang kerap berkonfrontasi dengan Saddam Husein, Iran telah mempersenjatai dan membantu pemberontak melawan presiden yang dikenal dengan ketegasan dan sekaligus kekejamannya terhadap pihak-pihak oposisi di negaranya.

Pada tahun 2012, Soleimani juga membantu pemerintah Suriah di bawah pimpinan Bashar Assad yang menjadi sekutu penting Iran di kawasan. Suriah mengalami perang saudara sejak 2011 lalu hingga saat ini yang menyebabkan jutaan warganya menjadi pengungsi di berbagai negara tetangga seperti Turki, Lebanon, Yordania dan juga di beberapa negara di Eropa.

Sementara itu, untuk konflik di Irak, Soleimani juga ikut membantu komando pasukan gabungan pemerintah Irak dan pasukan milisi Syiah melawan militan yang menamakan dirinya Negara Islam Irak dan Syam (ISIS) pada 2014-2015 lalu.

Solemaini lahir pada tanggal 11 Maret 1957 di Desa Qonat-e Malik, Provinsi Kerman, Iran. Ia meninggal pada usia 62 tahun, tepatnya pada 3 Januari 2020 akibat sebuah serangan udara yang dilancarkan oleh Amerika Serikat (AS) di Bandar Udara International Baghdad, Irak.

Menanggapi peristiwa pembunuhan perwiranya itu, Iran berjanji akan melakukan balas dendam kepada AS. Salah satu pimpinan tertinggi mereka, Ayatollah Ali Khamenei menyerukan: “Kami akan melakukan serangan balasan terhadap penjahat (AS) yang menyebabkan meninggalnya Soleimani”.

Media AS, EN24 memberitakan, pihak Iran menyatakan akan memberi imbalan sebesar Rp.1,1 Triliun kepada siapa saja yang bisa membunuh Presiden AS Donald Trump.

Iran juga menargetkan serangan terhadap Gedung Putih. Anggota parlemen Iran, Abolfazi Aboutorabi pada Ahad (5/1) menyatakan: “Kami bisa menyerang Gedung Putih, kami punya kekuatan dan akan menyerang pada waktu yang tepat”, tegasnya diiringi sumpah akan melakukan balas dendam atas meninggalnya Soleimani.

Sementara itu, menanggapi pernyataan Iran, Presiden AS, Donald Trump beralasan, penyerangan AS terhadap Jenderal Soleimani dilakukan untuk menghentikan peperangan dan konflik berkepanjangan yang terjadi di Irak, bukan untuk memulai peperangan.

Presiden yang sedang menghadapi ancaman pemakzulan (impeachment) dari Konggres AS itu juga mengatakan bahwa Jenderal itu dibenci dan ditakuti di negaranya sendiri. Seharusnya, ia sudah dibunuh bertahun tahun yang lalu.

Trump mengaku ingin mencegah Jenderal Soleimani yang ia sebut sebagai “mosnter sakit” dan “teroris nomer satu di dunia” karena ia mempunyai rencana  serangan mengerikan yang akan dilakukan terhadap diplomat dan personel militer AS di Irak. (A/Dm/P2/R2)

Mi’raj News Agency (MINA)