Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mengenal Tradisi Idul Fitri di Berbagai Negeri: Harmoni dalam Keberagaman

Bahron Ansori Editor : Arif R - 2 menit yang lalu

2 menit yang lalu

1 Views

Tradisi idul fitri di Somalia (foto: ig)

IDUL FITRI selalu menjadi momen yang dinantikan oleh umat Islam di seluruh dunia. Setelah sebulan penuh menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan, hari kemenangan ini dirayakan dengan penuh suka cita, menguatkan ukhuwah, dan mempererat hubungan sosial. Menariknya, meskipun esensi Idul Fitri tetap sama, cara umat Islam merayakannya memiliki warna tersendiri di berbagai negara. Keberagaman budaya menciptakan harmoni yang indah dalam perayaan hari besar ini.

Di Indonesia, Idul Fitri identik dengan tradisi mudik. Jutaan orang berbondong-bondong pulang ke kampung halaman untuk bersilaturahmi dengan keluarga besar. Malam takbiran disemarakkan dengan gema takbir yang berkumandang di masjid, surau, dan jalan-jalan. Kemeriahan berlanjut keesokan harinya dengan tradisi salat Id di lapangan terbuka, diikuti oleh acara halal bihalal, di mana masyarakat saling bermaafan dan berbagi kebahagiaan.

Di Malaysia, suasana Idul Fitri juga tak kalah meriah. Warga mengenakan baju Melayu dan baju kurung berwarna-warni, sementara rumah-rumah terbuka (open house) menjadi ajang berkumpulnya sanak saudara dan sahabat. Hidangan khas seperti rendang, lemang, dan ketupat palas tersaji di meja makan. Pemerintah pun menetapkan libur panjang agar masyarakat bisa menikmati momen ini bersama keluarga.

Turki, yang memiliki sejarah Islam yang kuat, merayakan Idul Fitri dengan sebutan “Ramazan Bayramı.” Anak-anak menjadi pusat perhatian dalam perayaan ini, mereka mengunjungi rumah-rumah tetangga untuk mengucapkan salam dan mendapatkan manisan atau hadiah kecil. Kebiasaan unik lainnya adalah mencuci tangan dengan air mawar sebagai simbol kesucian dan penyegaran diri sebelum memulai hari raya.

Baca Juga: Hagia Sophia: Dari Gereja, Masjid, hingga Museum yang Penuh Sejarah

Di Arab Saudi, Idul Fitri dirayakan dengan penuh khidmat. Setelah melaksanakan salat Id, masyarakat berkumpul untuk bersilaturahmi dengan keluarga dan kerabat. Tradisi unik di sana adalah menyajikan hidangan khas seperti kabsa dan maamoul, kue kurma yang lembut dan lezat. Perayaan juga diisi dengan pertunjukan kembang api dan festival di berbagai kota besar seperti Riyadh dan Jeddah.

Di Mesir, suasana Idul Fitri terasa begitu hidup. Setelah salat Id, masyarakat turun ke jalan menikmati pertunjukan rakyat, permainan anak-anak, dan berbagai sajian makanan khas seperti kahk, kue kering yang dihiasi taburan gula halus. Keluarga besar berkumpul untuk makan bersama, sementara anak-anak menerima uang lebaran atau yang dikenal sebagai “eidiya.”

Sementara itu, di Pakistan, Idul Fitri diawali dengan tradisi “Chand Raat,” malam sebelum Lebaran di mana kaum wanita menghiasi tangan mereka dengan henna (mehendi) dan berbelanja pakaian baru. Pada pagi harinya, masyarakat menikmati “sheer khurma,” hidangan manis berbahan dasar susu dan kurma yang menjadi menu wajib di setiap rumah.

Di Nigeria, perayaan Idul Fitri disebut “Sallah” dan dirayakan dengan penuh semangat. Warga mengenakan pakaian tradisional berwarna cerah dan mengadakan jamuan besar yang dihadiri oleh keluarga dan teman. Selain itu, berbagai parade budaya dan pertunjukan musik turut memeriahkan suasana.

Baca Juga: Raja Ampat: Surga Bawah Laut yang Wajib Dikunjungi di Indonesia

Di Tiongkok, khususnya di komunitas Muslim Uyghur dan Hui, Idul Fitri menjadi momen penting untuk berkumpul bersama keluarga. Setelah salat Id, masyarakat mengunjungi makam keluarga untuk mendoakan leluhur mereka. Hidangan khas seperti lamian (mi tarik) dan kue berbahan biji wijen menjadi sajian yang selalu hadir di meja makan.

Di Bosnia dan Herzegovina, perayaan Idul Fitri dikenal dengan nama “Bajram.” Masyarakat Bosnia biasanya mengenakan pakaian tradisional dan mengunjungi masjid-masjid bersejarah untuk melaksanakan salat Id. Tradisi berbagi kue khas seperti hurmašice (kue manis berbentuk bulan sabit) menambah kehangatan suasana.

Di Senegal, Idul Fitri atau “Korité” dirayakan dengan penuh kemeriahan. Salah satu tradisi unik di sana adalah “Ndëpp,” sebuah ritual yang diadakan oleh komunitas Sufi untuk memperingati akhir Ramadan. Warga juga mengenakan busana khas mereka, boubou, serta menyajikan hidangan lezat seperti thiéboudienne, nasi ikan yang menjadi makanan khas Senegal.

Di Rusia, komunitas Muslim yang tersebar di berbagai wilayah seperti Tatarstan dan Dagestan merayakan Idul Fitri dengan penuh kegembiraan. Masjid-masjid dipenuhi jamaah yang melaksanakan salat Id, lalu diikuti dengan tradisi saling mengunjungi rumah saudara dan kerabat. Salah satu makanan khas yang wajib ada adalah chak-chak, makanan ringan berbahan tepung dan madu.

Baca Juga: Taktik Baru Hamas Jika Pasukan Israel Lakukan Serangan Darat ke Gaza

Di Amerika Serikat, umat Islam merayakan Idul Fitri dengan beragam cara, tergantung komunitas mereka. Banyak yang mengadakan salat Id di stadion atau taman terbuka, diikuti dengan acara open house di pusat-pusat komunitas Muslim. Selain itu, banyak organisasi Muslim mengadakan aksi sosial dengan berbagi makanan kepada mereka yang membutuhkan.

Keberagaman dalam perayaan Idul Fitri ini menunjukkan betapa Islam dapat menyatu dengan berbagai budaya tanpa kehilangan esensi dan maknanya. Setiap negara memiliki ciri khasnya masing-masing, namun semuanya tetap berpegang pada nilai-nilai utama Idul Fitri, yaitu kebersamaan, kepedulian, dan rasa syukur.

Dari Indonesia hingga Amerika, dari Afrika hingga Asia, gema takbir berkumandang dengan makna yang sama: kebahagiaan, kemenangan, dan harapan akan kehidupan yang lebih baik. Idul Fitri bukan sekadar perayaan, tetapi juga momentum untuk memperkuat harmoni dalam keberagaman umat Islam di seluruh dunia. []

Mi’raj News Agency (MINA)

Baca Juga: Danau Baikal: Rahasia Danau Tertua dan Terdalam di Dunia

Rekomendasi untuk Anda