Mengenang 20 Januari Kelabu 1990 Di Azerbaijan

Ilustrasi: peringatan 20 Januari 1990, peristiwa pembantaian di Azerbaijan. (Gambar: ADA)

 

Oleh: Illa Kartila – Redaktur Senior Miraj Islamic News Agency (MINA)

Hari itu, Sabtu 20 Januari 1990 adalah lembaran hitam bagi warga Azerbaijan, di saat mana ratusan orang Azeri yang berkumpul untuk memprotes kekuasaan Soviet dan menuntut kemerdekaan, secara brutal ditindas oleh campur tangan Soviet. 

Januari Kelabu juga disebut Sabtu Kelabu atau Pembantaian Januari, atau Hari Martir, 27 tahun lalu adalah serangan terhadap demonstrasi Azeri oleh Tentara Merah Uni Soviet di Baku, Republik Soviet Sosialis Azerbaijan. Januari Kelabu dianggap sebagai kelahiran Republik Azerbaijan.

Hari itu akan tetap melekat dalam sejarah rakyat Azerbaijan, negeri kaya minyak bekas bagian Uni Soviet di tepi Laut Kaspia. Pada hari itu terjadi “pembantaian” yang dilakukan oleh mesin militer Uni Soviet terhadap rakyat Azerbaijan.

“Itu lembaran hitam yang tak pernah bisa dilupakan sebagai kejahatan kemanusiaan yang paling biadab,” kata Direktur Jenderal Kantor Berita Azertac Aslan Aslanov ketika membawa rombongan wartawan dari kawasan Asia Pasifik ke bukit itu, seperti dikutip MINA dari kantor Berita Antara.

Di bukit dengan bangunan masjid di halaman depannya itu ratusan orang yang terbunuh atau terluka akibat pembantaian dikenang. Para korban adalah rakyat Azerbaijan yang berusaha menyampaikan aspirasi untuk menjadi negara yang bebas merdeka. “Ini kejahatan kemanusiaan dari rejim Uni Soviet yang terancam bubar dan pecah,” kata Aslan.

Pasukan tentara Soviet dengan mesin perang mereka masuk ke Baku, ibukota Azerbaijan, tanpa diduga. Mereka, jumlahnya sekitar 60.000 orang, mendapatkan latihan militer, termasuk latihan kejiwaan, sebelum operasi “pemberangusan”.

Dalam laporan resmi kelompok pejuang hak asasi manusia disebutkan bahwa komandan tentara memberi perintah kepada pasukan yang akan berangkat untuk melakukan pembantaian. “Kalian dikirim ke Baku untuk melindungi orang-orang Rusia, karena rakyat setempat dengan brutal membasmi orang Rusia,” katanya.

Si komandan menjelaskan bahwa para ekstrimis telah menempatkan penembak jitu di setiap atap gedung. Apartemen dan setiap bangunan dipenuhi pemberontak dari Popular Front of Azerbaijan. Mereka siap menanti kedatangan kalian dengan senjata mesin mereka, demikian doktrin yang ditanamkan kepada para tentara Soviet ketika itu.

Tipu daya

Kepemimpinan Uni Soviet di bawah Mikhail Gorbachev mengambil keuntungan dengan memanfaatkan kartu “Rusia dan Armenia” dengan jitu.  Tentara dikirim ke Baku dengan alasan untuk melindungi orang-orang Rusia dan Armenia, yang punya sejarah panjang permusuhan dengan bangsa Azerbaijan.

Tentara juga diminta untuk melindungi para pegawai negeri yang loyal kepada Uni Soviet dan menumpas pemberontak nasionalis yang didituding bakal melakukan kudeta. “Dalam kenyataannya, itu hanya alasan dan kebohongan yang telanjang,” kata Mammadov, warga Baku.

Katakanlah apa yang ditudingkan Kremlin itu benar, kata Taleh, penduduk Baku lainnya, itupun tidak memerlukan pengerahan pasukan Uni Soviet sebanyak itu. Ketika itu di Baku hanya terdapat 11.500 tentara lokal dan mereka hanya mempunyai persenjataan yang terbatas.

Gorbachev menandatangani maklumat bahwa pada 20 Januari 1990 dinyatakan sebagai situasi darurat di Baku. Namun, Komando Alfa KGB sudah sehari sebelumnya menghancurkan generator listrik TV Azerbaijan untuk menghentikan siaran televisi lokal itu.

Dalam keadaan gelap gulita dan tanpa siaran televisi, pasukan Uni Soviet menginvasi kota Baku. Rakyat sama sekali tidak tahu adanya rencana pengumuman situasi darurat, sehingga mereka tidak menyangka bakal diserbu dan ditembaki. Sembilan warga terbunuh bahkan sebelum maklumat Gorbachev berlaku pada jam 00.00 pada 20 Januari 1990.

Pengumuman situasi darurat militer di Baku baru disiarkan oleh radio lokal pada 07.00 pagi pada 20 Januri 1990. “Saat itu, sudah lebih dari 100 warga terbunuh,” kata Mammadov.

“Saya heran mengapa Gorbachev (yang memerintahkan penyerangan terhadap Baku) kemudian mendapat penghargaan Nobel Perdamaian. Tangannya berlumuran darah rakyat yang tak berdosa,” katanya.

Membabi buta

Tank dan mesin perang Uni Soviet membabi-buta, menghancurkan apa saja yang ditemukan di jalan menuju Baku. Tentara menembak secara membabi buta tanpa diskriminatif. Peluru tajam bukan hanya menerjang warga yang ada di jalan raya, tapi juga yang ada di dalam bus dan mobil mereka.

Bahkan, warga yang berada di dalam apartemen juga ditembaki. Termasuk ambulan yang membawa korban juga dihajar. Begitu juga dokter dan perawat. Hasilnya, 137 warga terbunuh, 700 luka-luka dan 800 orang ditahan tanpa dosa. “Mereka adalah syuhada,” begitu tertulis di pintu gerbang pemakaman itu.

Tapi, kebiadaban pembantaian 20 Januari 1990 gagal menghapus hasrat rakyat Azerbaijan untuk mencapai kemerdekaan.

Anak-anak bangsa yang terbunuh hari itu telah menulis sejarah gemilang dalam sejarah Azerbaijan. Mereka melapangkan jalan bagi gerakan pembebasan nasional mencapai kemerdekaan.

Mereka dimakamkan di tempat paling tinggi di Baku, di sebuah bukit tempat para peziarah bisa memandangi seluruh kota Baku dengan jelas. Kini lembah itu dinamakan Bukit Syuhada.

Foto-foto para syuhada di pahat di batu nisan dengan catatan kecil tentang bagaimana mereka terbunuh: Meyerovich, mati tertembak oleh 21 peluru; Rustamov, tewas dihajar 23 peluru; Yefimtsev, syahid ditusuk pisau bayonet. Di pusara para syuhada itu sanak keluarga, warga biasa, dan rakyat Azarbaijan membungkuk meletakan bunga.

Sejarah Azerbaijan                         

Tahun 1991, Azerbaijan sesungguhnya memproklamasikan kemerdekaannya saat jatuhnya Uni Soviet. Namun, tahun-tahun awal kemerdekaannya teralihkan dengan perang terhadap Armenia dan gerakan separatis Armenia atas kawasan Nagorno-Karabakh.

Meski ada gencatan senjata di tempat itu sejak 1994, Azerbaijan belum memecahkan konflik dengan Armenia atas wilayah yang didominasi orang Armenia. Sejak akhir perang, Azerbaijan kehilangan kendali 14 – 16% wilayahnya termasuk Nagorno-Karabakh. sebagai akibat konflik, kedua negara menghadapi masalah pengungsi dan orang telantar seperti kesulitan ekonomi.

Tetapi, di tengah kesulitan itu, mantan pemimpin Azeri Soviet Heydər Aliyev mengubah pola ini di Azerbaijan dan mulai mengeksploitasi cadangan minyaknya yang kaya di Baku, sesuatu yang membuat Azerbaijan terkenal. Heydər Aliyev juga membersihkan perjudian dan bisa menekan tingkat pengangguran di negara itu.

Ia juga mencari hubungan lebih dekat dengan Turki saat secara serentak membuat usaha memecahkan konflik Karabakh secara damai dengan Armenia. Namun, keadaan politik di Azerbaijan tetap tegang khususnya setelah Heydar Aliyev, memilih anaknya Ilham menjadi presiden. Kekuatan oposisi Azeri tak puas dengan pergantian dinasti ini dan menuntut pemerintahan demokratis.

Republik Azerbaijan adalah sebuah negara di Kaukasus di persimpangan Eropa dan Asia Barat Daya. Ia berbatasan dengan Rusia di sebelah utara, Georgia dan Armenia di barat, dan Iran di selatan. Republik Otonomi Nakhichevan (sebuah eksklave milik Azerbaijan) berbatasan dengan Armenia di sebelah utara, Iran di selatan, dan Turki di barat.

Azerbaijan adalah negara sekuler dan telah menjadi anggota dari Dewan Eropa sejak 2001. Mayoritas populasi adalah Muslim Syiah dan turunan Turki barat, dikenal sebagai Azerbaijani, atau singkatannya Azeri. Negara ini resminya demokrasi, namun dengan peraturan otoritas kuat.

Sejarah awal penduduk daerah yang kini dikenal sebagai Azerbaijan ialah bangsa Albania Kaukasia, bangsa penutur bahasa-bahasa Kaukasus yang muncul di daerah ini sebelum rombongan besar orang yang akhirnya menyerang Kaukasus. Secara historis Azerbaijan telah dilindungi berbagai bangsa, termasuk bangsa Persia, Yunani, Romawi, Armenia, Arab, Turki, Mongol dan Rusia. (RS1/P1)

Miraj Islamic News Agency/MINA

Wartawan: illa

Editor: Rudi Hendrik