Mengenang Kembalinya Al-Quds ke Pangkuan Muslimin

Oleh: Rendy Setiawan, Wartawan MINA

Tepat tanggal 2 Oktober 1187 atau 831 tahun silam, Al-Quds kembali ke pangkuan muslimin setelah melalui pertempuran selama 3 bulan. Umat Islam di bawah pimpinan Salahuddin Al-Ayyubi menguasai kembali Al-Quds dari pasukan tentara Salib Kristen.

Tak lama sebelum peristiwa itu terjadi, para penguasa Al-Quds dari kalangan Kristen terlebih dulu dikalahkan dalam sebuah pertempuran di Bukit Hattin pada 4 Juli 1187 M. Tokoh-tokoh kerajaan yang semula arogan dan sombong tertangkap. Malah para pimpinan pasukan Salib itu dipermalukan oleh Salahuddin dengan taktik brilian di perang Hattin.

Kekalahan di Bukit Hattin cukup mengejutkan pasukan Salib. Sebab pertempuran itu diselesaikan oleh Salahuddin dalam tempo yang terbilang sangat singkat, jauh di luar nalar dan perhitungan para juru taktik pasukan Salib.

Beberapa bulan setelah kekalahan pasukan Salib di Bukit Hattin itu, tepatnya bulan September di tahun yang sama, Salahuddin berhasil membebaskan sejumlah wilayah seperti kota Akko, Nablus, Jaffa, Toron, Sidon, Beirut, dan Ashkelon.

Kala itu, satu-satunya kota yang bisa dijadikan tempat berlindung pasukan Salib untuk menahan serangan Salahuddin hanya Kota Tirus, sekitar 80 kilometer selatan Beirut, Lebanon.

Setelah kemenangan yang gemilang di sejumlah wilayah, sosok panglima perang Muslim dari Tirkit ini kemudian memusatkan perhatiannya pada kota Al-Quds. Pada Ahad, 20 September 1187 M, ia mulai memutus sejumlah jalur di wilayah utara dan barat laut. Salahuddin pun melakukan penyerangan menembus tembok.

Salahuddin hendak menepati janjinya. Ia ingin mengembalikkan Al-Quds ke pangkuan muslimin dengan cara-cara mulia yang diajarkan Islam. Tidak ada pembantaian atas dasar balas dendam, tidak ada pengrusakan tempat ibadah, apalagi membunuh orangtua dan anak-anak yang tidak berdosa.

Tak lebih dari dua pekan pasca pengepungan, tepat 2 Oktober 1187, Salahuddin berhasil meraih impiannya mengembalikkan Al-Quds ke pangkuan umat Islam.

Karen Amstrong dalam bukunya “Perang Suci” menyebut, ketika Al-Quds dibebaskan oleh Salahuddin, tidak ada seorang Kristen pun dibunuh dan tidak ada penjarahan terhadap harta-harta yang mereka miliki.

Jumlah tebusan pun disengaja sangat rendah. Salahuddin menangis tersedu-sedu karena keadaan mengenaskan akibat keluarga-keluarga yang hancur terpecah-belah. Dan ia pun membebaskan banyak dari mereka, sesuai imbauan Al-Qur’an.

Keadilan dan kenegarawanan Salahudin membuat umat Kristiani yang tinggal di Al-Quds saat itu berdecak kagum. Seorang tua penganut Kristen pun bertanya kepada Salahudin. “Kenapa tuan tidak bertindak balas terhadap musuh-musuhmu?”

Dengan tegas, Salahudin menjawab, “Islam bukanlah agama pendendam bahkan sangat mencegah dari melakukan perkara di luar perikemanusiaan, Islam menyuruh umatnya menepati janji, memaafkan kesalahan orang lain yang meminta maaf dan melupakan kekejaman musuh ketika berkuasa walaupun ketika musuh berkuasa, umat Islam ditindas.”

Mendengar jawaban itu, bergetarlah hati orang tua itu. Ia kemudian berkata, “Sungguh indah agama tuan! Maka di akhir hayatku ini, bagaimana aku memeluk agamamu?”

Salahudin pun berkata, “’Ucapkanlah dua kalimah syahadah.”

Hingga kini, kemuliaan hati dan keberanian Salahudin masih tetap dikenang umat Islam dan orang-orang Barat. Menurut Dr Jonathan Phillips, pengajar di University of London dan penulis beberapa buku tentang Perang Salib,  Salahudin merupakan pahlawan utama bagi umat Islam.

Situasi justru berbanding terbalik ketika pasukan Salib Kristen masuk dan menguasai Al-Quds pada 1099 atau 88 tahun sebelumnya, tidak kurang dari 30.000 penduduk Al-Quds yang mayoritasnya adalah muslim dibantai dengan cara sadis dan biadab. Dalam beberapa kisah digambarkan darahnya sampai membanjiri Al-Quds hingga setinggi lutut kuda.

The Canadian Islamic Congress, sebuah organisasi Islam di Kanada, bahkan menyebut korban yang dibantai oleh tentara Salib ketika itu, tidak kurang dari 70.000 orang.

Al-Quds Hari Ini

Sejak kemenangan Salahuddin Al-Ayyubi pada 2 Oktober 1187 M itu, Al-Quds menjadi kota yang aman, kota yang damai, jauh dari kekerasan. Selama sekitar 7 abad lamanya di bawah kepemimpinan Turki Utsmani, Al-Quds menjadi salah satu wilayah yang maju.

Saat mengalami periode kemunduran di awal abad 16 M hingga 19 M pun sultan-sultan Turki Utsmani tak pernah mengalihkan perhatiannya dari Al-Quds.

Bahkan ketika tahun-tahun terakhir berdirinya Dinasti Turki Utsmani, Sultan Abdul Hamid II, salah satu sultan besar terakhir, menolak dengan tegas permintaan orang Yahudi yang ingin mengambilalih wilayah Palestina, termasuk Al-Quds, walaupun hanya sejengkal tanah sekalipun.

Ketika Turki Utsmani dihapuskan pada 1924 M, Al-Quds menjadi rebutan negara-negara Barat. Padahal Al-Quds bukanlah tanah yang kaya akan hasil bumi. Namun karena sejarah yang panjang dan kebanggaan akan menguasai wilayah inilah yang kemudian menjadi salah satu alasan Al-Quds menjadi makanan lezat bagi pasukan Barat.

Sebelum Turki Utsmani runtuh pun orang-orang Barat dan Yahudi sudah melakukan perjanjian yang tercantum dalam sebuah surat tertanggal 2 November 1917 dari Menteri Luar Negeri Britania Raya Arthur Balfour kepada Lord Walter Rothschild, seorang pemimpin komunitas Yahudi Britania, untuk transmisi ke Federasi Zionis Britania Raya dan Irlandia.

Teks deklarasi tersebut kemudian diwartakan oleh media sepekan kemudian. Deklarasi tersebut menyatakan:

“Pemerintahan Sri Baginda memandang positif pendirian di Palestina tanah air untuk orang Yahudi, dan akan menggunakan usaha keras terbaik mereka untuk memudahkan tercapainya tujuan ini, karena jelas dipahami bahwa tidak ada suatupun yang boleh dilakukan yang dapat merugikan hak-hak penduduk dan keagamaan dari komunitas-komunitas non-Yahudi yang ada di Palestina, ataupun hak-hak dan status politis yang dimiliki orang Yahudi di negara-negara lainnya.”

Deklarasi itulah yang diyakini sebagai salah satu penyebab Al-Quds menjadi tempat yang jauh dari kata aman, damai. Padahal Al-Quds adalah salah satu kota kebanggaan umat Islam, salah satu dari tiga kota yang dianjurkan untuk diziarahi, dan yang paling utama Al-Quds adalah kiblat pertama umat Islam.

Selama hampir se-abad lamanya sejak Israel secara ilegal memproklamirkan diri sebagai sebuah negara pada tahun 1948, masyarakat Palestina, khususnya di Al-Quds terus mendapat perlakuan tidak manusiawi, terus mendapat persekusi dari orang-orang Yahudi. Bahkan mereka secara sengaja membangun sebuah tembok pemisah agar masyarakat Palestina angkat kaki dari Al-Quds.

Rindu Salahuddin

Kondisi Al-Quds yang sudah kronik menjadikan umat di seluruh dunia rindu akan sosok pemimpin yang bisa menyatukan umat Islam, rindu akan sosok seperti Salahuddin Al-Ayyubi yang tak melupakan akan nasib Al-Quds.

Salahuddin adalah salah satu dari sekian banyak pejuang Islam di masa lampau yang pantas dirindui perjuangannya. Sebab ia berhasil menyatukan kekuatan Islam dari tempat yang awalnya tak begitu diperhitungkan menjadi kekuatan besar yang mencabik-cabik kesombongan dan kecongkakan pasukan Salib.

Salahuddin menyinari harinya dengan ketaatan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Tak sedetikpun Salahuddin lupa akan kewajibannya kepada Rabbnya. Ia juga tak melupakan kewajibannya terhadap sesama, utamanya kepada masyarakat yang menjadi tanggung jawabnya. Tak bisa dipungkiri, Salahuddin adalah salah satu panglima Islam paling agung. Tak ada yang meragukan itu.

Semangat juang Salahuddin harus mengalir di setiap urat nadi pemuda Islam untuk mengembalikkan Al-Quds sebagaimana impian Salahuddin dahulu. Namun semangat perjuangan pembebasan Al-Quds tetap harus dibarengi dengan ketaatan dan ketakwaan kepada Allah Ta’ala. Salah satu bentuk ketaatan itu adalah bersatu dalam satu barisan, dalam satu wadah yaitu Al-Jama’ah.

Mayoritas penulis muslim sepakat bahwa salah satu usaha awal Salahuddin setelah ibadah rutin adalah menyatukan wilayah-wilayah Islam, menyerukan persatuan kepada masyarakatnya. Amalan inilah yang banyak disebutkan dalam Alquran sebagai syariat Al-Jama’ah.

Al-Jama’ah adalah bentuk kesatuan masyarakat Islam yang sejak zaman Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam terus diaplikasikan. Sebuah wadah di mana kekuatan Islam muncul dari sana. Salahuddin mengaplikasikan syariat ini sebagai wasilah untuk membebaskan Al-Quds. Dan atas kehendak Allah Ta’ala, Salahuddin akhirnya berhasil mewujudkan impian itu melalui gaya hidup berjama’ah. (A/R06/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)