Mengenang Pesan Habibie di Hakteknas 2018

Jakarta, MINA – Sosok Bacharuddin Jusuf Habibie begitu membekas dalam ingatan, semua masyarakat Indonesia merasakan kehilangan yang mendalam atas wafatnya BJ Habibie pada Rabu (11/9).

Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir mengenang pesan Habibie saat menjadi pembicara kunci di acara Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Hakteknas) ke-23 di Pekanbaru, Riau.

“Habibie saat itu membuka kegiatan Ritech Expo sekaligus juga menjadi pembicara kunci. Rupanya itulah, Hakteknas terakhir yang dihadiri Bapak Teknologi Nasional tersebut,” ujar Nasir dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (13/9).

Saat menjadi keynote speaker pada Hakteknas 23 tahun 2018 di Riau. Mendiang Habibie saat itu menyampaikan perspektifnya berkenaan dengan strategi dan kebijakan pengembangan riset dan inovasi nasional ke depan.

Menurutnya, riset dan inovasi yang dihasilkan perguruan tinggi dan lembaga litbang harus sesuai dengan kebutuhan industri. Habibie juga selalu menuturkan tentang optimismenya terhadap kemampuan anak bangsa.

Terutama dalam penguasaan teknologi, yang dibuktikan dengan keberhasilan penerbangan perdana pesawat N-250 Gatotkac,a produksi IPTN Bandung pada 10 Agustus 1995, yang dibuat sendiri oleh anak bangsa.

Pesannya kepada pemuda, saat itu, untuk mengisi kemerdekaan Indonesia dengan kerja nyata yang inovatif. Selama 50 tahun bangsa Indonesia merdeka, sudah bekerja keras mengembangkan prasarana ilmu pengetahuan dan teknologi, sehingga bisa memproduksi pesawat terbang N-250 buatan dalam negeri.

“N-250 adalah hadiah saya untuk ulang tahun Indonesia yang ke-50 waktu itu. Maka, anak-anak muda Indonesia sekarang harus lebih hebat dari Habibie, karena segala fasilitas untuk berinovasi saat ini sangat lengkap,” ucap Habibie.

Habibie juga berharap pemuda dapat bekerja sama dalam membangun bangsa.

“Kita konsolidasi, lebih kerja sama, bekerja sebagai satu tim, dari Sabang sampai Merauke. Kita arahkan kepada kebutuhan rakyat itu akan berkembang jikalau kita mengembangkan dasar-dasar pemikiran dari ekonomi pasar Pancasila,” ujar Habibie.

Pria lulusan Universitas Teknologi Rhein Westfalen Aachen, Jerman itu mengatakan, saat ini bangsa Indonesia membutuhkan manusia-manusia yang unggul dan bisa bersaing dengan siapa saja.

Lebih lanjut, Habibie mengatakan, Indonesia juga memiliki aneka ragam suku, budaya, bahasa dan keyakinan. Namun, tidak semua orang mengetahui, keanekaragaman itu adalah unsur untuk dapat memberikan inspirasi.

Mendiang Habibie juga menekankan, agar anak bangsa bekerja keras membangun kemandirian bangsa. Sehingga tidak mudah untuk dikendalikan oleh bangsa lain.

“Hanya anak bangsa sendirilah yang dapat diandalkan untuk membangun Indonesia, tidak mungkin kita mengharapkan dari bangsa lain”, pesan Eyang Habibie kala itu.

Semua masyarakat Indonesia merasakan kehilangan yang mendalam atas berpulangnya BJ Habibie. Bangsa Indonesia telah kehilangan salah satu tokoh terbesarnya, seorang Bapak Bangsa dan Bapak Teknologi. Selama puluhan tahun Habibie telah mengabdikan diri kepada bangsa Indonesia dalam bidang pengembangan Iptek dan Inovasi. (T/Ais/RI-1)

Mi’raj News Agency (MINA)