Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menggapai Keutamaan Ahlul Qur’an di Era Modern

Bahron Ansori Editor : Ali Farkhan Tsani - 22 detik yang lalu

22 detik yang lalu

0 Views

Ilustrasi membaca Alquran (Foto: General AI/Cici)

AHLUL Qur’an merujuk kepada orang-orang yang senantiasa berinteraksi dengan Al-Qur’an secara intens: membaca, menghafal, mentadabburi, mengamalkan, dan mengajarkannya. Dalam hadis sahih disebutkan, “Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya” (HR. Bukhari). Keutamaan ini tidak hanya bersifat spiritual, namun juga membentuk karakter unggul yang selaras dengan nilai-nilai ilahiyah.

Era modern ditandai oleh kemajuan teknologi informasi, globalisasi nilai, serta tantangan moralitas yang semakin kompleks. Dalam konteks ini, Al-Qur’an berfungsi sebagai petunjuk hidup yang relevan dan adaptif. Ahlul Qur’an memiliki keistimewaan karena mereka memiliki rujukan ilahi yang konstan dalam menghadapi perubahan zaman.

Allah Ta’ala Berfirman, “Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa.” (Q.S. Al-Baqarah: 2). Ayat ini menegaskan bahwa siapa pun yang menjadikan Al-Qur’an sebagai panduan akan diberi petunjuk hidup. Ahlul Qur’an di era modern menjadi agen penerang di tengah gelapnya kebingungan nilai.

Survei yang dilakukan oleh Badan Litbang dan Diklat Kemenag RI tahun 2019 menunjukkan bahwa 62% umat Islam Indonesia membaca Al-Qur’an hanya saat tertentu saja seperti Ramadhan. Sementara yang rutin membaca dan mentadabburinya kurang dari 20%. Ini menjadi tantangan besar untuk melahirkan Ahlul Qur’an sejati.

Baca Juga: Ayah sebagai Teladan: Menginspirasi Generasi Berikutnya

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para nabi.” (HR. Abu Dawud). Ulama di sini termasuk para penghafal dan pengamal Al-Qur’an. Mereka membawa misi kenabian dalam menjaga kemurnian ajaran Islam dan menyebarkan nilai-nilainya kepada umat manusia.

Dalam hadis lain disebutkan bahwa Allah akan memuliakan orang tua dari penghafal Al-Qur’an pada hari kiamat dengan mahkota cahaya (HR. Hakim). Hal ini menunjukkan betapa istimewanya posisi Ahlul Qur’an tidak hanya di dunia, tetapi juga di akhirat. Dalam konteks kekinian, mereka menjadi inspirasi bagi generasi muda yang mencari makna hidup.

Era digital membuka peluang luar biasa untuk menyebarkan nilai-nilai Al-Qur’an. Aplikasi seperti Quran.com, Ayat, hingga media sosial seperti YouTube dan TikTok digunakan oleh Ahlul Qur’an untuk mengajarkan tajwid, tafsir, dan hafalan. Data dari Statista menunjukkan bahwa lebih dari 100 juta unduhan aplikasi Al-Qur’an terjadi setiap tahun secara global.

Budaya populer modern seringkali mengajak kepada gaya hidup hedonis dan sekular. Di sinilah peran Ahlul Qur’an penting sebagai penjaga moralitas dan pilar nilai dalam masyarakat. Dengan akhlak Qur’ani, mereka menjadi benteng dari arus destruktif yang merusak generasi.

Baca Juga: Sejarah Masjid Al-Aqsa: Kiblat Pertama Umat Islam

Ahlul Qur’an dan Pendidikan Karakter Islami

Sekolah dan pesantren tahfidz saat ini berkembang pesat. Menurut data Dirjen Pendidikan Islam Kemenag 2022, terdapat lebih dari 5.000 pesantren tahfidz di Indonesia. Lembaga-lembaga ini tidak hanya mencetak hafizh, tapi juga kader pemimpin yang berkarakter Qur’ani.

Kisah inspiratif dari remaja penghafal Qur’an seperti Muzammil Hasballah, Syakir Daulay, dan banyak lainnya menunjukkan bahwa Al-Qur’an mampu membentuk generasi muda yang unggul secara moral dan intelektual. Mereka menjadi contoh bahwa Ahlul Qur’an tidak terikat usia, tapi semangat.

Keluarga adalah madrasah pertama. Rumah yang di dalamnya terdengar lantunan Al-Qur’an akan diberkahi dan dijaga dari keburukan. Nabi bersabda, “Perumpamaan rumah yang dibacakan Al-Qur’an di dalamnya seperti bintang yang bercahaya di langit.” (HR. Baihaqi). Di era modern, keluarga Qur’ani menjadi basis kebangkitan peradaban.

Baca Juga: Peran Media dalam Mengungkap Konflik Palestina

Orang yang hidup bersama Al-Qur’an akan memiliki kepekaan sosial tinggi. Dalam QS. Al-Baqarah: 177 dijelaskan bahwa orang yang beriman adalah yang peduli terhadap yatim, miskin, musafir, dan yang memerdekakan hamba sahaya. Ahlul Qur’an sejati bukan hanya saleh secara individual, tetapi juga sosial.

Banyak ilmuwan Muslim terdahulu seperti Ibnu Sina, Al-Khawarizmi, dan Al-Biruni memulai penelitiannya dari perenungan terhadap ayat-ayat kauniyah dalam Al-Qur’an. Kini, Ahlul Qur’an dapat memadukan pemahaman agama dan keilmuan sebagai solusi problematika modern, seperti ekologi, ekonomi, dan teknologi.

Ahlul Qur’an era modern memanfaatkan media untuk menyampaikan pesan ilahiyah. Live streaming kajian, podcast Al-Qur’an, dan komunitas online tahfidz menjadi media efektif. Data dari We Are Social 2023 menunjukkan bahwa 76,2% masyarakat Indonesia aktif di media sosial, menjadikannya lahan subur dakwah Qur’ani.

Menggapai keutamaan Ahlul Qur’an di era modern adalah keniscayaan bagi umat Islam yang ingin tetap relevan, unggul, dan diberkahi. Dibutuhkan sinergi antara individu, keluarga, lembaga pendidikan, dan masyarakat untuk membangun budaya Qur’ani yang hidup. Dengan itu, umat Islam akan menjadi khayru ummah (umat terbaik), sebagaimana disebutkan dalam QS. Ali-Imran: 110. []

Baca Juga: Mempertahankan Kefitrahan Manusia

Mi’raj News Agency (MINA)

 

Baca Juga: 10 Sebab Kenapa Amerika Sering Bantu Israel

Rekomendasi untuk Anda