Menggapai Luasnya Rahmat Allah

Oleh: Insaf Muarif Gunawan, Mahasiswa STAI Al-Fatah Cileungsi, Bogor, Jabar

 

Pengertian Rahmat

Rahmat secara bahasa berarti  الرِّقَّةُ وَالتَّعَطُّف“Kasih sayang yang berpadu dengan rasa iba.” (Lisanul Arab)

Menurut Ahmad Musthafa Al-Maraghi, rahmat bermakna :

مَعْنَى يَقُوْمُ بِالْقَلْبِ يُبْعِثُ صَاحِبَهُ عَلَى الْإِحْسَانِ إِلَى سِوَاهُ

Perasaan jiwa yang mendorong pemiliknya untuk berbuat baik kepada orang lain.”

Menurut Ar-Raghib Al-Isfihani kata rahmat pada dasarnya memiliki dua pengertian yaitu kasih sayang dan kebajikan.

Dalam hal ini, rahmat berarti kasih sayang yang menuntut adanya kebaikan terhadap yang dikasihi. Akan tetapi, dalam konteks kalimat kadang kalimat tersebut digunakan untuk menyatakan salah satu pengertian saja yaitu kasih sayang atau kebajikan.

Kata rahmat terambil dari Ar-Rahman atau Ar-Rahim yang berarti kerabat dan asal semua itu ialah Ar-Rahim artinya kandungan wanita.

Di dalam Al-Qur’an, kata rahmat muncul ratusan kali dalam berbagai konteks dan pengertian, antara lain:

Kebaikan yang diberikan Allah kepada manusia misalnya:

إِنَّ رَحْمَتَ اللَّهِ قَرِيْبٌ مِّنَ الْمُحْسِنِيْنَ (الأعراف [٧]: ٥٦)

Sesungguhnya ramat Allah dekat kepada orang-orang yang berbuat baik,” (Q.S. Al-A’raf (7): 56)

Kasih sayang yang terjalin antara sesama manusia misalnya:

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِّنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوْا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً (الروم [٣٠]: ٢١)

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenis-mu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang,” (Q.S. Ar-Rum (30): 21).

Mengutip sebuah kisah yang disampaikan oleh Habib Ali Zaenal Abidin Al-Hamid dalam sebuah kesempatan ceramahnya. Dalam bahasa Melayu logat Malaysia, ia mengisahkan, ada seorang yang hendak pergi ke masjid untuk melaksanakan Shalat Subuh di masjid. Waktu itu hujan cukup deras, namu ia ingin bisa shalat berjamaah di masjid. Lalu, ia mengambil payung dan bergegas keluar rumah.

Akan tetapi, ketika baru sampai di teras rumah, ia terpeleset dan jatuh sehingga pakaiannya basah kuyup terkena air hujan. Lantas masuklah ia ke rumah dan berganti baju dengan yang kering. Ia tetap ingin pergi ke masjid untuk bisa shalat berjamaah. Maka ia kembali mengambil payung, bergegas keluar rumahnya dan berhati-hati, jangan sampai tepeleset lagi di tempat yang sama.

Ketika beberapa meter ia meninggalkan rumahnya, ia kembali terjatuh. Kali ini ada sebuah lubang di jalan yang tertutup air dan ia tidak melihatnya.  Pakaiannya pun kembali basah kuyub oleh air hujan. Lantas ia pun kembali ke rumah dan berganti baju lainnya. Sempat terbesit dalam hatinya, andai saja ia tidak memaksakan diri pergi ke masjid, mungkin tidak basah kuyup dan terjatuh dua kali. Namun kali ini, hati masih tetap ingin melaksanakan shalat berjamaah subuh di masjid.

Lalu, ia pun kembali bergegas menuju masjid. Ia berkata dalam hati, pakaian yang saat ini ia kenakan adalah pakaian kering terakhir yang bisa ia pakai hari itu. Kali ini, ia harus lebih berhati-hati agar tidak terjatuh yang ketiga kali. Maka ketika melewati teras rumah dan jalan yang berlubang tadi, ia memasang kewaspadaan ekstra.

Setelah menjelang beberapa meter dari pintu masjid, ia tersandung sebuah batu dan ia kembali terjatuh. Ketika tubuhnya hendak menyentuh tanah yang licin itu, tiba-tiba ada seseorang yang menangkap tubuhnya sehingga ia tidak sampai menyentuh air hujan. Ia pun merasa sangat beruntung telah ditolong dari musibah yang ketiga. Kemudian diantarlah ia oleh orang yang menolongnya sampai di pintu masjid dan selamatlah ia tidak sampai basah dan berganti baju lagi.

Sesampai di pintu masjid, ia merasa janggal karena orang yang menyelamatkannya tidak ikut masuk ke masjid, malah ia pergi meninggalkan masjid. Lalu, dipanggillah orang yang telah menolongnya itu, Wahai fulan, kenapa Engkau tidak ikut shalat berjamaah sini? Siapa namamu? Penolong  itu menjawab, “kamu tidak perlu tahu siapa aku. Sudah, sana shalat,” katanya.

Namun si fulan ini tetap ngotot dan berkata,” Demi Allah, beritahukan kepadaku siapa sebenarnya Engkau?”. Karena mendengar sumpah dengan nama Allah, akhirnya si penolong itu berkata kepada fulan. “Ketahuilah bahwa sesungguhnya aku adalah Syaitan,” ungkapnya. Fulan itu mencerca lagi,”Kenapa Engkau Syaitan menolong orang yang mau melaksanakan Shalat Subuh di masjid?,”.

Syaitan menjawab,” Ketahuilah bahwa ketika Engkau kembali ke rumah dan berganti baju karena terjatuh di teras rumahmu tadi, Allah mengampuni dosa-dosamu. Ketika Engkau kembali ke rumah lagi dan berganti baju karena terjatuh di lubang jalan tadi, Allah ampuni dosa-dosa anggota keluargamu. Dan, jika Engkau terjatuh lagi dan bajumu kembali basah, maka Allah akan ampuni dosa-dosa orang-orang di kampung ini. Aku tidak mau hal itu terjadi, maka ketika engkau jatuh, aku selamatkan Engkau,” ungkap Syaitan.

Rahmat Allah kepada Para Pendosa

۞ قُلْ يَٰعِبَادِىَ ٱلَّذِينَ أَسْرَفُوا۟ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا۟ مِن رَّحْمَةِ ٱللَّهِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يَغْفِرُ ٱلذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلْغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ

Katakanlah, “Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS Az-Zumar [39]: 53)

Allah Subhanahu wa Ta’ala selalu memberi kesempatan bagi orang-orang yang sering berbuat maksiat, melampaui batas, para pendosa untuk tidak berputus asa terhadap rahmat-Nya. Selagi hayat masih dikandung badan, selagi nafas masih belum sampai di tenggorokan, maka Allah akan tetap membuka lebar pintu kasih sayangNya kepada manusia untuk menggapai ramhatNya Yang Mahaluas sehingga ketika ia meninggal, kembali kepada Allah dengan berselimut rahmat, berbalut taubat.

Mari kita renungkan keadaan kita saat ini, jujur saja, setiap hari, banyak maksiat yang kita lakukan. Banyak perintah Allah yang kita abaikan, sementara sedikit sekali waktu kita untuk ibadah, berzikir dan membaca Al-Quran.

Setiap hari kita selalu menabung dosa, tapi justru Allah membalas dengan rahmat-Nya. Hingga saat ini, kita masih diperkenankan hidup. Udara segar di bumi ini masih bisa kita hirup. Bahkan, kita masih bisa menikmati berbagai berbagai fasilitas hidup. Dan selama semua itu masih ada pada diri manusia, pintu rahmat dan taubat tetap terbuka untuk hamba-hambaNya.

Kesempatan demi kesempatan masih saja Allah berikan agar kita menyadari kesalahan dan memperbaikinya. Jika dibandingkan dengan umat-umat terdahulu, mereka langsung merasakan azab ketika dosa dan kemaksiatan semakin merajalela. Keadaan kita hari ini masih lebih beruntung dari mereka. Sekali lagi, hal ini menandakan rahmat Allah Yang Mahaluas di atas murkaNya.

Beruntunglah kita menjadi ummat Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa salam karena terkabulnya doa beliau agar ummatnya tidak akan binasa karena kekeringan dan kelaparan. Ummatnya juga tidak akan bisa terkalahkan oleh musuh-musuhnya.

Dalam sebuah hadits, Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu berkata: “Tawanan perang tiba di hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tiba-tiba seorang wanita dari tawanan itu kebingungan mencari anaknya. Ketika anaknya berhasil ia temukan, ia menggendongnya, lalu mendekapnya, memelukannya dan menyusuinya. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada kami, “Apakah kalian mengira wanita akan tega melemparkan anaknya ke api? Kami menjawab, Tidak mungkin, meskipun dia mampu, ia tidak akan melemparkannya”. Lantas belau bersabda: “Sungguh Allah lebih menyanyangi hamba-hamba-Nya daripada wanita ini kepada anaknya,” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Kesimpulan

“Allah akan memberikan rahmat-Nya kepada orang-orang yang sungguh-sungguh memintanya. Karena itu, bersegeralah bertaubat dan meraih rahmat, ampunan dan kasih sayang-Nya.  Sebelum Malaikat Izrail mencabut nyawa, selagi nafas belum sampai di tenggorokan, marilah bersegera meniti jalan suci, menggapai Ridha Ilahi.”

Karena masuk surga dan menyelamatkanya dari api neraka tidak lain hanya karena Rahmat Allah Subhanahu Wataala. Dalam hadis Jabir bin Abdillah radhiyallahu’anhu disebutkan sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam,

لَا يُدْخِلُ أَحَدًا مِنْكُمْ عَمَلُهُ الْجَنَّةَ، وَلَا يُجِيرُهُ مِنَ النَّارِ، وَلَا أَنَا إِلَّا بِرَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ

Tidak ada amalan seorangpun yang bisa memasukkannya ke dalam surga, dan menyelematkannya dari neraka. Tidak juga denganku, kecuali dengan rahmat dari Allah” (HR. Muslim no. 2817).

Sementara dalam beberapa ayat diterangkan bahwa amalan adalah sebab seorang masuk surga. Seperti ayat berikut,

وَتِلْكَ الْجَنَّةُ الَّتِي أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

Itulah surga yang dikaruniakan untuk kalian, disebabkan amal sholeh kalian dahulu di dunia” (QS. Az-Zukhruf : 72).

وحور عِينٌ * كَأَمْثَالِ اللُّؤْلُؤِ الْمَكْنُونِ * جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Bidadari-bidadari surga berkulit putih bersih dan bermata indah. Bidadari -bidadari itu putih bersih bagaikan mutiara-mutiara yang bejejer rapi. Semua itu sebagai balasan bagi orang-orang mukmin atas amal sholih yang mereka kerjakan di dunia” (QS. Al-Waaqi’ah: 22-24). (A/R8/RS2). Wallahuwalam Bissowab

Dari berbagai sumber.

 

Mi’raj News Agency (MINA)