oleh: KH. Drs. Yakhsyallah Mansur, M.A.
بسم الله الرحمن الرحيم
Baca Juga: Kursi Tak Akan Dibawa Mati, Nasihat untuk Pemimpin Rakus Dunia
Dengan Nama Allah yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.
Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
يَآ أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَقُولُوا رَاعِنَا وَقُولُوا انظُرْنَا وَاسْمَعُوا وَلِلْكَافِرِينَ عَذَابٌ أَلِيمٌ / البقرة ]٢[: ١٠٤.
(Hai Orang-orang yang beriman janganah kamu katakan “Raa’ina” tetapi katakanlah “Undzurna” dan “dengarlah”. Dan bagi orang kafir siksaan yang pedih – Q.S. Al-Baqarah [2] :104)
Baca Juga: Ketika Sains Membenarkan Al-Qur’an: 7 Fakta Dunia Akan Berakhir
Menurut Ibnu Munzir, dari As-Sudi ayat ini turun berkenaan dengan orang Yahudi yang bernama Malik bin Saif dan Rifa’ah bin Zaid, apabila bertemu dengan Rasulullah Sahallallhu ‘Alaihi Wasallam mereka mengucapkan “رَاعِنَا سَمْعَكَ وَاسْمَعْ غَيْرَ مُسْمَعٍ” (perhatikanlah kami dengan sepenuh pendengaranmu dan dengarlah sedang sebenarya kamu tidak mendengar apa-apa, mudah mudahan kamu tuli).
Baca Juga: Zuhud, Seni Mengatur Dunia untuk Meraih Surga
Kaum muslimin mengira bahwa kalimat itu adalah ucapan ahli kitab (Yahudi) untuk menghormati nabi-nabinya, maka kaum musliminpun mengucapkan kalimat itu kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Kemudian Allah menurunkan ayat di atas sebagai larangan kepada kaum muslimin meniru ucapan orang Yahudi tersebut.
Kata “Raa’ina” (راعنا) adalah kata ambigu yaitu kata yang berarti ganda sehingga kadang-kadang menimbulkan keraguan, kekaburan, ketidak jelasan dan sebagainya. Kata “Raa’ina” (راعنا) dapat berarti Sudilah kiranya kamu memperhatikan kami dan apabila digumamkan dapat berarti kebodohan yang sangat.
Baca Juga: Syirik Tersembunyi: Musuh Iman yang Tak Terlihat tapi Mematikan
Ketika para sahabat menghadapkan kata-kata ini kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasalllam, Orang Yahudi memakai pula kata-kata ini dengan digumamkan seakan-akan mengucapkan “Raa’ina” padahal mereka mengucapkan “Ru’unnah” yang berarti kebodohan yang sangat, sebagai ejekan kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Olaeh karena itu, Allah menyuruh para sahabat menukar kata “Raa’ina” dengan “Undzurna” (أُنْظُرْنَا) yang sama artinya dengan “Raa’ina” tetapi dia memiliki arti yang lebih tegas dan tidak dapat diputar-putar untuk maksud yang buruk. Kata “Undzurna” (أُنْظُرْنَا) berarti perhatikanlah kami. Boleh memperhatikan dengan mata, dengan hati, yang penting tidak boleh lepas dari perhatikan dan bimbingan.
Walaupun secara tekstual ayat ini ditujukan kepada para sahabat tetapi ahli tafsir sepakat bahwa secara kontekstual ayat ini ditujukan kepada seluruh kaum muslimin.
Baca Juga: Karakteristik Hizbullah
Jangan Meniru Orang Yahudi
Melalui ayat ini Allah mengingatkan kepada kaum muslimin agar jangan meniru perbuatan orang kafir khususnya orang Yahudi dalam memilih dan menggunakan kata-kata. Tidak dipungkiri bahwa dalam rangka menghancurkan ummat Islam mereka menempuh berbagai macam cara termasuk menggunakan kalimat atau kata-kata untuk membuat istilah-istilah ambigu yang tampak indah tetapi sebenarnya bertentangan dengan ajaran Islam, seperti sekulerisasi, liberalisasi, pluralisme, partai, dan lain sebagainya. Istilah-istilah ini tidak dikenal dalam ajaran Islam.
Baca Juga: Lisanku Terjaga, Hatiku Bahagia: 10 Hikmah Dzikir yang Menyelamatkan
Senada dengan ayat di atas, Allah berfirman :
وَلاَ تَكُونُوا مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ () مِنَ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ ()/ الروم ]٣٠[: ٣١-٣٢.
( … dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang musyrik () Yaitu orang yang memecah belah agama mereka menjadi beberapa golongan. Setiap golongan mereka bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka () – Q.S. Ar- Rum : 31-32)
Baca Juga: Ketika Lobi Yahudi Mulai Rapuh
Dalam sebuah hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mengingatkan, “Sungguh kalian akan mengikuti jejak ummat sebelum kalian sejengkal demi sejengkal, sehingga kalau mereka masuk kedalam lubang biawak, niscaya kalian akan masuk ke dalamnya.” Para sahabat berkata “Wahai Rasulullah, apakah mereka kaum Yahudi dan Nasrani?” Beliau menjawab, “Siapa lagi?”. (H.R. Bukhari-Muslim).
Menghindari kalimat ambigu adalah salah satu ciri orang yang beriman kepada Allah, dan agar terhindar dari kalimat ambigu Allah Subhanahu Wa Ta’ala memberikan tuntunan kepada kita, apabila kita menggunakan kalimat hendaknya menggunakan bentuk-bentuk kalimat yang memiliki arti yang sesuai dengan ketentuan syari’at. Diantara bentuk-bentuk kalimat yang disyari’atkan oleh Allah tersebut antara lain adalah perkataan yang lurus dan benar. Sebagaimana firman Allah,
يَآ أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا () يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعِ اللهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا/ الأحزاب] ٣٣[: ٧٠-٧١.
Baca Juga: Jangan Remehkan Kekuatan Doa Orang-orang Lemah
(Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kamu kepada Allah. Dan katakanlah perkataan yang benar () Niscaya Allah akan memperbaiki amal-amalmu dan mengampuni dosa-dosamu. Dan barang siapa menaati Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh, dia menang dengan kemenangan yang agung () – Q.S. Al-Ahzab [33]:70-71)
“Qaulan Sadiidan” (قَوْلًا سَدِيدًا) menurut Ibnu Katsir adalah perkataan yang lurus, tidak bengkok, dan tidak menyimpang. Menurut Ikrimah adalah kalimat “Laa Ilaaha Illallah” (Tidak ada Tuhan Selain Allah). Sedang ulama yang lain berkata “Sadiid” adalah kejujuran. Jadi “Qaulan Sadiidan” adalah perkataan atau kalimat lurus dan apa adanya yang akan mengarahkan dan memimpin manusia menuju jalan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, ia bukan perkataan atau kalimat yang berbelit-belit yang bermakna ganda dan penuh dengan tipu muslihat yang menjerumuskan ke lembah kesengsaraan.
Baca Juga: Ketika Nabi Ibrahim Alaihi Salam di Palestina
Janji Allah SWT bagi yang jujur
Pada ayat ini Allah menjanjikan bahwa orang-orang yang menggunakan kalimat yang lurus dan tidak ambigu akan memperoleh dua hal :
- Diperbaiki perbuatannya dengan diberi taufiq untuk beramal shaleh, karena apabila orang menggunakan kalimat yang lurus maka akan membawa dampak bagi perbuatannya. Apabila seseorang perkataannya lurus maka perbuatannya akan lurus pula.
- Diampuni dosa-dosanya, karena amalnya telah baik berkat ucapannya yang baik maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Baca Juga: Tabligh Akbar Jawa Tengah 2025, Saatnya Umat Bersatu Hadapi Krisis Global dengan Ukhuwah Islamiyah
Memilih kata-kata yang baik merupakan cermin akhlaq manusia dalam pergaulannya dengan sesama manusia dalam kehidupan sehari-hari, apalagi dengan orang orang yang seharusnya dihormati seperti orang tua, guru, para ulama, bahkan kepada anak kecil sekalipun. Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah mengajarkan kesopanan dalam menggunakan kalimat melalui dialog Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam dan Nabi Ismail ‘Alaihissalam. Sebagaimana disebutkan dalam firman Allah.
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانظُرْ مَاذَا تَرَىٰ قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِن شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ / الصافات ]٣٧[ : ١٠٢.
(Maka ketika anak itu (Ismail) sampai pada umur sanggup berusaha bersamanya, (Ibrahim) berkata : “Wahai anakku! sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu?“. Dia (Ismail) menjawab, “Wahai Ayahku! lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insya Allah engkau mendapati aku termasuk orang yang sabar” – Q.S. As-Shaffat [37] :102)
Pada dialog ini Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam memanggil anaknya dengan kalimat يَا بُنَيَّ (anakku tersayang) bukan hanya يَا بَنِيْ (anakku) dan Nabi Ismail ‘Alaihissalam memanggil bapaknya dengan يَأَبَتِ (ayahku terhormat) bukan hanya dengan يَا أَبِى (ayahku).
Hal ini jauh berbeda dengan kesopanan Bani Israel yang berkata kepada Nabi Musa ‘Alaihis Salam dengan nada memerintah tanpa mengindahkan sopan santun sama sekali diantaranya mereka berkata:
قَالُوا ادْعُ لَنَا رَبَّكَ يُبَيِّن لَّنَا مَا هِيَ…./ البقرة ]٢[: ٦٨.
(Mereka berkata : “Mintalah kepada Tuhanmu untuk kami agar Dia menjelaskan kepada kami sapi betina macam apa yang Dia kehendaki untuk kami” – Q.S. Al-Baqarah [2]: 68)
Perkataan yang tidak mengindahkan sopan santun ini oleh Bani Israel bukan hanya ditujukan kepada Nabi Musa ‘Alaihis Salam saja tetapi juga kepa Nabi-nabi yang lain. Misalnya, Nabi Isa ‘Alaihis Salam mereka katakan sebagai anak zina karena lahir tanpa ayah, Nabi Nuh ‘Alaihis Salam mereka katakan sebagi pemabuk kemudian telanjang di depan umum (Kej. 20-21), Nabi Luth ‘Alaihissalam mereka katakan telah berzina dengan kedua putrinya (Kej. 30-18). Tuduhan-tuduhan ini mereka lakukan untuk menjatuhkan martabat para nabi padahal sebenarnya para Nabi tersebut bersih dari tuduhan-tuduhan tersebut.
Akhirnya ayat di atas ditutup dengan peringatan Allah bahwa apabila ummat Islam meniru orang kafir dengan menggunakan perkataan ambigu dan perkataan yang tidak mengindahkan kesopanan mereka akan mendapatkan siksa yang pedih di dunia dan di akhirat.
Oleh karena itu, marilah kita hindari kata-kata ambigu dan kurang pantas dalam pergaulan sehari-hari sehingga kita selamat dari siksaan yang pedih di dunia dan di akhirat seperti yang telah dan akan dialami oleh orang-orang Yahudi. Wallahu a’lam bisshawab
(T/YM/R-014/R-006)
Mi’raj News Agency (MINA)