Mengingat Intifada Palestina Pertama

Ramallah, MINA – Hari Ahad, 8 Desember 32 tahun lalu, yakni pada 1987  Intifada Palestina pertama pecah di seluruh Palestina yang diduduki.

Pemberontakan yang berlangsung selama lebih dari enam tahun dan telah menjadi saksi kematian ribuan warga Palestina oleh pasukan pendudukan Israel dan penahanan puluhan ribu, demikian WAFA melaporkan.

Pada 8 Desember 1987, seorang pemukim Israel yang dikenal bernama Herzel Boukiza menabrak kendaraannya ke pekerja Palestina yang pulang ke rumah melalui pos pemeriksaan Erez/Beit Hanoun antara Israel dan Gaza. Empat pekerja dari Jabalya dan Maghazi di Jalur Gaza tewas dalam serangan teror itu.

Hari berikutnya, setelah pemakaman empat syuhada, warga Palestina yang marah turun ke jalan di Jabalya untuk memprotes serangan yang direncanakan itu.

Ketika para pemimpin Palestina berkumpul untuk membahas situasi yang meningkat, protes dan bentrokan pecah di kamp-kamp pengungsi, menyebar dengan cepat di Tepi Barat dan Yerusalem Timur.

Orang-orang Palestina mengambil alih situasi, menghalangi jalan-jalan untuk mencegah masuknya kendaraan militer Israel. Sebagian besar tidak bersenjata, mereka membela diri hanya dengan melemparkan batu ke tentara dan tank Israel. Para pemilik toko menutup bisnis mereka dan buruh menolak untuk pergi ke tempat kerja mereka di wilayah-wilayah kekuasaan Israel.

Setelah enam tahun konfrontasi, tercatat Israel membunuh warga Palestina, total 1.550 orang, sementara lebih dari 70.000 terluka, antara 100.000 hingga 200.000 ditahan, di antara mereka lebih dari 18.000 ditahan di bawah penahanan administratif untuk waktu yang lama tanpa proses pengadilan.

“Batu Intifada” terhenti hanya setelah penandatanganan Kesepakatan Oslo Palestina-Israel pada September 1993 yang mengarah pada pembentukan Otoritas Palestina, dan yang memungkinkan ribuan Diaspora Palestina pulang ke rumah untuk pertama kalinya sejak mereka dipaksa keluar dari Palestina tahun 1948. (T/Ais/P2)

Mi’raj News Agency (MINA)