Mengkhawatirkan Pahala Ramadhan

Oleh Zaenal Muttaqin, wartawan MINA

Salah satu keberkahan bulan Ramadhan, selain dibukakan pintu-pintu surga, ditutupkan pintu-pintu neraka dan dibelenggunya syaitan, Allah Subhanahu Wa Ta’ala juga melipat gandakan pahala bagi setiap hamba yang beramal di bulan ini.

Hal itu merupakan karunia dari Allah untuk hamba-hamba-Nya, yang mesti disukuri dan dimanfaatkan sebaik-baiknya. Bukan sebaliknya yaitu hanya mengingat-ingat dan sibuk menghitung seakan dirinya sudah banyak mengumpulkan amal.

Semestinya kita khawatir, jangan-jangan nilai amal kita di sisi Allah justru tidak seperti angan-angan kita tersebut. Boleh jadi apa yang telah kita lakukan belum sesuai dengan harapan yang Allah Ta’ala kehendaki, masih banyak kekurangan sehingga amal kita tidak layak diterima.

Allah berfirman:

لَيْسَ بِأَمَانِيِّكُمْ وَلاَ أَمَانِيِّ أَهْلِ الْكِتَابِ مَنْ يَعْمَلْ سُوءًا يُجْزَ بِهِ وَلاَ يَجِدْ لَهُ مِنْ دُونِ اللهِ وَلِيًّا وَلاَ نَصِيرًا

“Pahala dari Allah bukanlah menurut angan-anganmu yang kosong. dan tidak pula menurut angan-angan Ahli Kitab. Barangsiapa mengerjakan kejahatan niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu dan ia tidak mendapat pelindung dan tidak pula penolong baginya selain Allah.” (QS. An Nisa’: 123)

Salah satu sifat orang mukmin adalah adanya kekhawatiran jika amal ibadahnya tidak diterima oleh Allah, sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya:

وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَى رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ

“Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan dengan hati yang takut, sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka.” (Al Mu’minun: 60)

As-Sa’di rahimahullah dalam kitab tafsirnya menyebutkan, bahwa maksud ayat tersebut adalah orang-orang yang melakukan shalat, zakat, haji dan sedekah serta amalan lainnya, namun hati mereka dalam keadaan takut. Mereka khawatir dengan amalan mereka ketika dihadapkan di hadapan Allah, bisa jadi amalan mereka tidak selamat dan malah mendapatkan siksa-Nya.

Aisyah Radhiyallahu ‘anha pernah bertanya kepada Nabi Sallallahu ‘alaihi wasallam mengenai ayat ini: “Wahai Rasulullah! Apakah yang dimaksudkan dalam ayat “Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut”, adalah orang yang berzina, mencuri dan meminum khomr?”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas menjawab:

لَا يَا بِنْتَ الصِّدِّيقِ، وَلَكِنَّهُمُ الَّذِينَ يُصَلُّونَ وَيَصُومُونَ وَيَتَصَدَّقُونَ، وَهُمْ يَخَافُونَ أَلَّا يُقْبَلَ مِنْهُمْ

“Bukan demikan wahai putri Ash Shidiq, yang dimaksud dalam ayat tersebut bukanlah seperti itu. Bahkan yang dimaksudkan dalam ayat tersebut adalah orang yang yang berpuasa, yang bersedekah dan yang shalat, namun ia khawatir amalannya tidak diterima.”

Adalah Fudholah bin ‘Ubaid, beliau mengatakan, “Seandainya aku mengetahui bahwa Allah menerima dariku satu amalan kebaikan sebesar biji saja, maka itu lebih kusukai dari pada dunia dan seisinya, karena Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ

“Sesungguhnya Allah hanya menerima (amalan) dari orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al Ma-idah: 27)

Setidaknya ada dua syarat utama yang menjadikan amal itu diterima atau tidaknya. Yaitu ikhlas karena Allah dan mengikuti tuntunan Nabi Sallallahu ‘alaihi wasallam. Jika salah satu syarat tidak terpenuhi, maka amalan ibadah menjadi tertolak. Cukup banyak ayat maupun hadis yang menjelaskannya, di antaranya firman Allah ta’ala:

فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

“Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya.” (QS. Al Kahfi: 110)

Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya menjelaskan, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh. Maksudnya adalah sesuai dengan syariat Allah (mengikuti petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, pen). Dan “janganlah ia mempersekutukan dengan seorang pun dalam beribadat kepada Tuhannya”, maksudnya selalu mengharap wajah Allah semata dan tidak berbuat syirik pada-Nya. Inilah dua rukun diterimanya ibadah, yaitu harus ikhlas karena Allah dan mengikuti petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Begitu pula halnya dengan amalan-amalan di bulan Ramadhan, bagaimana pun bentuk amalannya dan sebesar apapun itu, tidak akan berarti di sisi Allah ketika kita belum memenuhi kedua syarat di atas. Meskipun setiap amalan di bulan yang penuh berkah ini pahalanya telah dilipatgandakan oleh Allah Ta’ala.

Karena itu, Ramadhan tidak semata-mata hanya memperbanyak amal, namun kita juga butuh belajar dan terus belajar bagaimana memperbaiki kualitas amal ibadah kita. Agar apa yang telah kita kerjakan tidak sia-sia di sisi Allah ta’ala. Bukankah Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda:

رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الجُوْعُ وَالعَطَشُ

“Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar dan dahaga,”

Amal yang diterima oleh Allah, hanyalah amal yang ikhlas dan benar. Sementara kita tidak bisa menjamin, bahwa semua yang kita lakukan sudah ikhlas seperti yang diperintahkan, baik sebelum amal, ketika sedang beramal atau sesudah beramal. Maka tidak heran jika seorang ulama terdahulu mengatakan, “Ikhlas sesaat adalah kebahagiaan abadi, hanya saja, ikhlas itu berat”.

Keikhlasan itulah yang menjadikan ulama terdahulu selalu was-swas atau khawatir dengan amalannya sendiri; layakkah amalannya diterima atau malah berujung tanpa makna sedikitpun di sisi Allah.

Imam Hasan Al-Bashri berkata:

إِنَّ الْمُؤْمِنَ جَمَعَ إِحْسَانًا وَشَفَقَةً ، وَإِنَّ الْمُنَافِقَ جَمَعَ إِسَاءَةً وَأَمْنًا

“Seorang mukmin memadukan antara berbuat ihsan/kebaikan dengan rasa takut. Adapun orang kafir memadukan antara berbuat jelek/dosa dan rasa aman.”

Jika para sahabat dahulu begitu khawatir dengan amalan ibadahnya, bagaimana dengan kita? Bukankah kesungguhan dan keikhlasan mereka dalam beramal tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kita? Maka sudah sepantasnya kita lebih khawatir terhadap amalan kita sendiri dibandingkan dengan mereka.

Karenanya, selain memperbanyak amalan, marilah kita terus memperbaiki kualitas amal ibadah kita, baik kelurusannya maupun keikhlasannya. Walaahu a’lam. (A/B05/P1)

Dari banyak sumber.

Mi’raj News Agency (MINA)