Menguatkan Ketahanan Keluarga Saat Pandemi COVID-19 (Oleh: Prof. Euis Sunarti)

Bekerja dari rumah atau Work From Home (WFH) adalah langkah yang saat ini sebaiknya dilakukan, di tengah pendemi virus COVID-19. Wabah COVID-19 ini telah dinyatakan sebagai pandemi yang sangat membahayakan dan telah menyebar ke seluruh dunia termasuk Indonesia.

“Keluarga Indonesia dipaksa untuk menguatkan ketahanan keluarganya saat tantangan yang besar muncul yaitu pandemi virus COVID-19 yang semakin berat,” kata Guru Besar bidang Ketahanan dan Pemberdayaan Keluarga, Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen, Fakultas Ekologi Manusia IPB University,  Prof Dr Euis Sunarti, sebagaimana keterangan tertulis yang diterima MINA, Selasa (21/4).

Prof Euis mengatakan, ada tantangan-tantangan baru yang kini dihadapi oleh keluarga Indonesia. Virus COVID-19 menuntut kita untuk bisa menemukan solusi-solusi baru demi keselamatan keluarga dan bangsa.

Ketua Klaster Ketahanan Keluarga, Asosiasi Profesor Indonesia (API) in,i menjelaskan ada 13 tips dalam menguatkan ketahanan keluarga saat pandemi COVID-19 sebagai wahana berharga bagi keluarga, diantaranya:

  1. Menyegarkan, memperbaharui, reorientasi nilai, tujuan, makna dan ikatan keluarga.
  2. Meningkatkan fungsi agama dan pribadi yang religius; ketaatan dan kepatuhan menjalankan ajaran agama.
  3. Meningkatkan komunikasi dan interaksi dalam keluarga, mendorong ekspresi saling peduli, menjaga, dan melindungi keluarga agar tidak terpapar COVID-19.
  4. Mengatur ulang pengelolaan sumberdaya keluarga (waktu, finansial, pengetahuan-keterampilan, energi perhatian) disesuaikan dengan fokus tujuan keluarga selamat dari COVID-19.
  5. Memperbaharui keputusan keluarga (jika diperlukan), memilih sumber informasi terpercaya tentang COVID-19 sebagai dasar perubahan keputusan keputusan dalam keluarga.
  6. Internalisasi nilai dan keterampilan hidup dalam sistem keluarga, khususnya kepada anak dan generasi muda.
  7. Memelihara dan atau meningkatkan kesehatan dan kebugaran tubuh, dan tetap produktif di masa Work From Home (WFH) dan isolasi mandiri.
  8. Memprediksi dan mengenali tekanan-tekanan dan masalah yang muncul, dan mengelolanya serta menanggulanginya secara bijaksana dan efektif.
  9. Mengenali kerentanan dan potensi krisis keluarga dan mencegahnya supaya tidak menjadi krisis.
  10. Berinvestasi dalam proses membangun kelentingan keluarga sebagai bagian dari upaya meningkatkan kapasitas menurunkan risiko karena pandemik COVID-19.
  11. Meningkatkan kematangan kepribadian; memelihara, mengembangkan, dan menguatkan konsep diri, sikap, dan perilaku positif.
  12. Berpartisipasi secara aktif dalam upaya pemutusan penyebatan COVID-19, dan atau berkontribusi materi untuk membantu keluarga rentan dan pihak-pihak lain yang membutuhkan bantuan.
  13. Memperluas lingkungan yang dapat menjadi aset perlindungan keluarga (protective factor); mencari dukungan materi dan sosial (dari keluarga luas, teman, tetangga) jika keluarga membutuhkan bantuan.

“Selain itu, kita perlu juga menguatkan ketahanan keluarga saat pandemi COVID-19 dengan  pembagian peran dan fungsi keluarga yang baik. Pastikan semua sendi-sendi kehidupan berjalan dan semua kebutuhan terpenuhi dengan baik. Pembagian peran dan fungsi antara suami istri tidak otomatis menjadikan salah satu pihak lebih mulia dibandingkan yang lain,” ujarnya. (AK/R1/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)