Mengungkap Budidaya Ganja di Israel

SAFED, ISRAEL - MARCH 07: (ISRAEL OUT) A worker at a cannabis greenhouse at the growing facility of the Tikun Olam company on March 7, 2011 near the northern city of Safed, Israel. In conjunction with Israel's Health Ministry, Tikon Olam are currently distributing cannabis for medicinal purposes to over 1800 people in Israel. (Photo by Uriel Sinai/Getty Images)
Budidaya tanaman ganja di Israel. (vocativ)

Oleh Ali Farkhan Tsani, Redaktur Senior Mi’raj Islamic News Agency (MINA)

Dengan parit yang tertata rapi, dinding tinggi, dikelilingi kawat berduri, penjagaan bersenjata dan kamera keamanan pengintai (cctv), orang mengira tentu itu adalah sebuah pangkalan militer atau kamp tentara. Namun, siapa mengira itu adalah sebuah lokasi budidaya jenis tanaman ganja (mariyuana atau cannabis) di pinggiran desa Israel bagian utara.

Di tempat itulah terungkap sekitar 50.000 tanaman ganja dari 230 varietas yang tumbuh di perkebunan terbesar kedua di Israel, media setempat Arutz Sheva edisi 27 Maret 2016 mengungkap hal itu.

“Tanaman ganja tumbuh subur dan sangat baik dengan iklim rata-rata 300 hari terkena sinar matahari setiap tahunnya dan dengan tingkat kelembaban sempurna,” kata Tamir Gedo, Kepala BOL (Breath Of Life) Pharma, sebuah perusahaan yang disahkan oleh Kementerian Kesehatan Israel untuk membudidayakan dan mendistribusikan ganja bagi kepentingan medis.

Penggunaan ganja sebagai salah satu unsur narkoba sebelumnya disebut ilegal di negara Yahudi itu. Namun, dalam kurun waktu 10 tahun terakhir ini, dengan alasan medis untuk penggunaan terapi pengobatan, telah diizinkan bahkan didorong agar terus dikembangkan.

Tahun lalu, para dokter memberikan salah satu resepnya adalah bahan rempah ganja untuk sekitar 25.000 pasien yang menderita kanker, epilepsi, stres pasca-trauma dan penyakit degeneratif.

“Tujuannya memang bukan untuk menyembuhkan pasien, tetapi hanya untuk meringankan gejala sakit mereka,” demikian isi pernyataan dokter setempat.

Penggunaan ganja untuk warga Israel juga dianggap dapat meningkatkan kembali nafsu makan yang hilang, membantu dalam mengobati gangguan tidur serta mengatasi kecemasan pikiran.

Sejauh ini, Israel telah melakukan uji klinis terhadap manusia, lebih maju daripada di banyak negara lain. Pengusaha, investor dan peneliti pun semakin tertarik masuk ke jaringan bisnis ganja sebagai obat tersebut.

BOL (Breath Of Life) adalah yang ditunjuk pemerintah Israel mengunakan laboratorium rumah kaca untuk membubidayakan tanaman ganja, yang dipantau oleh perangkat lunak dan terkontrol dengan parameter biokimia.

Tumbuhan ganja yang mereka canangkan dengan alasan untuk keperluan medis itu, tetap dengan pengawasan yang cermat dari bahan aktif seperti tetrahydrocannabinol (THC), yang memberikan pengguna daya candu tinggi, dan tidak dianjurkan untuk semua pasien, terutama anak-anak.

“Dengan dukungan dan pelayanan dari kementerian kesehatan, kami telah membangun keahlian dalam uji klinis dan kami bisa berbagi dengan perusahaan di Amerika Serikat dan Eropa,” kata Tamir Gedo, Kepala BOL (Breath Of Life) Pharma.

Uji coba BOL Pharma telah dilakukan pada pasien dengan penyakit Crohn, yang ditandai dengan peradangan kronis pada usus, diare dan nyeri perut.

Namun, pihak pemerintah, menurutnya, tetap melarang untuk mengekspor tanaman ganja itu ke luar perbatasan, dan hanya berkonsentrasi untuk kepentingan agronomi, kesehatan dan teknologi, dengan harapan menjadi pusat dunia.

Universitas Ibrani salah satu perguruan tinggi bergengsi setempat belum lama ini membuka pusat penelitian ganja, bergabung dengan 19 tim lainnya dari berbagai lembaga akademis lokal.

Media lokal Ynet News edisi 27/3/2016 menyebutkan, sekitar 200 pelaku industri pun telah berkumpul di Tel Aviv bulan Maret ini dalam Canna Tech Meeting, sebuah konferensi internasional tentang pengembangan industri tanaman ganja. Beberapa produk terkait ganja pun dipamerkan termasuk rokok elektronik ganja, krim berbasis ganja dan salep dan obat ganja untuk mulut kering.

“Lihatlah apa yang terjadi dalam dua tahun terakhir, kemajuan luar biasa dari legalisasi ganja,” kata Saul Kaye, kepala inkubator Israel untuk industri ganja.

“Kami tidak akan melewatkan kesempatan ini, dan melihat apa yang ditandatangani investor di atas meja, kita merasa bahwa itu akan menjadi sangat besar”, ujar Kaye.

Pada bulan Januari, raksasa tembakau AS Philip Morris menginvestasikan dana 20 juta dolar AS (sekitar 266 miliar lebih) ke perusahaan Israel Syke, yang menghasilkan inhaler presisi untuk ganja medis.

Pada saat yang sama, perusahaan Israel Eybna mengumumkan bahwa ganja juga digunakan untuk senyawa organik terapi terisolasi tanpa bahan psikoaktif.

Rokok Ganja

Budidaya ganja legal di Israel, rupanya turut ‘menginspirasi’ sebuah perusahaan rokok terkenal di AS Marlboro, yang merencanakan produksi rokok ganja.

Ini seperti disebutkan Inqusitr News Whort Sharing pada 22 Januari 2016, bahwa industri rokok raksasa Marlboro akan menawarkan rokok ganja bermerk ‘Marlboro M’ di empat negara yang berbeda, di mana penggunaan ganja untuk rekreasi diperbolehkan. Marlboro dengan kotak hijau terang bergambar daun ganja pun siap memasuki pasar komersial.

Rokok itu menurut survei telah ditunggu oleh eksekutif muda. Namun perusahaan menunggu dan memantau pasar sebelum peluncurannya.

Presiden Pemasaran Marlboro, Serafin Norcik, dalam sebuah wawancara mengatakan bahwa perusahaan telah memantau pasar dalam beberapa waktu, terutama di Colorado dan Washington, AS.

Rokok ganja itu akan mulai diperjualbelikan dengan harga per bungkusnya 89 dolar AS (sekitar Rp1,2 juta).

Ganja (marijuana, cannabis) merupakan obat depresan karea mengandung THC (delta 9 tetrahidrokanibinol), salah satu dari 400 zat kimia yang ditemukan di dalam daun ganja yang dapat menyebabkan efek perubahan suasana hati. Karena itu, ganja disebut juga sebagai obat depresan sebab ganja dapat mempengaruhi sistem saraf dengan cara membuat lambat sistem saraf.

Penggunaan ganja sebagai bagian dari narkoba, kini sudah menjadi tren atau gaya hidup anak muda. Padahal di Indonesia ini merupakan salah satu obat terlarang yang penggunaannya serta peredarannya telah diatur oleh undang-undang.

Rokok ganja yang tidak lama lagi juga kemungkinan akan dapat menyerbu Indonesia, berpotensi meningkatkan pemakainya ke jenis lebih tinggi lagi, yaitu heroin atau morfin.

Tentu gejala ini harus diwaspadai oleh seluruh komponen bangsa dan masyarakat, agar jangan sampai serbuan ganja melalui berbagai cara, apalagi melalui memasukannya ke dalam rokok, masuk ke kalangan generasi muda dan anak-anak, juga orang tua. Jangan sampai, mereka yang menanam ganja, kita yang terkena akibatnya. Karena itu waspadalah! (P4/R02)

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)