Menhan Liberman: Israel Ambil Kesempatan Krisis Qatar

Menhan Israel Avigdor Liberman (Times of Israel)

Tel Aviv, 13 Ramadhan 1438/8 Juni 2017 (MINA) – Menteri Pertahanan Israel Avigdor Liberman mengatakan, krisis diplomatik antara beberapa negara Arab dengan Qatar telah menciptakan kesempatan bagi Israel untuk berkolaborasi dengan pihak lain di wilayah tersebut untuk memerangi terorisme.

“Krisis ini bukan karena Israel, bukan karena orang Yahudi, bukan karena Zionisme, tapi lebih pada ketakutan akan terorisme,” kata Liberman dalam pidato pada Sidang Pleno Parlemen Knesset, selama sesi tanya jawab satu jam, Senin (5/6), beberapa saat setelah pemutusan hubungan diplomatik di Kawasan Teluk.

“Tidak ada keraguan bahwa ini membuka banyak kemungkinan untuk berkolaborasi dalam perang melawan teror,” ujar Liberman dalam tanggapan resmi pertama pemerintah Israel terhadap serangan regional tersebut, Kantor Berita Islam MINA melaporkannya dari sumber The Times of Israel.

Israel selama memelihara kerjasama keamanan secara diam-diam dengan Arab Saudi dan negara-negara Teluk lainnya, dengan mengusung isu ketidakpercayaan terhadap Iran.

Qatar sendiri sebelumnya telah menyatakan keterbukaannya untuk mempertahankan hubungan dagang dengan Israel dan telah menjadi tuan rumah bagi pejabat Israel.

Namun, negara tersebut juga menjadi tuan rumah bagi pejabat tinggi kelompok Hamas, yang dicap “teroris” oleh Israel.

Sebuah laporan mengindikasikan, Doha akan meminta beberapa pemimpin Hamas untuk keluar dari Qatar, dengan alasan “tekanan eksternal”.

Pemimpin oposisi Israel Ishak Herzog juga menanggapi keretakan Qatar, dengan mendesak Israel untuk mendorong proses perdamaian regional segera.

“Sekarang negara-negara moderat telah memutuskan hubungan dari sebuah negara yang mendanai terorisme melawan dunia Barat dan Israel pada khususnya,” ujarnya.

“Sekarang juga saatnya untuk menunjukkan kepemimpinan menuju usaha regional yang berani,” kata Herzog.

Selama sidang di Parlemen Israel (Knesset), Liberman berpendapat bahwa kesepakatan Israel dengan negara-negara di Kawasan Teluk tidak boleh bergantung hanya pada penyelesaian konflik Israel-Palestina.

Dia juga tidak khawatir atas kesepakatan senjata besar antara Amerika Serikat dan Arab Saudi, dan menyatakan kepercayaan bahwa negara Yahudi akan terus meningkatkan jumlah militernya di wilayah tersebut.

Upaya untuk mengkondisikan hubungan antara Israel dan negara-negara Arab mengenai kenegaraan Palestina adalah “sebuah kesalahan,” kata Liberman, menunjuk pada perjanjian Israel dengan Mesir dan Yordania, yang independen terhadap konflik tersebut.

“Anda tidak harus mengkondisikan hubungan antara Israel dan negara moderat mengenai masalah Palestina,” katanya.
Trump telah memberi isyarat ketertarikannya untuk memulai kembali perundingan damai Israel-Palestina, sementara membuka “kesempatan langka” bagi Israel untuk membangun hubungan dengan negara-negara Arab.

Presiden AS itu menekankan bahwa negara-negara Arab sangat menginginkan kesepakatan damai Israel-Palestina.

Sementara Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu berpendapat, perdamaian dengan negara-negara Arab dan kekhawatiran mengenai Iran dapat mendahului resolusi dibandingkan Palestina. (T/RS2/R01)

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)