Menilik Harapan Warga Mesir Menduniakan Bahasa Indonesia

(Foto: dok. Pribadi)

Bahasa Indonesia semakin mendunia sejak ditetapkan sebagai bahasa resmi di sidang umum UNESCO pada November 2023 lalu.

Sementara itu, penyebaran  bahasa Indonesia lewat Program bahasa Indonesia bagi penutur asing (BIPA) tercatat pula di 54 negara salah satunya Mesir.

Program BIPA menjadi tren saat ini sebagai salah satu wadah untuk mewujudkan amanat Undang-undang Nomor 24 Tahun 2009 tentang meningkatkan fungsi bahasa Indonesia menjadi bahasa internasional.

Lantas bagaimana harapan warga asing dalam mempelajari bahasa Indonesia?

Sejak 2020, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi telah meluncurkan sebuah wadah kreatif bagi penutur asing yang pandai berbahasa Indonesia. Wadah ini dikenal dengan Festival Handai Indonesia (FHI).

Festival Handai Indonesia ini diselenggarakan setiap tahunnya, di antara lomba yang ada dalam festival ini adalah lomba menyanyi, lomba membaca puisi, lomba berkomedi tunggal, lomba bercerita, berpantun, reportase, lomba menulis surat dan musikalisasi puisi.

Setiap itu pula, selama empat tahun, Mesir kerap kali mengantongi gelar juara umum, mendominasi juara dari negara lainnya.

Saat ditanya bagaimana harapan mereka dalam mempelajari bahasa Indonesia? Jawaban mereka kompak!

Jika dilihat dari animo warga asing di dunia dalam mempelajari bahasa Indonesia, Mesir termasuk negara paling tinggi peminatnya,  namun kelas-kelas hingga kini masih terbatas.

Tak sedikit dari mereka yang telah fasih berbahasa Indonesia ingin menjadi guru bahasa Indonesia di negaranya mengingat kelas itu masih terbatas sementara keinginan dan semangat warga Mesir untuk mempelajari bahasa Indonesia terus meningkat setiap tahunnya.

Tak hanya sampai di situ, mereka yang fasih berbahasa Indonesia bahkan yang telah menyandang gelar juara 1 tingkat internasional dalam berbagai bidang lomba juga menginginkan adanya guru sastra atau pengiat sastra Indonesia untuk orang Mesir, karena menurut mereka belajar bahasa di kelas saja tidak cukup dan kadang monoton.

Baca Juga:  Ketua MPR Minta Pemerintah tak Terburu-buru Beri Bansos untuk Korban Judi Online

Memang sastra dan bahasa tidak dapat dipisahkan, mereka ingin ada kelas sastra khusus ,setara dengan pengajaran bahasa sehingga dapat meningkatkan bakat mereka dalam menulis dan membaca puisi,  pantun, bercerita, bermusikalisasi puisi, dan bakat lainnya.

Sebut saja, Noha Gharib, Mahasiswi S2 Pendidikan Seni, Universitas Negeri Yogyakarta.

Peraih juara 1 musikalisasi puisi pada FHI 2023 ini mengakui sangat penting memasukkan pengajaran kreativitas dalam bahasa Indonesia, sehingga sebelum Festival Handai Indonesia dibuka, murid-murid telah dibekali bakat khusus untuk menghadapi lomba.

Noha pun saat ditanya cita-cita ketika lulus, dia ingin membawa budaya Indonesia dan kesenian Indonesia ke Mesir, supaya Indonesia lebih dikenal seperti negara-negara lainnya. Indonesia sangat Indah, dan harus dikenal luas.

Hal serupa juga diutarakan Mariam Ashraf, wanita yang pernah juara 1 lomba cerita dan berkomedi tunggal dalam bahasa Indonesia ini berharap ada guru khusus untuk mengajarkan pengembangan bakat,  mengenalkan sastra Indonesia sehingga mereka tidak lagi mencari guru di luar kelas atau belajar mandiri.

Mariam kala itu menulis puisi kemerdekaan Indonesia dan viral hingga mendapatkan apresiasi dari Menteri Pendidikan dan Duta Besar Indonesia untuk Mesir, Mariam berlatih menulis puisi di luar kelas bahasa secara mandiri.

Begitu pula Fatimah Jamal, pernah juara 1 reportase dan juara 1 lomba pidato berbahasa Indonesia yang mengungkapkan harapannya bahwa murid-murid BIPA di Mesir harus memiliki guru sastra Indonesia, agar belajar bahasa Indonesia tidak membosankan dan monoton.

Harapan lain juga di sampaikan oleh Sara Mustafa, juara 1 tingkat dunia yang piawai bermain peran dan bercerita ini juga berharap dan siap menjadi guru teater,  guru bermain peran bagi murid-murid Mesir, ia mengaku penting memiliki guru yang beride kreatif,  inovatif sehingga murid-murid menjadi ikut kreatif pula. Marawan, juara 1 lomba reportase tingkat dunia 2023 lalu, juga turut berpendapat bahwa ia siap menjadi guru bahasa Indonesia atau mengajarkan ilmu reportase bagi murid-murid yang ingin berkecimpung di dunia reporter.

Baca Juga:  Amnesty: Mesir Deportasi Pengungsi Sudan Secara Tidak Sah

Hadirnya sastra pengajaran bahasa Indonesia memang penting adanya, hal ini dibenarkan oleh Devi Virhana sebagai pegiat sastra bagi pemelajar BIPA,  khususnya bagi warga Mesir.

Sejak 2019 dirinya aktif menjadi teman sastra dan pengembangan bakat bagi pemelajar BIPA Mesir, bahkan menemani mereka dalam mempersiapkan diri mengikuti Festival Handai Indonesia baik untuk lomba menyanyi, berkomedi tunggal,  berpuisi, musikalisasi puisi, bercerita, berpantun, dan lainnya hingga mereka meraih gelar juara dunia.

“Ya, Saya sudah membaca curhatan teman-teman Saya di Mesir, sastra memang sangat penting bagi pengajaran bahasa Indonesia,  jika tidak ada kelas khusus untuk sastra,  belajar bahasa akan sangat membosankan, alhamdulillah selama ini mereka aktif berlatih, mau mencoba, tiba-tiba masuk final dan juara,” ungkap perempuan berdarah Minang ini.

Lebih lanjut, bagaimana metode pengajaran yang ia berikan, pegiat sastra yang juga telah mengenalkan bahasa Indonesia ke 15 negara ini mengaku menggunakan metode “Fun Class”, tidak berfokus pada teori-teori saja, tetapi juga memberikan peluang bagi siswa BIPA untuk mengeksplorasi nilai-nilai yang ada dalam sastra tersebut, dan menjadikan mereka lebih kreatif dan eksploratif.

“Misalnya lomba reportase atau membaca berita,  saya mengirim contoh suara dan intonasi lalu meminta mereka mengulang,  bagaimana mimik wajah, mereka terus mencoba hingga benar-benar seperti news anchor. Lomba berpuisi atau musikalisasi,  Saya memberikan kesempatan pada mereka untuk benar-benar paham makna dari diksi tersebut, menggunakan google misalnya, setelah paham makna baru menguasai intonasi dan mimik wajah,” kata Devi.

Baca Juga:  12 Tentara Israel Terluka dalam 24 Jam Terakhir di Gaza

Lebih lanjut, perempuan yang suka berkecimpung di bidang seni dan sastra ini juga melihat harapan yang lain dari pemelajar BIPA Mesir, mereka yang sudah fasih berbahasa Indonesia ingin pemerintah Indonesia menghimpun warga asing yang bisa berbahasa Indonesia untuk menjadi guru di negaranya, membantu penyebaran bahasa Indonesia.

Sehingga, tidak hanya orang Indonesia tetapi pemerintah Indonesia harus  memberdayakan orang asing yang fasih berbahasa Indonesia untuk menjadi guru bahasa Indonesia dan membantu pengembangan bakat murid-murid lainnya.

“Saya pikir mereka yang sudah punya bakat reporter, berpuisi, bercerita, musikalisasi puisi dan lainnya perlu didukung untuk menjadi pegiat sastra, pegiat seni di negaranya, membuat konten-konten kreatif, sebagai bukti bahwa bahasa Indonesia telah diaplikasikan dalam bentuk karya nyata jadi tidak hanya di kelas saja,” tegas Devi.

“Kalau ada acara-acara, pemerintah kita bisa mengundang anak BIPA berbakat untuk mengisi acara, mereka keren-keren, dan pasti lebih unik jika orang asing tampil berbahasa Indonesia,” tambahnya.

Dalam wawancaranya bersama Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, E. Aminudin Aziz pada sebuah siniar tonton di sini: https://youtu.be/CGYzqYxrZlE?si=sLxwbXnS-pPVOPd_

Devi sempat mempertanyakan bagaimana langkah pemerintah dalam memberdayakan warga asing yang fasih berbahasa Indonesia, apakah ada peluang karir bagi mereka menjadi guru bahasa Indonesia di negaranya, lantas apakah akan kelas sastra bagi orang asing?

Aminudin mengaku tengah mempersiapkan program tersebut untuk menjawab harapan warga asing yang fasih berbahasa Indonesia, khususnya dalam bidang karir,  ini sangat berpeluang bagi orang asing.

Semoga harapan tersebut segera terealisasi, dan animo warga asing di berbagai belahan dunia akan terus meningkat dalam mempelajari bahasa Indonesia jika adanya peluang karir dan dukungan berkarya bagi mereka yang fasih berbahasa Indonesia.[]

 

Mi’raj News Agency (MINA)

Wartawan: Rana Setiawan

Editor: Widi Kusnadi