Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Meniti Jalan Ahlul Qur’an: Menggapai Derajat Mulia

Bahron Ansori Editor : Widi Kusnadi - 2 menit yang lalu

2 menit yang lalu

4 Views

Ilustrasi

DALAM tradisi Islam, Ahlul Qur’an merujuk kepada mereka yang senantiasa membaca, menghafal, memahami, dan mengamalkan Al-Qur’an. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya Allah memiliki keluarga dari kalangan manusia.” Para sahabat bertanya, “Siapakah mereka, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Mereka adalah Ahlul Qur’an, mereka adalah keluarga Allah dan orang-orang pilihan-Nya.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah). Hadis ini menegaskan keutamaan tinggi yang diberikan kepada para pencinta dan pengamal Al-Qur’an.

Orang yang menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup akan diangkat derajatnya oleh Allah, sebagaimana dalam firman-Nya, “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (Qs. Al-Mujadilah: 11). Mereka bukan hanya dimuliakan di dunia melalui akhlak dan kebaikannya, namun juga akan memperoleh tempat terhormat di akhirat.

Menurut data dari Kementerian Agama RI tahun 2023, terdapat lebih dari 30.000 pesantren tahfidz di seluruh Indonesia dengan ratusan ribu santri penghafal Al-Qur’an. Santri-santri ini bukan hanya menguasai ilmu agama, tetapi juga aktif dalam berbagai bidang sosial, pendidikan, dan ekonomi. Ini membuktikan bahwa Al-Qur’an mampu mengangkat derajat sosial dan peran individu dalam masyarakat.

Ahlul Qur’an biasanya memiliki akhlak yang tinggi karena selalu berinteraksi dengan firman Allah yang penuh dengan nilai moral dan spiritual. Sebuah studi yang dilakukan oleh Universitas Islam Madinah menunjukkan bahwa pelajar yang rutin membaca dan mengkaji Al-Qur’an memiliki tingkat empati, disiplin, dan kontrol diri yang lebih tinggi dibandingkan kelompok yang tidak.

Baca Juga: Ahlul Qur’an: Mencintai, Menghafal, dan Mengamalkan

Sebuah penelitian oleh Universitas Gadjah Mada (2022) mengungkapkan bahwa para penghafal Al-Qur’an memiliki tingkat stres lebih rendah dan ketahanan mental lebih tinggi, terutama saat menghadapi tekanan akademik atau kehidupan sosial. Ini menunjukkan bahwa interaksi yang intens dengan Al-Qur’an memberi dampak psikologis positif yang nyata.

Dalam hadis riwayat Abu Daud, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda bahwa orang tua dari penghafal Al-Qur’an akan diberikan mahkota cahaya di akhirat karena kemuliaan anaknya. Ini menegaskan bahwa usaha menjadi Ahlul Qur’an tidak hanya mengangkat dirinya, tetapi juga memberikan keberkahan bagi keluarga dan orang tua.

Beberapa penelitian neurologi dari Universitas King Saud di Arab Saudi menunjukkan bahwa proses menghafal Al-Qur’an secara konsisten mampu meningkatkan daya kerja otak, khususnya memori jangka panjang dan kemampuan analitis. Hal ini dibuktikan dari peningkatan aktivitas neuron pada lobus frontal otak penghafal Al-Qur’an.

Ahlul Qur’an tidak berhenti pada menghafal dan memahami, tetapi juga menyampaikan kebenaran Al-Qur’an kepada umat. Mereka menjadi agen dakwah yang merefleksikan ajaran Islam secara hikmah dan akhlak. Program tahfidz yang berkembang saat ini, seperti Rumah Qur’an dan komunitas ODOJ (One Day One Juz), merupakan bentuk transformasi sosial berbasis Al-Qur’an.

Baca Juga: Menggapai Keutamaan Ahlul Qur’an di Era Modern

Ahlul Qur’an juga memiliki tanggung jawab ilmiah untuk memahami tafsir dan konteks ayat-ayat secara mendalam. Tanpa pemahaman yang benar, interaksi dengan Al-Qur’an bisa menyesatkan. Oleh karena itu, para ulama menekankan pentingnya belajar tafsir dan ilmu alat seperti nahwu, sharaf, dan ushul fiqh bagi para penghafal Qur’an.

Di tengah arus informasi digital yang masif, Ahlul Qur’an memiliki peran penting dalam menjaga kemurnian ajaran Islam. Mereka harus mampu memanfaatkan teknologi untuk menyebarkan nilai Qur’ani dan melindungi umat dari hoaks, radikalisme, dan pemikiran menyimpang yang sering tersebar di media sosial.

Dalam banyak komunitas Muslim, para Ahlul Qur’an mendapat kedudukan yang dihormati. Misalnya dalam pelaksanaan shalat berjamaah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menegaskan bahwa yang paling berhak menjadi imam adalah yang paling banyak hafalannya. Ini merupakan bentuk penghormatan syar’i terhadap kedudukan mereka.

Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Agama telah mendorong pembentukan program Satu Desa Satu Hafizh yang bertujuan mencetak minimal satu penghafal Qur’an di setiap desa. Ini merupakan langkah strategis dalam membangun masyarakat Qur’ani dari akar rumput dan memberi dampak spiritual pada pembangunan nasional.

Baca Juga: Ayah sebagai Teladan: Menginspirasi Generasi Berikutnya

Menjadi Ahlul Qur’an memerlukan proses panjang, disiplin, dan keistiqamahan. Ini merupakan bagian dari perjuangan menuju derajat mulia. Dalam QS. Al-Furqan: 32, Allah menyebutkan bahwa Al-Qur’an diturunkan secara berangsur agar tertanam dalam hati dan diamalkan secara perlahan, menandakan pentingnya proses bertahap dan kesabaran dalam meniti jalan ini.

Di tengah krisis moral dan nilai yang melanda dunia modern, Al-Qur’an menjadi cahaya yang menuntun manusia menuju kehidupan yang lurus. Mereka yang berpegang teguh pada Al-Qur’an akan tetap istiqamah meski berada dalam arus zaman yang memudar. Ini yang menjadikan Ahlul Qur’an memiliki daya tahan moral dan spiritual yang kuat.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Ulama adalah pewaris para nabi.” (HR. Tirmidzi). Ulama yang dimaksud termasuk mereka yang mendalami dan mengamalkan Al-Qur’an. Maka, meniti jalan Ahlul Qur’an sejatinya adalah mengikuti jejak para Nabi, membawa misi suci untuk menyampaikan wahyu, membina umat, dan menggapai derajat mulia yang dijanjikan Allah Ta’ala.

Baca Juga: Sejarah Masjid Al-Aqsa: Kiblat Pertama Umat Islam

Rekomendasi untuk Anda